Andi Saputra


Wartawan Tadatodays.com | 2021-07-04 16:14:41

Dawuhan Mangli; Surganya Penghobi Burung Perkutut

SERIBU SANGKAR: Desa Dawuhan Mangli, Kecamatan Sukowono, Kabupaten Jember, layak disebut desa seribu sangkar. Di desa ini warganya dominan menjadi pengrajin sangkar burung perkutut.

Desa Dawuhan Mangli di Kecamatan Sukowono Kabupaten Jember benar-benar adalah surga bagi para penggemar burung perkutut. Di desa ini, penggemar burung perkutut bisa memilih sangkar burung perkutut berbagai jenis, motif, dan harga.

BURUNG perkutut dikenal memiliki mitos yang sangat kuat. Bagi sebagian masyarakat, burung perkutut dimitoskan sebagai burung jelmaan dewa. Ada pula mitos bahwa burung perkutut merupakan jenis burung yang memiliki derajat tinggi dibanding satwa lainnya.

Baca Juga : Wayang Kulit Berkelas dari Desa Dukuh Dempok Jember

Adapun mitos lain yang paling banyak dipercaya ialah bahwa burung perkutut merupakan pembawa keberuntungan, bahkan kekayaan. Selain faktor kicauannya, mitos-mitos tersebut membuat banyak orang tertarik memelihara burung perkutut.  

Baca Juga : Wayang Kulit Berkelas dari Desa Dukuh Dempok

Nah, karena masyarakat menempatkan derajat burung perkutut begitu tinggi, maka sangkar burung perkutut pun selalu istimewa. Bentuknya khas, yaitu melingkar tanpa sudut lancip. Bahkan ada pula sangkar burung perkutut yang sampai dilengkapi mahkota berukir, hingga harganya mencapai jutaan rupiah.  

Nah, bila anda termasuk penggemar burung perkutut, maka anda wajib datang ke Desa Dawuhan Mangli di Kecamatan Sukowono, Kabupaten Jember. Di Desa Dawuhan Mangli ini anda bisa mendapatkan sangkar burung perkutut dari bentuk paling sederhana, sampai sangkar burung perkutut dengan mahkota berukir.    

Desa Dawuhan Mangli pada sisi utaranya berbatasan dengan Kabupaten Bondowoso. Jumlah penduduk Desa Dawuhan Mangli mencapai 3.583 jiwa, dengan 1.183 kepala keluarga (KK). Selain bekerja di sektor pertanian dan perkebunan, sebagian besar penduduk Desa Dawuhan Mangli yang tinggal di Dusun Krajan dan Dusun Sumberwadung, menggantungkan hidupnya pada usaha kerajinan sangkar burung perkutut.  

Maka, bila berjalan-jalan di Desa Dawuhan Mangli, anda akan banyak menjumpai penduduk mengerjakan pembuatan sangkar burung perkutut di rumah masing-masing. Bahkan menurut Kaur Pemerintahan Desa Dawuhan Mangli Mohammad Hasan, hampir 70 persen penduduk desanya terlibat dalam usaha kerajinan sangkar burung perkutut. “Sudah jadi usaha turun temurun di sini,” kata Mohammad Hasan saat ditemui Tadatodays.com, Sabtu (19/6).

TURUN-TEMURUN: Kerajinan sangkar burung perkutut di Desa Dawuhan Mangli dijalankan secara turun temurun.

Mohammad Hasan menuturkan, mulanya dulu di Desa Dawuhan Mangli hanya ada dua orang   pengrajin sangkar burung perkutut. Dua orang itu adalah almarhum Mahram dan Sawin. Dari dua orang itu, usaha kerajinan sangkar burung perkutut kemudian menyebar ke banyak orang, bahkan menurun ke anak-cucunya. “Sekarang ini pengrajin sangkar burung perkutut di Desa Dawuhan Mangli terbanyak adalah generasi keempat dan kelima,” terangnya.

Sangkar burung perkutut di Desa Dawuhan Mangli dibikin dengan bahan utama bambu atau rotan. Sedangkan untuk kayu ukiran, pengrajin biasa menggunakan kayu sengon laut karena mudah diukir, tetapi kayunya tahan lama.

Sangkar burung perkutut yang dibikin warga Desa Dawuhan Mangli ada tiga jenis atau kelas. Yang paling sederhana dan harganya ekonomis disebut sangkar asoran. Cirinya, sangkar asoran tidak memiliki ukiran maupun motif lukisan sama sekali.  

sangkar burung perkutut jenis kedua disebut panengah atau menengah. Cirinya, sangkar panengah memiliki mahkota, kaki ukir, dan lukisan atau motif yang tidak timbul.

