Mochammad Angga


Wartawan Tadatodays.com | 2021-03-10 22:53:10

Banjir Meluas, Warga Tinggalkan Rumah, Jalan Nasional Lumpuh

DIKEPUNG: Luapan air Kali Kedunggaleng tak hanya membanjiri permukiman warga di dua desa di Kecamatan Dringu. Banjir juga melumpuhkan Jalan Lingkar Selatan (JLS) di Desa Jorongan, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Banjir masih mengancam wilayah Kabupaten dan Kota Probolinggo. Sejumlah permukiman warga diterjang luapan air Kali Kedunggaleng, yang melintasi beberapa kecamatan di Probolinggo. Warga terpaksa diungsikan demi menyelamatkan jiwa mereka. Bahkan jalan nasional tak luput dari luapan air sungai, sehingga lalu lintas lumpuh.

Seperti banjir yang terjadi pada Rabu (10/3/2021). Sore itu, debit air Kali Kedunggaleng meninggi hingga 330 cc. Sejumlah warga di kawasan selatan yang dilintasi kali tersebut, langsung menyebar informasi agar warga di wilayah utara siaga. Dalam hitungan menit, sejumlah wilayah pun diterjang banjir.

Baca Juga : Pemprov Jatim Fokus Bangun Bronjong di Jembatan Kedungdalem

Dari pantauan tadatodays.com, dari arah selatan, air Kali Kedunggaleng meluap dan membanjiri Jalan Lingkar Selatan (JLS) perbatasan Desa Jorongan, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo, dan Kelurahan Kedunggaleng, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo.

Baca Juga : Komunitas Bikers Fasilitasi Servis Gratis bagi Warga Terdampak Banjir Dringu

Mayoritas kendaraan tak berani melewati jalan nasional tersebut, saat melihat begitu derasnya aliran air di badan jalan.

Sejumlah warga sekitar juga tampak berada di badan jalan, untuk menghalau kendaraan yang sudah hendak melewati jalan nasional itu. Hanya kendaraan bertonase besar saja yang bisa menerjang air berwarna coklat itu. Sementara untuk kendaraan kecil, terpaksa menunggu surutnya air. Atau, melewati jalan alternatif menuju Jalan Raya Lumajang sesuai petunjuk warga yang berjaga di jalan tersebut.

Mustofa, 20, warga Kelurahan Kedunggaleng mengatakan, setiap kali hujan mengguyur wilayah selatan di Kecamatan bantaran, air Kali Kedunggaleng kerap meluap dan menutupi ruas jalan. "Lahan persawahan dan kuburun juga tergenang," ujarnya.

Mustofa mengatakan, bahwa air mulai menggenangi jalan nasional tersebut sejak pukul 14.00. Tapi, menurutnya, biasanya air mulai surut setelah 2 atau 3 jam.

PERTOLONGAN: Petugas gabungan dan warga mengevakuasi korban banjir ke tempat yang lebih aman. Tak hanya itu, petugas juga membersihkan material sisa banjir, serta mendirikan dapur umum guna memenuhi kebutuhan makan warga terdampak.

Sementara, Zainal, teman Mustofa mengatakan, warga yang berada di badan jalan ini bertujuan untuk membantu pengendara. "Kita dorong bila ada motor yang lewat, agar tidak mengikuti arus," ujarnya.

Bergeser ke utara, aliran sungai di bawah Jembatan Kedungasem, Kelurahan Kedungasem, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo, yang juga aliran Kali Kedunggaleng, juga meninggi.

Untuk mengetahui kondisi sungai tersebut, Wali Kota Probolinggo Hadi Zainal Abidin, sampai turun langsung untuk memastikan kesiapan petugas penjaga pintu air di sepanjang aliran Kali Kedunggaleng di wilayah Kota Probolinggo. “Tadi mencapai 300 CC, sebelumnya hanya 270 CC,” kata Wali Kota Hadi.

Sementara, wilayah lain di Kota Probolinggo yang juga kebanjiran terjadi di Kelurahan Sumbertaman. Lokasi Kelurahan Sumbertaman paling timur juga dilalui Kali Kedunggaleng, dan berbatasan dengan Desa Tegalrejo, Kecamatan Dringu.

Ahmadi, 45, Warga Kelurahan Sumbertaman mengatakan, banjir kali ini merupakan yang terparah. Menurutnya, air Kali Kedunggaleng mulai naik dan masuk ke rumahnya sekira pukul 16.00 WIB.

Ahmadi kini tak berani menempati rumahnya, sebab tanah di belakang rumahnya yang berada di pinggir Kali Kedunggaleng, mengalami longsor. "Khawatir saya mas, sudah longsor ditambah banjir lagi," ujarnya.

Nah, yang terparah dampak tingginya debit air Kali Kedunggaleng, tentu wilayah Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo. Dua desa di Kecamatan Dringu, yaitu Desa Kedunggaleng dan Desa Dringu, tergenang luapan air Kali Kedunggaleng. Di permukiman warga di dua desa tersebut, tingga air mencapai perut orang dewasa. Begitu juga dengan kondisi jalan desa, dimana air banjir mengalir dengan derasnya.

Makhruf Efendi, 35, warga Desa Kedungdalem mengatakan, banjir keempat kalinya ini merupakan yang terparah. "Air naik sejak jam 5 sore,” ujarnya.

Tetangga Makhruf, Hanifah Indah Wulandari, 23, mengatakan, ia sudah mempersiapkan karung berisi pasir di depan rumahnya untuk mengantisipasi banjir susulan. Karena itu, saat banjir kembali melanda pada Rabu sore, air yang masuk ke rumahnya tak sebesar banjir sebelumnya. “Hanya merembes saja," katanya.

Dari pantauan tadatodays.com hingga pukul 20.00 WIB, banjir di Desa Kedungdalem mulai surut. Hanya sisa material banjir saja yang masih mengotori rumah-rumah warga, begitu juga dengan jalan desa setempat. Namun, proses pembersihan itu sedikit terkendala dengan matinya aliran listrik.

Jika air banjir di Desa Kedungdalem mulai surut, berbeda dengan Desa Dringu, yang lokasinya berada di utara Desa Kedungdalem. Air terlihat masih menggenangi rumah warga. Tampak, petugas gabungan seperti TNI, Polri, Tagana, BPBD dan beberapa organisasi masyarakat dan mahasiswa bahu-membahu menolong warga dengan cara mengevakuasi.

Warga yang dievakuasi dibawa ke posko bencana yang didirikan oleh Pemkab Probolinggo, yakni di Kantor Kecamatan Dringu. Di posko tersebut, pemkab juga mendirikan dapur umum (DU) untuk memenuhi kebutuhan makan warga terdampak banjir. DU tersebut sudah didirikan sejak banjir pertama pada 26 Februari lalu.

Pelaksana Tugas Kalaksa BPBD Kabupaten Probolinggo, Tutug Edi Utomo mengatakan, banjir ini terjadi karena hujan dengan intensitas tinggi dan durasi yang cukup lama terjadi di wilayah hulu. Yakni, di Kecamatan Sumber, Kuripan, dan Bantaran. (ang/don)