Andi Saputra


Wartawan Tadatodays.com | 2021-11-08 09:16:16

Bilbana, Jilbab berkualitas Tinggi dari Ponpes Addimyati

BERKEMBANG: Yayasan Ponpes Addimyati dalam perkembangannya mulai mengadopsi pendidikan modern. Sampai saat ini, selain pesantren, terdapat 6 lembaga pendidikan di bawah Yayasan Ponpes Addimyati.

SEBAGAI lembaga pendidikan tertua di Indonesia, pondok pesantren menempati posisi yang strategis dalam kehidupan masyarakat. Itu karena ponpes mampu memberikan pencerahan dan penyelesaian. Bukan hanya mengenai persoalan agama, tetapi juga persoalan kehidupan di tengah masyarakat.

Salah satu pesantren yang banyak berpengaruh bagi masyarakat sekitarnya ialah Pondok Pesantren Addimyati, Jember. Pesantren ini berdiri di tengah masyarakat Dusun Pondok Lalang, Desa Wonojati, Kecamatan Jenggawah, Kabupaten Jember.  

Baca Juga : Bilbana, Jilbab berkualitas Tinggi dari Pondok Pesantren Addimyati

Ponpes Addimyati termasuk pesantren tua yang ada di Kabupaten Jember. Ponpes yang berdiri di atas tanah 2 hektare ini dirintis oleh seorang ulama bernama Mas Toyib pada tahun 1927-an. Kiai Haji Ahmad Djuaini Dimmyati selaku pengasuh Ponpes Addimyati saat ini merupakan penerus generasi ketiga dari Mas Toyib.

Baca Juga : Potret Kewirausahaan Pondok Pesantren Al-Barakah Al-Nur Khumairoh

Kiai Ahmad Djuaini Dimmyati yang karib disapa Gus Jun, menceritakan bahwa pada awal dirintis, Ponpes Addimyati merupakan pesantren tradisional yang memberikan pembelajaran agama dengan metode sorogan.

Dalam metode sorogan, santri membacakan kitab berbahasa Arab di depan kiainya.  Sedangkan apabila kiai yang membacakan kitab di depan para santri, disebut metode wetonan.  

Perjuangan Mas Toyib merintis pesantren kemudian dilanjutkan oleh putranya yang bernama KH Addimyati yang juga merupakan ayah dari Gus Jun, hingga tahun 1960-an. Kemudian pada tahun 1966, KH Addimyati wafat.

Sepeninggal KH Addimyati, aktivitas ponpes sempat terhenti. Kemudian pada pertengahan 1980-an, Gus Jun kembali melanjutkan mengurus pesantren. “Pada tahun 1998, barulah Ponpes Addimyati SK resmi berdiri di bawah Yayasan Ponpes Addimyati,” kata Gus Jun. 

PRODUKSI: Sejumlah 26 karyawan bekerja dibagi dalam shift kerja siang dan sore. Dalam sehari, konveksi Ponpes Addimyati mampu menghasilkan 400 - 1000 potong jilbab siap pakai dengan berbagai ukuran dan model.

Dalam perkembangannya, Yayasan Ponpes Addimyati mulai mengadopsi pendidikan modern. Selain pesantren, terdapat 6 lembaga pendidikan di bawah Yayasan Ponpes Addimyati. Mulai dari Taman Kanak-kanak, Madrasah Diniyah, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah,  Sekolah Menengah Kejuruan dengan jurusan tata busana, bisnis daring dan pemasaran,  akuntansi, dan keuangan lembaga.

Lembaga pendidikan selanjutnya sebagai penunjang aktivitas ponpes yakni lembaga Tahfidul Quran. Sementara, aktivitas pemberdayaan sosial juga dilakukan oleh Yayasan Ponpes Addimyati dengan membuka majelis ta’lim untuk masyarakat sekitar, mendirikan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA), dan membuka unit usaha yang juga menyerap tenaga kerja dari masyarkat sekitar.

Satu lagi yang istimewa dari Ponpes Addimyati ialah unit usahanya. Ponpes Addimyati punya usaha koveksi dengan fokus produksi jilbab. Usaha konveksi ini dijalankan sejak tahun 2006. Sejak pertama kali dijalankan, konveksi ponpes hanya mengerjakan pesanan jilbab dari pasar yang ada di sekitar kecamatan Jenggawah. Kualitas jilbab yang dihasilkan oleh konveksi Ponpes Addimyati terkenal bagus dan rapi, sehingga memiliki banyak pelanggan tetap.

Kondisi tersebut berjalan hingga tahun 2019. Lalu setelah terjadi wabah Covid-19, pesanan jilbab dari pasar semakin menurun. Bermula dari situlah ustadz Abdullah Faqih selaku kepala unit usaha berinisiatif untuk memproduksi jilbab sendiri, kemudian memasarkannya secara mandiri.  

Bekal kepercayaan masyarakat yang mengatakan produksi jilbab Ponpes Addimyati berkualitas,  dirasa cukup untuk memproduksi jilbab secara mandiri. Lalu tercetus sebuah brand jilbab bernama “Bilbana”.  

