Fenomena Hiu Paus Terdampar di Jember Berulang, Peneliti Soroti Minimnya Sistem Penanganan

Dwi Sugesti Megamuslimah
Wednesday, 11 Mar 2026 17:34 WIB

Spesialis mega fauna akuatik Sea Life Indonesia dr. Dwi Suprapti.
JEMBER, TADATODAYS.COM - Fenomena hiu paus terdampar di pesisir selatan Kabupaten Jember terjadi berulang dalam beberapa tahun terakhir. Peneliti mencatat wilayah ini menjadi salah satu titik dengan kejadian tertinggi di Jawa Timur.
Data yang dihimpun organisasi konservasi laut Sea Life Indonesia menunjukkan sedikitnya delapan hiu paus terdampar di Jember sepanjang 2015 hingga 2025. Bahkan pada 2022, kejadian tersebut tercatat terjadi hingga tiga kali dalam satu tahun.
Spesialis mega fauna akuatik Sea Life Indonesia, dr. Dwi Suprapti, mengatakan angka tersebut tergolong tinggi jika dibandingkan daerah lain di Jawa Timur. “Kalau di Jawa Timur, yang cukup sering terjadi keterdamparan itu Jember dan Lumajang, tetapi Jember termasuk yang paling tinggi,” ujarnya pada Rabu (11/3/2025) sore.
Fenomena tersebut juga mengikuti pola yang terjadi di pesisir selatan Pulau Jawa. Sejumlah kasus serupa juga tercatat di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Namun berbeda dengan wilayah lain yang memiliki sistem pemantauan pantai, sebagian besar hiu paus yang ditemukan di Jember justru sudah dalam kondisi mati.
Menurut Dwi, keterlambatan informasi menjadi salah satu faktor yang membuat peluang penyelamatan satwa laut tersebut sangat kecil. “Bisa jadi sebenarnya dia terdampar dalam keadaan hidup, tetapi ketahuannya sudah terlambat,” katanya.
Ia mencontohkan di sejumlah pantai selatan Yogyakarta terdapat relawan penjaga pantai yang siaga hampir sepanjang waktu sehingga kejadian di laut dapat segera diketahui. Sementara di beberapa kawasan pesisir Jember, pemantauan masih terbatas sehingga informasi sering datang setelah kondisi satwa sudah tidak bisa diselamatkan.
Selain itu, penanganan hiu paus terdampar di Jember selama ini juga dinilai belum optimal. Dalam banyak kasus, bangkai hiu paus langsung dikuburkan tanpa pemeriksaan ilmiah lebih lanjut.

Padahal, menurut Dwi, pemeriksaan melalui proses nekropsi atau bedah bangkai sangat penting untuk mengetahui penyebab kematian satwa laut dilindungi tersebut. “Selama ini biasanya langsung dikubur, padahal kalau tidak diperiksa kita tidak pernah tahu apa penyebab kematiannya,” ujarnya.
Hingga kini penyebab hiu paus sering terdampar di pesisir selatan Jawa masih menjadi misteri yang terus diteliti. Sejumlah kajian tengah dilakukan untuk mengungkap kemungkinan faktor lingkungan yang memicu kejadian tersebut.
Dalam salah satu penelitian yang dilakukan di wilayah lain di selatan Jawa, tim peneliti sempat menemukan indikasi kandungan logam berat seperti merkuri dan timbal pada tubuh hiu paus. Namun temuan tersebut belum dapat dijadikan kesimpulan umum karena penelitian masih berlangsung dan membutuhkan analisis lebih lanjut.
Untuk memperkuat penanganan kejadian keterdamparan, Sea Life Indonesia mulai mendorong pembentukan jejaring lintas lembaga di Jember. Jejaring ini diharapkan melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, aparat keamanan, dokter hewan, akademisi hingga masyarakat pesisir.
Menurut Dwi, koordinasi lintas sektor sangat diperlukan karena ukuran hiu paus yang besar membuat penanganannya tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. “Hiu paus bisa mencapai belasan meter. Jadi penanganannya memang membutuhkan banyak orang dan harus bergerak cepat,” katanya.
Melalui jejaring tersebut, informasi dari nelayan atau warga pesisir diharapkan dapat segera diteruskan kepada pihak terkait sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan terkoordinasi. (dsm/why)


Share to
 (lp).jpg)