Angkat Sastra Lisan Jalan Jawa, Studio Klampisan Libatkan Warga Lokal sebagai Aktor

Iqbal Al Fardi
Sunday, 16 Oct 2022 06:16 WIB

SUTRADARA: Abi saat menyutradarai warga lokal di panggung terbuka Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unej.
Studio Klampisan adalah organisasi nonprofit yang menggandrungi bidang kesenian. Organisasi tersebut beberapa kali lolos dalam program kesenian. Terbaru, mereka lolos dalam program Open Call (Panggilan Terbuka) Community Project Jakarta International Literary Festival (JILF) 2022 gagasan Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Agenda yang mereka bawakan berbentuk pertunjukan teater bertajuk “Arsitektur Kebisingan” berkerja sama dengan teater Gelanggang.
--------------------
APA jadinya jika sebuah pementasan teater diisi oleh aktor yang bukan “aktor”? Studio Klampisan bersama teater Gelanggang menciptakan pementasan dengan melibatkan pelaku-pelaku lapangan, seperti halnya tukang parkir sebagai aktor panggung. Apa lagi bentuk teater yang mereka bawakan bukan kategori konvensional.
Kala itu, terlihat sekelompok orang sedang melakukan pengadeganan di panggung terbuka yang terletak pada bagian belakang Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unej. Kegiatan serupa sudah tidak asing digelar di lingkungan FIB Unej. Beda halnya ketika beberapa dari mereka berasal dari generasi Baby Boomer.
Tujuh orang sepuh itu bukan berperan sebagai kru, melainkan aktor panggung. Seorang yang masih cukup muda terlihat berusaha mengarahkan adegan. Ia adalah pendiri dan direktur kreatif Studio Klampisan Abi Muhammad Latif yang juga berperan sebagai sutradara sekaligus produser dari “Arsitektur Kebisingan”.
Tidak mudah untuk melibatkan masyarakat tanpa pengetahuan dan pengalaman panggung dalam pementasan. Abi pun mengamini hal tersebut. “Kesulitan yang kami hadapi ialah bagaimana melalui langkah etik dan santun, karena hidup di Indonesia,” ungkapnya kepada tadatodays.com yang juga menjadi sutradara sekaligus produser “Arsitektur Kebisingan”, Jumat (14/10/2022) malam.
Apalagi, Abi harus menghadapi aktornya yang berasal dari masyarakat sekitar itu.
Di lain sisi, ia juga perlu untuk menyutradarai 7 aktor yang sudah sepuh tersebut. “Sebagai sutradara dan produser, aku tidak bisa seenaknya memberi arahan kepada mereka tentang harus apa, menghapal apa, untuk bergerak apa,” jelasnya.
Kesulitan tidak Abi rasakan sendiri. Salah seorang aktor, Jalal, juga merasakan hal serupa. Sehari-harinya, Jalal menjadi keamanan di jalan Jawa. Ia kerap akrab disebut oleh mahasiswa sebagai “pak teng-teng”. Sebab setiap malamnya, Jalal harus mengitari jalan Jawa untuk keamanan dan memukul tiang yang berbunyi “teng-teng” tersebut. “Ya, sulit untuk kita nyambung. Karena apa, kita masih mencari solusi, begitu,” kata pria yang sudah berumur 74 tahun.

Terlihat di beberapa adegan, beberapa kru pembantu menggunakan sepeda motor sebagai bagian dari properti panggung. Kuda besi tersebut mengitari aktor. Di pojok bagian kiri panggung, cahaya proyektor menembak tembok panggung terbuka dengan gambar serupa denah jalan Jawa.
Pada potongan adegan lainnya, empat aktor tampak menjajalkan “arsipnya”. Keempat aktor tersebut memiliki arsip berbeda-beda berdasarkan profesi dan pengalaman mereka. Mereka duduk beralaskan fliyer apa yang mereka tawarkan kepada penonton nantinya yang pada saat itu disimulasikan oleh beberapa kru.
Selanjutnya, Abi menjelaskan ia mengangkat dinamika sastra lisan di jalan Jawa dalam proyeknya. Pihaknya berusaha mengelaborasi dinamika tersebut dengan pertunjukan dokumenter, side specific performance dan arsitektur partisipatif. “Kami elaborasikan dinamika sastra lisan tersebut dengan dengan pertunjukan,” jelasnya.
Terkait subjek riset dan performanya, Abi mengatakan bahwa pihaknya memilih warga lokal dan pekerja pendatang di jalan Jawa. Orang-orang yang sudah Abi pilih akan menceritakan tentang ingatan mereka mengenai dinamika sastra lisan di jalan Jawa. “Ada warga lokal (jalan, red) Jawa 7, Jawa 6, pedagang warung lesehan, juru parkir dari Dishub maupun swasta,” ungkapnya.
Hal tersebut tampak saat ada seorang dari aktor mengenakan pisau. Aktor dengan rambut gondrong tersebut terlihat beradegan mengayunkan pisaunya dengan lihai bak pendekar. Ia juga bersiap untuk bonceng ke salah seorang kru serta mendapatkan arahan dari Abi dengan gurauannya. “Tusuk sedikit itu hehehe,” gurau Abi.
Adapun dinamika yang pihaknya temukan selama riset di antaranya mengenai jalan Jawa yang pernah disebut sebagai tanah emas, negara binik (perempuan) sebab jalan tersebut penuh dengan negosiator, dan lainnya. “Kami temukan bahwa jalan Jawa pernah disebut sebagai tanah emas dan negara binik,” katanya.
Terkait risetnya, Abi melakukannya selama dua bulan. Hal itu meliputi perencanaan, riset secara daring hingga lapangan. “Di lapangan, kami harus bertanya dulu kepada alumni Unej dan warga Jember yang mengetahui jalan Jawa hingga bisa mengakses subjek-subjek riset di jalan Jawa,” terangnya.
Selain itu, pihaknya juga akan menampilkan video, audio serta tulisan testimoni berdasarkan warga lokal dan pekerja di jalan Jawa. “Akan kami tampilkan juga video, audio dan tulisan testimony,” pungkasnya.
Studio Klampisan bekerja sama dengan Gelanggang akan menghelat pementasan “Arsitektur Kebisingan” pada Rabu, 19 Oktoberf 2022, di jalan Jawa dan panggung terbuka FIB Unej. Seperti apa bentuk penampilan mereka, datang dan saksikan di tanggal yang telah ditetapkan. (iaf/why)
.jpg)


Share to
 (lp).jpg)