Mochammad Angga


Wartawan Tadatodays.com | 2021-03-02 19:06:38

Buruknya Pengelolaan Sampah Jadi Salah Satu Penyebab Banjir Dringu

PARAH: UPT Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai (TKPSDA WS) Pekalen Pasuruan, saat meninjau area sempadan Sungai Kedunggaleng di Desa Dringu.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Banjir yang terjadi di Desa Kedungdalem dan Desa Dringu, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo, menjadi atensi khusus UPT Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai  (PSDA WS) Walen Pekalen di Pasuruan. PSDA WS Walen menilai, buruknya pengelolaan sampah menjadi salah satu penyebab banjir yang rutin menerjang Dringu.

Kepala UPT PSDA WS Walen Pekalen Pasuruan, Novita Andriyani, saat meninjau lokasi banjir pada Selasa (2/3/2021) sore, mengatakan bahwa ada tiga faktor utama penyebab banjir di dua desa di Kecamatan Dringu itu.

Baca Juga : Selama Pandemi, Jumlah Sampah Rumah Tangga Bertambah

Pertama, material tanah atau lumpur saat banjir dan memasuki permukiman warga itu, karena adanya sedimentasi tanah dari kawasan hulu. “Tepatnya di Kecamatan Sumber dan Kuripan,” kata Novita.

Baca Juga : Pemprov Jatim Fokus Bangun Bronjong di Jembatan Kedungdalem

Kedua, adanya tumpukan sampah di bibir sungai. Menurut Novita, hal itu menunjukkan belum adanya pengelolaan sampah secara maksimal di Kabupaten Probolinggo. “Sungai Dringu ini bukan tempat pembuangan sampah,” ujarnya. 

Dari hasil survei, Novita menyebut bahwa warga di bantaran sungai Kedunggaleng yang melintasi Desa Kedungdalem dan Dringu, kerap membuang sampah di sungai tersebut.

Karena itu, jika di dua desa tersebut terdapat tanah bengkok, Novita menyarankan agar dimanfaatkan untuk pembangunan tempat pembuangan sampah (TPS). “Jadi kita carikan solusi," jelasnya.

Penyebab utama ketiga, yakni adanya alih fungsi lahan di area sempadan Sungai Kedunggaleng. Dari pantauan PSDA WS  Walen Pekalen Pasuruan, sungai provinsi tersebut sebenarnya memiliki area sempadan selebar 10 meter dari aliran sungai. “Faktanya, bangunan rumah warga memakan lokasi tersebut," kata Novita.

Dengan adanya alih fungsi area sempadan itulah, Novita mengatakan bahwa hal itu akan mempersulit masuknya alat berat ketika melakukan normalisasi sungai.

Saat meninjau lokasi banjir, Novita juga melihat adanya karung pasir yang digunakan untuk menangkis terjangan banjir. Padahal, menurutnya, langkah itu hanyalah bersifat sementara. “Daya tahan terhadap air yang deras tetap hancur,” tuturnya.

Sementara itu, Kasi Pengendalian dan Pembangunan pada Dinas Pekerjaan Umum Pemkab Probolinggo, Nurul Hidayat, mengatakan bahwa pihaknya akan mengambil langkah untuk proses pengelolaan sampah di wilayah terdampak. Sebab, ia menilai kesadaran membuang sampah pada tempatnya belum menjadi kebiasaan masyarakat. "Tadi masih ada yang membuang sampah di sungai," katanya.

Selanjutnya, pihaknya akan berkomunikasi dengan masyarakat terkait keberadaan bangunan di area sempadan sungai.

Maria, Warga RT 3 RW 02, Desa Dringu, yang rumahnya berada di area sempadan mengatakan, bahwa bangunan rumah yang ditempatinya itu sudah bersertifikat sejak tahun 2017 lalu. Tapi, ia merelakan bila pemerintah hendak menggusur rumahnya.  “Terpenting, dapat ganti rugi,” katanya. (ang/don)