Usman Afandi


Wartawan Tadatodays.com | 2021-02-02 20:08:21

Atap Stasiun Kalisetail Porak-poranda Diterjang Angin

DITERJANG: Kondisi atap peron di Stasiun Kalisetai yang roboh paca diterjang angin kencang.

BANYUWANGI, TADATODAYS. COM - Hujan lebat disertai angin kencang yang mengguyur wilayah Kecamatan Sempu, Kabupaten Banyuwangi, Selasa, (02/2/2021), membuat atap bangunan di Stasiun Kereta Api (KA) Kalisetai, roboh.

Humas KAI Daerah Oprasi (Daop) 9, Raditya Mahardika saat dihubungi tadatodays.com, membenarkan kejadian tersebut. Ia mengatakan, kejadian itu sekitar pukul 13.00 WIB, saat hujan mengguyur bersamaan dengan angin kencang.  “Peron roboh, " ujar Radit, Selasa sore.

Baca Juga : Vaksinasi Tahap Dua di Banyuwangi Segera Dilakukan

Ia melanjutkan, pihaknya sudah menyingkirkan puing-puing atap yang roboh. Kendati demikian, proses pembersihan itu mempengaruhi pelayanan penumpang KA."Pelayanan berjalan normal, dan berada di dalam ruang tunggu,” katanya.

Baca Juga : KPU Tetapkan Cabup-Cawabup Banyuwangi Terpilih

Radit memastikan, kejadian tersebut tidak ada korban luka maupun korban jiwa.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Banyuwangi mengimbau agar masyarakat Banyuwangi mewaspadai adanya potensi cuaca ekstrem. Seperti, hujan dengan intensitas tinggi dan angin kencang yang diperkirakan terjadi dalam kurun waktu tiga hari ke depan.

Prakirawan BMKG Banyuwangi, Gigik Nurbaskorota, mengatakan cuaca ekstrem itu bisa menyebabkan tanah longsor di dataran tinggi, sedangkan di dataran rendah dan di dekat aliran sungai bisa berpotensi banjir. “Untuk itu perlu diwaspadai," ujar Gigik.

Ia menjelaskan, penyebab cuaca ekstrem saat ini dikarenakan ada tekanan rendah di wilayah Australia. Kondisi itu dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar wilayah sirkulasi, dan di sepanjang daerah konvergensi tersebut. Tak terkecuali di wilayah Jawa Timur, termasuk Banyuwangi.

Gigit menambahkan, konvergensi merupakan pertemuan angin dari belahan bumi utara dan selatan bertemu di wilayah Indonesia. Kondisi itu bisa menambah pertumbuhan awan yang dapat menghasilkan curah hujan. “Dikenal dengan ITCZ (Intertropical Convergence Zone), daerah konvergensi di khatulistiwa," katanya. (usm/don)