Atasi Kekurangan Dokter Spesialis, RSUD Soebandi Buka Pendidikan Dokter Mulai Desember

Dwi Sugesti Megamuslimah
Dwi Sugesti Megamuslimah

Sabtu, 25 Apr 2026 05:23 WIB

Atasi Kekurangan Dokter Spesialis, RSUD Soebandi Buka Pendidikan Dokter Mulai Desember

Plt Direktur RSUD dr Soebandi Jember dr I Nyoman Semita

JEMBER, TADATODAYS.COM - Status baru RSUD dr. Soebandi sebagai rumah sakit penyelenggara pendidikan berbasis hospital base mulai memasuki tahap teknis. Rekrutmen calon dokter spesialis ditargetkan mulai berjalan pada akhir 2026.

Bupati Jember Muhammad Fawait menyebut, penetapan ini menjadi bukti perbaikan layanan di RS milik Pemkab Jember tersebut sekaligus membuka babak baru dalam penguatan sektor kesehatan daerah. “Subandi sudah on the track dan kini dipercaya menjadi rumah sakit pendidikan. Ini langkah besar,” ujarnya saat acara Pro Gus'e pada Kamis (23/4/2026) malam.

Terpisah, Plt Direktur RSUD dr. Soebandi, dr I Nyoman Semita, menjelaskan bahwa skema hospital base memungkinkan rumah sakit menyelenggarakan pendidikan dokter spesialis secara mandiri.

“Bahasa awamnya, ini pendidikan spesialis atau PPDS. Bedanya, kalau dulu berbasis kampus, sekarang rumah sakit juga bisa ‘punya kampus’ sendiri,” katanya.

Menurutnya, kebijakan ini lahir dari persoalan klasik kesehatan di Indonesia yakni kekurangan dan distribusi dokter spesialis yang belum merata. Karena itu, pemerintah mendorong rumah sakit ikut mencetak tenaga medis. “Tidak hanya kampus yang menghasilkan spesialis, rumah sakit juga harus ambil peran,” ujarnya saat dikonfirmasi pada Jumat (24/4/ 2026) sore.

Ia menambahkan, proses rekrutmen peserta didik akan dilakukan langsung oleh rumah sakit dengan standar nasional. Sistemnya bersifat otonom, meski tetap mengacu pada pedoman dari pemerintah pusat.

Program pendidikan direncanakan mulai Desember 2026. Namun, jumlah peserta masih dalam tahap penghitungan, menyesuaikan kapasitas rumah sakit.

“Kita hitung dulu jumlah tempat tidur, dokter pengajar, ruang operasi, hingga kasusnya. Jangan sampai peserta didik berebut pasien dan pelayanan terganggu,” tegasnya.

Untuk tahap awal, kata dia, program yang disiapkan adalah spesialis ortopedi, disusul pediatri dan kardiologi. Masa pendidikan berlangsung sekitar 4,5 tahun dengan skema kontrak.

Peserta juga akan mendapatkan imbal jasa selama menjalani pendidikan, meski besarannya masih dalam proses finalisasi.

Dokter Nyoman menekankan, pengembangan fungsi pendidikan tidak boleh mengorbankan layanan pasien. “Kualitas pelayanan tetap nomor satu. Keselamatan pasien tidak bisa ditawar,” katanya.

Dengan skema ini, RS Subandi tidak hanya berperan sebagai tempat layanan, tetapi juga pusat produksi tenaga dokter spesialis di daerah. (dsm/why)


Share to