BI Jember Soroti Kinerja Ekonomi 2025, PAD Melonjak tanpa Naikkan Pajak

Dwi Sugesti Megamuslimah
Dwi Sugesti Megamuslimah

Tuesday, 07 Apr 2026 13:33 WIB

BI Jember Soroti Kinerja Ekonomi 2025, PAD Melonjak tanpa Naikkan Pajak

pala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember Iqbal Reza Nugraha.

JEMBER, TADATODAYS.COM - Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jember Iqbal Reza Nugraha menilai performa ekonomi Kabupaten Jember sepanjang 2025 menjadi salah satu yang terbaik di kawasan Tapal Kuda. Indikatornya tidak tunggal. Dihitung dari pertumbuhan ekonomi tinggi berjalan beriringan dengan lonjakan pendapatan asli daerah (PAD).

“Ini bukan sekadar pertumbuhan. Banyak daerah tumbuh, tapi pendapatannya stagnan. Atau PAD naik karena pajak dinaikkan, tapi ekonominya tidak sehat. Jember menunjukkan kombinasi yang kuat,” ujar Iqbal pada Selasa (7/4/2026) siang.

Dalam forum yang juga dihadiri unsur Badan Pusat Statistik, OJK, hingga BPJS, disimpulkan bahwa laju ekonomi Jember pada 2025 menjadi yang tertinggi dalam lima tahun terakhir sejak 2020. Di saat yang sama, PAD tercatat melonjak hingga 36 persen tanpa kenaikan tarif pajak maupun retribusi.

Menurut Iqbal, capaian itu menunjukkan ruang optimalisasi masih besar. “Kuncinya bukan menaikkan pajak, tapi mengoptimalkan potensi yang sudah ada dan menutup kebocoran,” katanya.

Pihaknya juga menyoroti peran digitalisasi keuangan daerah dalam memperkuat transparansi dan efisiensi. Lebih lanjut, di 2026 ini, Iqbal memperkirakan pertumbuhan ekonomi Jember tetap melaju, ditopang masuknya belanja pemerintah pusat (APBN), khususnya pada sektor infrastruktur, pertanian, dan pendidikan.

Selain itu, aktivitas ekonomi baru seperti pembangunan rumah sakit, pabrik pengalengan ikan, hingga geliat sektor wisata disebut akan memperlebar basis pertumbuhan.

Lonjakan kunjungan wisata menjadi salah satu sinyal kuat. Pada momen Idulfitri, jumlah wisatawan ke destinasi seperti Watu Ulo melonjak drastis dari sekitar 14 ribu menjadi hampir 60 ribu pengunjung. “Ini belum sepenuhnya tercermin di data 2025. Tapi trennya jelas menguat dan akan berdampak ke ekonomi 2026,” ujarnya.

Di sisi lain, program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berkembang di Jember dengan jumlah dapur terbesar kedua di Jawa Timur diproyeksikan ikut menggerakkan perputaran ekonomi lokal.

Meski demikian, Iqbal menegaskan dampaknya terhadap inflasi tetap dalam kendali. “Inflasi tidak selalu buruk selama terkendali. Selama masih dalam rentang target dan di bawah pertumbuhan ekonomi, itu masih aman,” katanya.

Data awal 2026 menunjukkan pola musiman. Inflasi sempat tercatat naik pada Februari karena periode puncak (Ramadan dan Idulfitri), namun mulai melandai pada Maret.

Ke depan, kata Iqbal, pengendalian inflasi akan diperkuat melalui forum koordinasi lintas sektor, termasuk intervensi pasar dan distribusi bantuan sembako dalam program “Bunga Desaku”.

Program ini juga diarahkan untuk mengatasi ketimpangan wilayah. Iqbal menyebut kantong kemiskinan Jember masih terkonsentrasi di kawasan pinggiran yakni desa, kebun, hutan, dan pesisir.

Karena itu, katanya, intervensi pembangunan difokuskan dari wilayah-wilayah tersebut. “Tujuan akhirnya tetap sama yakni menurunkan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan. Targetnya bisa tembus di bawah angka psikologis pada 2026 atau 2027,” tegasnya.

Dengan kombinasi pertumbuhan, pemerataan, dan penguatan fiskal daerah, Jember dinilai berada di jalur yang tepat untuk menjaga momentum ekonomi dalam beberapa tahun ke depan. (dsm/why)


Share to