Iqbal Al Fardi


Wartawan Tadatodays.com | 2022-08-31 15:19:45

Di Pantai Payangan Jember Ketika Hiu Paus Mati Terdampar

TERDAMPAR: Hiu paus yang terdampar dan mati di Pantai Payangan, Kabupaten Jember.

Eksotisme alam pantai selatan Jember memang tak dapat dipungkiri. Selain berjejer karang menjulang, deburan ombak yang menenangkan, barisanan lanskap pegunungan berlapis-lapis, perairan ini juga menjadi tempat singgah bermacam ikan besar. Lalu pada Sabtu (27/8/2022), seekor hiu paus mati terdampar di pantai Payangan sebelah timur.

--------------------

Baca Juga : Hiu Tutul Terdampar dan Jadi Bangkai di Pantai Banyuwangi

DUA ekor hiu paus atau Rhincodon Typus terdampar dalam dua hari terakhir di Pantai Payangan, Sabtu hingga Senin (27-29/8/2022). Kedua hiu paus tersebut terdampar di tempat berbeda, yaitu pantai Payangan sebelah timur dan Nyamplong. Hiu paus itu diperkirakan sama memiliki berat 1,5 ton. Nah, ada desas- desus menarik antar nelayan di Payangan saat tadatodays.com berkunjung ke lokasi kejadian.

Senin pukul 06.00 pantai Payangan di Desa Sumberrejo, Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember, diselimuti kabut tebal. Walau fenomena tersebut lumrah terjadi, tetap saja memanjakan mata. Apalagi di titik timur pantai Payangan, perahu-perahu nelayan tampak berbaris rapi tak jauh dari pinggir pantai, dekat tumpukan karang yang menjulang.

Di titik tersebut tampak beberapa nelayan baru saja usai melaut. Sebanyak 13 nelayan tampak mengangkat sebuah perahu ke pinggir pantai. Satu orang berpura-pura menjadi nahkoda bak pelaut ulung.

Usai mengangkat perahu tersebut, mereka pun melepas lelah. Di tengah jedah istirahat, beberapa di antaranya sedang bercerita tentang seekor hiu paus yang tengah terdampar. “Semalam hiu itu mengunjungi perahu-perahu nelayan yang sedang melaut,” ujar salah seorang dari mereka sembari menyeka keringat.

Desas-desus tersebut sedikit membuyarkan acara menikmati eskotisme pantai selatan kala itu. Dari titik gerombolan nelayan tersebut, bangkai hiu paus yang terdampar di sisi lebih timur tak tampak oleh mata telanjang.

Saat ditanya oleh tadatodays.com, nelayan yang juga warga setempat bernama Ahmad, menjelaskan bahwa posisi paus sudah bergeser lebih ke barat dari titik awalnya di Pulau Burung. “Sudah bergeser lebih barat dari yang awalnya ada di Pulau Burung dan sudah terdampar saat dzuhur,” jelas pria berumur 50 tahun tersebut.

Satu KM lebih harus ditempuh dengan berjalan kaki untuk menemukan onggok bangkai hiu paus tersebut. Penyisiran pantai tidak terasa melelahkan. Sebab, saat berjalan lebih jauh ke arah timur, panorama lanskap perbukitan yang berlapis-lapis dengan selimut kabut berhasil membayar lunas lelah.

Setelah satu jam penyusuran pantai, akhirnya berbuah hasil. Bangkai hiu paus tersebut sudah terdampar dengan posisi segaris dengan pantai dengan kepala di arah timur. Bau amis sedikit merebak dari bangkai tersebut. Sebab sudah dua hari lamanya bangkai hiu paus tersebut tak kunjung dikubur.

Ketika diraba, kulit hiu paus malang tersebut sudah mulai mengeras. Tak ada sedikitpun bagian tubuhnya yang hilang, entah diambil orang atau dikikis ombak. Ada seutas tali terikat di ekor bangkai hiu sebagai penanda yang tersambung pada satu pohon kecil dekat pantai. Deburan ombak sedikit menggoyangkan posisi hiu paus malang tersebut.

Tak lama, matahari sudah mulai naik melewati kumpulan mendung di timur. Panas mentari pagi sudah tak terelakkan. Jam di handphone menunjukkan pukul 08.00. Sudah saatnya meninggalkan bangkai hiu paus tersebut.

Dalam perjalanan pulang, Ahmad juga tampak sedang bersiap pulang. Namun, ia seperti sedang menunggu seseorang. Betul saja, ia menunggu tim tadatodays.com kembali. Ahmad bersedia untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Lalu, ia menjelaskan bahwa sering kali hiu paus mengitari perahu nelayan di malam hari. Sebab, hiu tersebut tertarik dengan cahaya lampu para nelayan. “Hiu paus itu sering datang ke perahu nelayan saat malam hari. Pas kami melaut,” jelas pria keturunan Madura itu.

Kemudian, ia juga menjelaskan bahwa semalam hiu paus tersebut mendekati perahu nelayan sebelum akhirnya mati terdampar. “Semalam hiu paus itu datang ke kapal-kapal nelayan. Mungkin lapar,” ujarnya sembari berteduh di bawah gumuk.

Selain itu, menurut Ahmad, mamalia besar seperti lumba-lumba dan paus, akan menyisir ke tepi pantai saat merasa akan mati. “Ikan-ikan besar biasanya akan menepi ke pantai saat ingin mati,” tutur Ahmad. (iaf/why)