Nama Bilbana dipilih tanpa memiliki arti khusus. Ustadz Abdullah Faqih mengatakan, nama yang tidak memiliki arti sengaja diambil sebagai strategi pemasaran agar menjadi ciri dan mudah dicari oleh konsumen. “Kalau pakai nama brand yang umum itu sudah banyak yang sama. Kalau Bilbana, saya pastikan belum ada dan memang tidak ada artinya,” ungkapnya, lalu terkekeh.

Produksi jilbab Bilbana selain melibatkan masyarakat, juga melibatkan alumni Ponpes Addimyati. Dalam proses produksinya terdapat 26 karyawan, terdiri dari 16 penjahit, 1 pembordir, 5 orang finishing, dan 4 orang pemasaran.

Sejumlah 26 karyawan itu dibagi dalam shift kerja siang dan sore. Dalam sehari, konveksi Ponpes Addimyati mampu menghasilkan 400 sampai 1000 potong jilbab siap pakai dengan berbagai ukuran dan model.

BILBANA: Nama Bilbana sengaja dipilih tanpa memiliki arti khusus. Pemilihan nama ini menjadi salah satu wujud strategi pemasaran agar menjadi ciri khas dan mudah dicari konsumen.

Selain mengerjakan brand Bilbana, konveksi Ponpes Addimyati juga mengerjakan brand milik pelanggan. Setiap Oktober, koveksi Ponpes Addimyati mengerjakan 15 brand lain. Konveksi Addimyati yang mengerjakan semuanya. Selanjutnya, produk jadi tinggal ditempeli masing-masing brand.  “Kami yang mengerjakan semuanya. Nanti tinggal ditempel brand mereka,” kata ustadz Faqih.

Lima belas brand yang dikerjakan di konveksi Ponpes Addimyati tersebut berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur. “Pola kemitraan semacam ini sangat diminati. Sebab, siapapun bisa punya brand sendiri, dan pemilik brand tinggal memasarkan produknya,” tutur ustadz Faqih.

Ustadz Faqih melanjutkan, khusus brand milik Ponpes Addimyati, selain pemasaran dengan sitem getok tular, membuka toko di depan ponpes dan Pasar Ambulu, jilbab Bilbana lebih masif dikenal melalui pemasaran online. Mereka sudah memiliki reseller berjejaring.

Hampir semua platform pemasaran digital dan media sosial telah dimasuki sebagai media pemasaran. Hasilnya pun sangat memuaskan. Dari sistem pemasaran digital itu, jilbab Bilbana dikenal secara nasional bahkan internasional.

Semenjak dipasarkan ke platform digital, permintaan jilbab Bilbana terus meningkat dari berbagai daerah. Jawa Timur merupakan pasar pasti. Di luar Jawa Timur, banyak lagi daerah yang permintaannya terhitung tinggi, meliputi Bandung, Bogor, Bekasi, Salatiga, Sragen, Solo,  Lombok, Kupang, hingga Manado. Bahkan jilbab bilbana juga sudah menembus pasar Arab Saudi dan Hongkong. 

Keberhasilan pemasaran digital itu terbukti dengan posisi jilbab Bilbana di urutan ketiga jilbab paling diminati dalam situs jual beli online ternama di Indonesia. “Untuk mengukuhkan penjualan, brand jilbab Bilbana juga menggandeng reseller berjejaring nasiona. Hingga saat ini sudah ada 600 reseller yang tersebar di seluruh Indonesia,” terang ustadz Faqih.  

Adapun keunggulan jilbab Bilbana ini menurut ustad Faqih, terletak pada kualitas jahit dan range harga yang terjangkau. Harga jilbab Bilbana mulai dari Rp 9 ribu hingga Rp 70 ribu rupiah, tergantung ukuran dan model. Untuk ini, konveksi Ponpes Addimyati selalu menjaga kualitas.   

“Kami jaga kualitas. Misal ada pelanggan yang menemukan jahitan miring atau ada cacat pada jilbab, kami izinkan untuk tukar. Bahkan kadang nggak usah dikembalikan, barangnya kita langsung ganti,” terang ustadz Faqih.  

Usaha koveksi yang dijalankan Ponpes Addimyati dengan brand Bilbana menjadi contoh nyata manfaat wadah belajar wirausaha di lingkungan pondok pesantren. Usaha konveksi yang berjalan 15 tahun ini terbukti telah menghidupi banyak orang, termasuk para alumni pesantren yang dilibatkan sebagai karyawan. Omzet dari koveksi ponpes addimyati mencapai Rp 150 -  200 juta per bulan.  

Di akhir perbincangan dengan tadatodays.com, ustadz Abdullah Faqih membagi tipsnya dalam usaha. Menurutnya, dalam proses usaha yang terpenting adalah etika. Etika usaha yang dimaksud adalah semua hal yang berkaitan dengan keberlangsungan usaha jangka panjang.  Mulai dari semangat, kedisiplinan, menjaga kualitas dan kepercayaan pelanggan, serta  kejujuran.

Tips selanjutnya adalah pentingnya berfikir visioner dan tidak menyerah kepada keadaan. “Pernyataan menutup pikiran tapi pertanyaan bisa membuka pikiran. Sekali kita membuat pernyataan tidak bisa, maka tidak bisa. Tapi jika kita membuat pertanyaan, bagaimana usaha saya bisa besar, maka akan besar,” tuturnya dengan penuh keyakinan. (as/why)