Bryan Bagus Bayu Pratama


Wartawan Tadatodays.com | 2022-02-22 14:46:29

Cangkir Opini Ajak Pemuda Hindari Paham Radikal

DISKUSI: Mantan napi terorisme Irfan Suhardianto (dua dari kanan), memberikan pengalaman buruknya selama menjadi teroris. Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk tidak terjerumus dalam kegiatan terorisme, dengan cara lebih mengenal Islam sebagai rahmat bagi semua makhluk dan alam semesta.

JEMBER, TADATODAYS.COM - Gerakan radikalisme dan ekstremisme agama masih menjadi perbincangan di Indonesia. Di Kabupaten Jember, sebuah organisasi bernama Cangkir Opini juga menyoroti dua gerakan tersebut dengan menggelar diskusi bertajuk “Islam Moderat untuk Membangun Toleransi”. Diskusi itu dihadiri seorang mantan narapidana terorisme (napiter) asal Probolinggo, Irfan Suhardianto.

Diskusi tersebut digelar di Kedai Nong, Kecamatan Sumbersari, Jember, Minggu (20/02/2022). Selain Irfan, Cangkir Opini juga menghadirkan Kepala Pusat Studi Peradaban Islam Dhian Wahana Putra, The Center of Human Right, Multiculturalism, and Migration Rosnida Sari.

Dalam dialog tersebut, Dhian mengatakan bahwa untuk memahami konsep islam moderat, ada dua hal yang harus dimengerti dan dimiliki oleh individu. Yaitu, konsep Ta'abbudi yang menerangkan tentang konsep ibadah yang tidak boleh diganggu gugat, dan konsep Ta'qquli yang mengartikan bahwa manusia boleh membuka ruang untuk berkreatifitas dalam menjalankan ibadah.

"Ya, jelas menutup aurat itu diwajibkan oleh agama, dan itu sudah tidak bisa dipertentangkan. Namun dengan apa kita menutupnya itu terserah masing-masing. Jadi agama dapat menjadi ruang untuk menunjukan moderasi," ujar Dhian.

Tak jauh berbeda dengan yang disampaikan oleh Dhian, Rosnida Sari juga mengatakan bahwa faktor utama munculnya gerakan radikalisme berbasis agama adalah karena adanya kebencian-kebencian yang terawat di tengah umat beragama.

Menurutnya, hal-hal semacam itu yang membuat Islam sendiri menjadi terdegradasi dan orang-orang beranggapan bahwa Islam merupakan agama yang kejam dan tidak manusiawi.

Rosnida melanjutkan bahwa, Islam tidak seperti itu. Karena dalam agama Islam menyebutkan bahwa kita harus memiliki sikap menghormati orang lain. “Peran penting media dalam membangun citra baik pada masyarakat, sangatlah penting,” katanya.

Sementara, mantan napiter Irfan Suhardianto menjelaskan bahwa, gerakan radikalisme muncul karena doktrin-doktrin yang diberikan oleh pihak-pihak yang memiliki faham radikal yang muaranya adalah membenci pemerintah.

Irfan menjelaskan, salah satu kelompok yang disasar oleh teroris adalah kepolisian. “Karena kepolisian menjadi salah satu pasak pemerintah yang memiliki kekuatan dalam menjalankan kepentingan pemerintah,” tuturnya.

Sebagai mantan napiter, Irfan menginginkan kepada umat islam agar memahami bahwa Islam adalah agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam, manusia, dan makhluk Tuhan lainnya. Jangan sampai pemahaman yang kita anut adalah pemahaman tauhid yang mengkafir-kafirkan orang lain yang berbeda dengan kita.

“Justru Islam mengajarkan kita untuk mengajak manusia untuk terus berbuat yang baik. Bahkan kalau ada orang yang melakukan kesalahan, maka kita sebagai umat islam yang paham agama tidak perlu mengkafirkan mereka,” tuturnya

Untuk mencegah apa yang dilakukan dulu ketika ia masih aktif sebagai teroris, Irfan mengajak semua peserta dialog untuk mengkaji semua keilmuan yang berkenaan dengan agama. “Terpenting adalah bagaimana kita belajar dengan orang-orang yang memiliki sanad yang jelas dalam mengkaji agama, agar tidak tersesat di jalan yang tidak diinginkan,” ujar Irfan. (bp/don)