Sedangkan sangkar burung perkutut jenis ketiga sekaligus yang paling mewah, disebut sangkar burung perkutut untuk lomba. Sangkar jenis lomba ini memiliki mahkota dan kaki ukir, serta memiliki lukisan atau motif timbul.  Demi melindungi lukisan timbul ini bahkan sampai dilapisi cat antigores.  

Setiap pengrajin sangkar burung perkutut di Desa Dawuhan Mangli umumnya memiliki spesialisasi. Misalnya,  spesialis pengrajin sangkar jenis asoran. Spesialis panengah, atau spesialis sangkar lomba. Hanya beberapa orang saja yang merangkap, membuat lebih dari satu jenis.  

Pria bernama Suudi ini merupakan salah satu pengrajin sangkar burung perkutut jenis menengah. Bapak  47 tahun tersebut setiap harinya memproduksi sangkar burung dengan dibantu istrinya. Dari pekerjaan ini suudi bisa menghidupi istri dan dua anaknya yang berusia 17 dan 13 tahun.

Dalam satu bulan, Suudi bisa menghasilkan sedikitnya 60 sangkar burung menengah. “Tetapi bisa lebih,” katanya saat ditemui di sebuah rumah kayu yang menjadi tempat kerjanya. Dari pekerjaan ini suudi mengaku bisa mendapat keuntungan bersih sekitar Rp 3 juta dalam satu bulan.  

Suudi mengaku sebagai generasi keempat di keluarganya yang meneruskan usaha kerajinan sangkar burung perkutut. Pria yang karib disapa Pak Irfan ini belajar membuat sangkar burung perkutut sejak ia masih SD. Di masa kecilnya, Suudi sudah membantu bapaknya membuat sangkar burung. “Sejak dulu yang dibuat memang sangkar burung perkutut,” tuturnya.

Di masa kecilnya, Suudi sudah terbiasa membantu membuat ukiran untuk sangkar burung perkutut yang dibikin bapaknya. Seiring berjalannya waktu, Suudi akhirnya bisa membuat sendiri sangkar burung lengkap. Nah, penularan keterampilan itupun berlanjut. Kini, anak-anak Suudi juga terbiasa membantu pekerjaan membuat sangkar burung perkutut.  

Keterampilan Suudi membuat sangkar burung perkutut diakui bapaknya, Mahfud Muhammad.  Mahfud adalah orang yang mengajarkan Suudi segala teknik membuat sangkar burung perkutut. “Pak Irfan (Suudi, red) itu dari kecil bintang kelas membuat ukiran, melukis,” kata Mahmud.

Mahfud Muhammad bercerita, dulu waktu masih duduk di sekolah rakyat, dirinya belajar membuat sangkar burung perkutut juga dari bapaknya.

Pria yang mengaku lahir di tahun 1955 ini sampai sekarang masih menjadi pengrajin sangkar burung perkutut. Dalam satu bulan ia bisa membuat sekitar 20 sangkar burung mentahan. Semua prosesnya ia kerjakan sendiri.

Menurut Mahfud, dulu pemasaran sangkar burung dari Desa Dawuhan Mangli masih hanya ke beberapa daerah, seperti Surabaya dan Madura. “Kalau sekarang kan sudah merata. Malah ada yang sudah dikirim ke luar negeri,” ujarnya dengan nada bangga.

***

TRANSFER ILMU: Tokoh muda Desa Dawuhan Mangli Badrut Tamam berusaha membantu para pengrajin sangkar burung di desanya menjadi lebih mandiri.

Membangun Kemandirian

KERAJINAN sangkar burung perkutut dari Desa Dawuhan Mangli, Kecamatan Sukowono Kabupaten Jember ini sudah dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia. Pemasarannya dilakukan secara mandiri oleh pengrajin ataupun oleh pengepul.  

Dari aspek modal dan pemasaran, pengrajin sangkar burung perkutut di Dawuhan Mangli bisa dibagi menjadi dua golongan besar. Golongan pertama, sekaligus yang paling banyak, ialah pengrajin yang modal dan pemasarannya ditanggung pengepul. Golongan kedua, pengrajin yang sudah mandiri dalam aspek modal dan pemasaran.  

