Ater-Ater Lebaran: Tradisi Lama yang Kini Mulai Terdesak Budaya Digital

Dwi Sugesti Megamuslimah
Dwi Sugesti Megamuslimah

Thursday, 19 Mar 2026 13:01 WIB

Ater-Ater Lebaran: Tradisi Lama yang Kini Mulai Terdesak Budaya Digital

Rantang ater-ater. (shutterstock: Rubiyanto)

JEMBER, TADATODAYS.COM - Menjelang Idul Fitri, sebagian masyarakat Jawa dan Madura masih mempertahankan tradisi ater-ater, yakni saling mengirim makanan kepada tetangga atau kerabat. Biasanya makanan itu dibawa menggunakan rantang atau wadah bertingkat dan diantar langsung dari rumah ke rumah.

Namun di tengah perkembangan zaman, tradisi yang sarat makna sosial ini mulai mengalami perubahan. Pakar komunikasi Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, Dr Kun Wasiz, melihat praktik ater-ater tidak lagi sekuat dulu, terutama di wilayah perkotaan.

Menurut Kun, tradisi tersebut sebenarnya lahir dari pertemuan antara budaya gotong-royong masyarakat Nusantara dan nilai silaturahmi dalam Islam.

“Kalau saya melihatnya ini perjuangan budaya. Di satu sisi ada budaya gotong-royong yang memang sudah lama hidup di masyarakat Indonesia. Lalu ketika bertemu dengan nilai Islam, terutama silaturahmi, akhirnya membentuk pola tradisi seperti ater-ater itu,” ujarnya kepada Tadatodays.com

Ia menjelaskan, dalam perspektif antropologi budaya, sebuah tradisi biasanya bermula dari gagasan atau pemikiran tokoh masyarakat, baik ulama, sesepuh, maupun orang yang dihormati.

Gagasan itu kemudian diikuti oleh masyarakat dan lama-kelamaan membentuk pola yang diwariskan secara turun-temurun. “Awalnya bisa dari ide seorang tokoh atau ulama. Ketika ide itu diterima masyarakat, lalu dilakukan berulang-ulang, akhirnya menjadi tradisi,” katanya.

Dr Kun Wasiz, Pakar Komunikasi UIN KHAS Jembe.

Dalam praktiknya, tradisi ater-ater juga memiliki simbol atau wujud benda yang disebut artefak budaya. Salah satunya adalah rantang, wadah makanan bertingkat yang lazim digunakan masyarakat Jawa dan Madura.

Kun menuturkan, penggunaan rantang tidak hanya muncul saat Lebaran, tetapi juga dalam berbagai momen seperti tasyakuran, Maulid Nabi, atau hajatan keluarga.

“Rantang itu artefak budaya. Di Madura hampir semua keluarga punya. Di Jawa juga sama. Biasanya dipakai untuk mengirim makanan saat ada momen tertentu,” jelasnya.

Menariknya, kata dia, ornamen pada rantang sering kali menunjukkan identitas budaya lokal. Motif Jawa atau bentuk tradisionalnya menandakan bahwa tradisi tersebut berasal dari budaya Nusantara, bukan semata-mata simbol keagamaan.

“Kalau kita lihat rantang kuno misalnya, motifnya motif Jawa. Jadi identitas budayanya tetap terlihat,” tambahnya.

Dosen Pasca Sarjana dengan bidang kajian Komunikasi Massa itu meyakini, tradisi saling berbagi makanan itu telah berlangsung sejak lama. Bahkan kemungkinan besar sudah ada sejak masa kerajaan Nusantara sebelum kedatangan Islam.

Ketika Islam datang, nilai-nilai seperti sedekah dan silaturahmi kemudian memperkuat praktik tersebut. Tradisi itu juga berkembang kuat di lingkungan pesantren. Ia mencontohkan beberapa pesantren tua di Jawa Timur yang sudah lama mempraktikkan budaya saling mengirim makanan.

“Di pesantren-pesantren lama seperti Sidogiri yang berdiri sekitar abad ke-18, tradisi saling ater-ater sudah biasa dilakukan, baik antara wali santri maupun masyarakat sekitar,” ujarnya.

Meski demikian, Kun mengakui intensitas tradisi ater-ater saat ini mulai menurun dibandingkan beberapa dekade lalu. Ia mengingat masa kuliahnya di Jember pada awal 1990-an, ketika tradisi tersebut masih terasa sangat kuat di masyarakat.

“Sekarang tidak segegap dulu. Tapi bukan berarti hilang. Kalau masuk desa, tradisi itu masih cukup kental,” katanya.

Menurutnya, perubahan ini tidak lepas dari munculnya budaya baru, terutama budaya digital atau cyber culture. Pola komunikasi masyarakat perlahan bergeser dari pertemuan langsung menjadi komunikasi melalui media.

Jika dahulu orang harus datang langsung ke rumah tetangga untuk mengirim makanan dan berbincang, kini interaksi sosial sering digantikan oleh pesan singkat, panggilan video, atau bahkan pengiriman hampers melalui jasa kurir.

“Dulu orang bertemu langsung, ada komunikasi interpersonal. Sekarang banyak digantikan oleh komunikasi bermedia, misalnya kirim hampers lewat jasa pengiriman atau cukup video call,” jelasnya.

Dalam kajian komunikasi, fenomena ini disebut perubahan budaya akibat perkembangan teknologi. Sama seperti peralihan dari budaya batu ke logam pada masa lampau, masyarakat modern kini memasuki era budaya digital.

“Budaya itu selalu berkembang. Dulu ada budaya batu, lalu besi, sekarang digital. Digital ini juga membentuk pola baru dalam kehidupan masyarakat,” kata Kun.

Meski menghadapi perubahan, Kun meyakini tradisi seperti ater-ater tidak akan sepenuhnya hilang. Budaya tersebut masih bertahan terutama di wilayah pedesaan dan lingkungan pesantren yang memiliki ikatan sosial kuat.

Selain itu, tradisi tersebut memiliki fungsi penting sebagai sarana komunikasi sosial.

“Ater-ater itu bukan sekadar memberi makanan. Di situ ada proses komunikasi, ada pertemuan, ada silaturahmi. Itu yang membuat hubungan sosial tetap hangat,” ujarnya.

Karena itu, ia menilai tradisi tersebut tetap relevan di tengah perkembangan teknologi. Justru di era digital, praktik seperti ater-ater bisa menjadi cara menjaga kedekatan sosial yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh teknologi.

“Teknologi memang mengubah cara berkomunikasi. Tapi tradisi yang mempertemukan orang secara langsung tetap punya nilai penting,” tuturnya. (dsm/why)


Share to