Amelia Subandi


Wartawan Tadatodays.com | 2022-04-29 19:29:35

“Bibibi”, Tradisi Berbagi di Hari Ke-27 Ramadan di Probolinggo

TRADISI: Sri Wahyuningsih membagikan uang kepada bocah-bocah di kampungnya yang telah menunggu di depan rumahnya. Sedekah itu merupakan tradisi Bibibi warga setempat, yang dilakukan di hari ke-27 bulan Ramadan.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Masyarakat Probolinggo punya banyak tradisi. Salah satunya ialah tradisi unik menjelang lebaran Idul Fitri, tepatnya di hari ke-27 bulan Ramadan. Namanya, tradisi “Bibibi”.

Secara ringkas, Bibibi merupakan tradisi bersedekah kepada para bocah di kampung. Nah, sedekahnya bisa berupa uang untuk jajan atau minuman yang dibagikan kepada anak-anak di sekitar rumah.

Baca Juga : Mbah Guco, Penyangga Tradisi Jawa di Kota Probolinggo

Nah, hari ke-27 Ramadan 1443 Hijriyah jatuh pada Kamis, 28 April 2022. Kamis itu selepas salat dzuhur, tradisi Bibibi dimulai, di Kelurahan Kebonsari Kulon, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo. Sekelompok bocah sengaja berkumpul. Kemudian mereka berkeliling kampung untuk menerima sedekah.

Baca Juga : Sukma Penari Seblang Bersua Nyi Roro Kidul

Di setiap rumah, bocah-bocah itu berteriak "Bibibi…..Bibibi". Tak lama berselang, tuan rumah keluar membawa barang yang mau dibagikan. Ada yang berupa lembaran uang, jajanan, ada pula yang berupa minuman.

Begitu seterusnya, para bocah itu mendatangi satu rumah ke rumah lainnya di lingkungan kampungnya. Suasana ini sekilas sama dengan saat lebaran, di mana anak-anak suka bergerombol mendatangi rumah demi rumah untuk meminta maaf, sekaligus berharap dapat angpao.

Tradisi Bibibi dilestarikan oleh warga Kota Probolinggo, salah satunya ialah Sri Wahyuningsih. Perempuan 50 tahun yang juga seorang anggota DPRD Kota Probolinggo ini mengaku senang bisa turut melestarikan budaya Bibibi.

saat ditemui Kamis sore, 28 April, Sri Wahyuningsih tampak sedang bersama anak dan cucunya. Mereka sengaja bersiap untu memulai tradisi Bibibi. Bahkan sebelum tradisi itu dimulai, anak-anak bahkan ibu-ibu di lingkungan tempat tinggalnya, terlihat antre di depan pagar rumah Sri. "Tradisi ini sudah berlangsung lama. Dan, sejak dulu sayapun selalu menyisihkan sebagian rejeki yang didapat untuk Bibibi ini," kata Sri Wahyuningsih.

Politisi Partai Demokrat ini mengaku selalu menyisihkan sebagian rezekinya untuk melestarikan Bibibi. "Iya untuk nominalnya tidak penting, kebersamannya itulah justru yang ditunggu. Bibibi harus tetap ada meskipun saat ini sudah zaman modern, warisan leluhur harus tetap dijaga," ujar Sri. (mel/don)