Andi Saputra


Wartawan Tadatodays.com | 2021-11-23 16:16:19

Bakorwil V Rakor Wisata Budaya, Kampung Londo Jember Jadi Bahasan

WISATA BUDAYA: Profesor Sukarno (pegang mik) mencontohkan Kampung Londo di Kabupaten Jember, yang bisa dijadikan wisata budaya. Tapi menurutnya, untuk memuluskan rencana wisata budaya itu harus diikuti dengan dukungan kebijakan pemerintah daerah.

JEMBER, TADATODAYS.COM - Badan Kordinasi Wilayah (Bakorwil) V Jember, mengelar rapat koordinasi antar Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) se-Bakorwil Jember. Rapat itu bertema "Konservasi Warisan Budaya Sebagai Destinasi Wisata Unggulan”. Acara tersebut berlangsung di aula Bakorwil V Jember, Jalan Kalimantan no. 42, Tegalboto, Kecamatan Sumbersari, Selasa (23/11) siang.

Acara tersebut menghadirkan Kabid Cagar Budaya Disparbud Jawa timur, Dwi Supranto dan Guru Besar Bidang Analisis Wacana Universitas Jember, Prof. Dr. Sukarno, M.Litt.

Dwi, dalam paparannya mengatakan, tugas menjadikan cagar budaya sebagai destinasi wisata merupakan tanggung jawab bersama yang harus dibangun secara kolaboratif. Kolaborasi itu, ujarnya, mulai dari pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, dan juga media. "Gak bisa sendiri-sendiri," katanya.

Dwi menyampaikan tahapan yang harus dikerjakan oleh para pihak. Pertama, penetapan cagar budaya dengan mendatangkan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB).

Menurutnya, penetapan identitas cagar budaya adalah hal terpenting. Karena bermula dari tahapan itulah, dapat ditindaklanjuti dengan menetapkan regulasi maupun rekomendasi jenis wisata yang akan dihadirkan kepada masyarakat."Juga ditentukan cagar budaya sebagai wisata, penelitian, atau juga pendidikan," terangnya.

Tahap selanjutnya, lanjut Dwi, adalah gerakan bersama memetakan potensi dan melakukan promosi sebagus dan seluas mungkin sehingga dapat mendatangkan wisatawan baik dalam maupun luar negeri.

Pihaknya mencontohkan, di Kabupaten Jember, salah satu cagar budaya yang berpotensi menjadi wisata unggulan cagar budaya adalah Kampung Londo yang ada di Kecamatan Kencong.

Kampung Londo, menurut Dwi, tinggal dikemas dan dipromosikan. Sementara Pemerintah Kabupaten Jember bertugas membuat regulasi yang jelas. "Banyakin even. Karena secara kreteria sudah masuk," tuturnya kepada para audien yang hadir.

Sementara itu, Prof, Sukarno dalam pandangan akademiknya memberikan penjelasan senada dengan Dwi Supranto. Menurutnya, menjadikan cagar budaya sebagai pariwisata harus dilakukan secara bersama-sama.

Sukarno memberikan catatan, pembangunan pariwisata berbasis cagar budaya atau ekokuktural harus dimulai dengan menemukan daya tarik, melihat daya tampung dan dukung, membuat kemasan yang menarik, menyiapkan pengelola yang kompeten dan kebajikan yang tepat. “Kemudian promosi yang massif,” ujar Prof. Sukarno.

Namun demikian, Sukarno mengingatkan bahwa semua upaya menuju hal tersebut tidak boleh mengubah kearifan lokal yang ada. "Tetap memelihara kearifan yang ada, baik adat istiadat maupun kepercayaan setempat," tuturnya.

Sukarno juga menyampaikan kendala yang umumnya terjadi, saat pembangunan wisata cagar budaya atau perlindungan dan pemeliharaan cagar budaya. Yakni, kebijakan pemerintah setempat.

Oleh karena itu, ia menginginkan agar kegiatan diskusi atau kordinasi mengenai cagar budaya untuk menghadirkan pemerintah daerah agar apa yang disuarakan dapat direalisasikan. "Acara kali ini tepat, karena akhir tahun masa penganggaran. Lebih baik lagi jika menghadirkan pengambilan kebijakan," katanya. (as/don)