Khoirul Laili atau karib disapa Pak Riyan, menjadi salah satu pengrajin sangkar burung perkutut golongan mandiri. Sehari-harinya, Khoirul Laili membuat sangkar burung perkutut jenis lomba.  

Di tahun 1994, Khoirul mula-mula belajar membuat ukiran sangkar burung. Lalu baru pada tahun 1996 Khoirul membuat sangkar burung perkutut lengkap. Sangkar burung bikinan Khoirul terbilang istimewa. Lukisan timbulnya cukup halus dan detail. “Saya hanya membuat dua buah sangkar dalam satu bulan,“ katanya.  

Tapi jangan salah. Keluarga Khoirul benar-benar keluarga pengrajin sangkar burung perkutut. Istri dan anak Khoirul masing-masing bahkan bisa membuat sendiri sangkar burung perkutut lomba. Maka, setiap hari di rumahnya, Khoirul, istri dan anaknya selalu sibuk dengan pekerjaan membuat sangkar burung perkutut. 

Selain mandiri secara modal, Khoirul juga mandiri dalam hal pemasaran. Ia memanfaatkan sosial media,  terutama facebook untuk mempromosikan sangkar burung perkutut lomba bikinannya. Dari pemasaran melalui sosial media, ia bisa menjual sangkar burung perkutut lomba sampai ke berbagai daerah di luar Jawa. “Sulawesi,  Kalimantan, Jakarta dan hampir semua daerah di Jawa,” paparnya.

“Maaf, kalau bikinan saya ini bukan hasil menjiplak,” katanya. Soal harga, sangkar burung perkutut lomba bikinannya dilepas dengan nominal dari paling rendah Rp 1,5 juta, hingga pernah mencapai harga tertinggi 5 juta rupiah. “Tapi itu dulu, sekarang nggak lagi,” katanya, disusul tawa lebar.   

Ditanya soal kebutuhan paling prioritas untuk pengembangan kerajinan sangkar burung perkutut di Desa Dawuhan Mangli, Khoirul menyebut masalah pemasaran. “Dulu pernah ada koperasi yang dibentuk di desa untuk membantu modal dan pemasaran kerajinan sangkar burung. Tetapi sayangnya koperasi itu tidak bertahan,” katanya

Sebagai desa yang memiliki produk kerajinan spesifik berupa sangkar burung perkutut, Desa Dawuhan Mangli masih perlu banyak berbenah. Terutama adalah agar kualitas dan kuantitas produksinya meningkat, serta pemasarannya lebih efektif dan massif. Berikutnya, butuh penguatan identitas Desa Dawuhan Mangli sebagai desa penghasil sangkar burung perkutut.

Seorang tokoh muda Desa Dawuhan Mangli bernama Badrut Tamam, berusaha mengambil peran sesuai kemampuannya untuk membantu para pengrajin sangkar burung di Dawuhan Mangli. Dosen Fakultas Syariah di UIN Jember ini intens mendekati dan mengajari para pengrajin sangkar burung di desanya. Setidaknya agar mereka mengenal pemasaran online, sekaligus mampu menghasilkan konten promosi yang lebih berkualitas dan menarik perhatian.

Dari pendekatan yang sudah dilakukan, menurut Badrut, saat ini sudah ada banyak pengrajin yang mampu memasarkan sendiri sangkar burung perkutut bikinannya melalui sosial media. “Karena bisa berhadapan langsung dengan pembeli, maka pengrajin memiliki keuntungan lebih besar dibanding apabila dijual lebih dulu ke pengepul,” kata Badrut.

Selain itu, Badrut Tamam yang juga ketua bidang SDM pada Entrepreneur Trainer di kampusnya, bersemangat membantu para pengrajin mengatasi berbagai kendala, sehingga kelak desa dawuhan mangli benar-benar siap menjadi desa wisata dengan produk khas berupa sangkar burung perkutut. “Ilmu-ilmu yang saya dapatkan di training yang pernah saya ikuti selalu saya terapkan di sini,” katanya.

Terlepas dari segala kendala yang ada, sangkar burung perkutut jenis asoran, menengah, maupun lomba, setiap hari diproduksi oleh masyarakat di Desa Dawuhan Mangli, Kecamatan Sukowono Kabupaten Jember. Jadi, bila anda butuh sangkar burung istimewa untuk perkutut kesayangan anda, Desa Dawuhan Mangli adalah solusinya. Datang dan pilih sangkar terbaik menurut selera anda. (as/why)