Gumuk Watu; Wisata Edukatif di Dukuh Dempok

Andi Saputra
Andi Saputra

Sabtu, 31 Jul 2021 10:13 WIB

Gumuk Watu; Wisata Edukatif di Dukuh Dempok

KREATIF: Gumuk Watu yang dikembangkan sebagai destinasi wisata oleh BUMDes Dukuh Dempok.

Kabupaten Jember terkenal memiliki banyak gumuk atau bukit kecil. Bukit yang disebut gumuk itu hanya berupa gundukan tanah. Konon, jajaran gumuk di Jember sejatinya berfungsi sebagai pelindung dari angin puting beliung. Saat ini ada cukup banyak gumuk di Jember yang sudah tumbang, habis digaruk. Tetapi masih ada pula banyak gumuk yang masih berdiri kokoh sampai sekarang. Salah satunya adalah Gumuk Watu yang berada di Desa Dukuh Dempok, Kecamatan Wuluhan.

GUMUK Watu di Desa Dukuh Dempok berada di tengah hamparan sawah nan hijau. Saat ini, kaki Gumuk Watu dimanfaatkan menjadi sebuah area wisata edukatif oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Dukuh Dempok. Setiap akhir pecan, Wisata Gumuk Watu cukup ramai dikunjungi masyarakat. Bahkan tidak sedikit masyarakat dari luar Jember yang singgah.

Desa Dukuh Dempok, Kecamatan Wuluhan berada di sisi selatan Kabupaten Jember. Berdasar data desa, Dukuh Dempok memiliki lahan persawahan seluas 1.461 hektare. Warganya yang bekerja di sektor pertanian mencapai 4.230 kepala keluarga (KK).  Dari jumlah itu, hanya 1.714 KK yang merupakan petani pemilik lahan. Sedangkan sisanya adalah buruh tani.

Dari lahan sawah yang terhampar luas itu, ada lahan sawah dan kebun seluas 4 hektare milik pemerintah Desa Dukuh Dempok yang saat ini dikelola menjadi Wisata Gumuk Watu. Seperti namanya, wisata ini berada di kaki Gumuk Watu.  

Wisata Gumuk Watu dikelola oleh BUMDes Dukuh Dempok. BUMDes Dukuh Dempok yang berdiri mulai November tahun 2016, diurus oleh tiga orang, yaitu Agung Santoso selaku direktur, Andri sebagai bendahara, dan Baharudin sebagai sekretaris. Setelah berdiri di tahun 2016, bumdes ini tidak langsung menangani Wisata Gumuk Watu. “Tahun 2016 nganggur. Maret 2017 baru mulai eksplore Gumuk Watu. Satu bulan setelahnya mulai eksekusi, menanam padi, jambu kristal, buah-buahan dan lainnya,” terang Agung saat ditemui Tadatodays.com pada Sabtu (3/7) sore. 

Menurut Agung Santoso, sejak awal Wisata Gumuk Watu dikonsep sebagai wisata edukasi. “Gumuk Watu ini kita harapkan menjadi wisata edukasi. Nanti menjadi edukasi keanekaragaman hayati tumbuhan, hewan, ada peternakan dan restoran,” kata Agung yang sore itu didampingi rekannya pengurus BUMDes Dukuh Dempok.

Wisata Gumuk Watu memanfaatkan aset tanah milik Desa Dukuh Dempok. Lahannya terdiri atas sawah kurang dari 3 hektare, kebun setengah hektare, dan sisanya lahan kritis. Menurut Agung, lahan kritis ini dijadikan salah satu indikator kesuksesan bagi BUMDes Dukuh Dempok.  Perlahan-lahan, lahan kritis itu diolah hingga menjadi lahan produktif.  

“Lahan kritis itu yang jadi catatan pentingnya. Kami mematok ukuran suksesnya di lahan kritisnya. Jadi, ada sawah kritis, ada lahan kritis kering. Sawah kritis itu tidak bisa ditanami, karena masih berupa rawa. Sawah ini dulunya rawa-rawa. kalau kemarau, kering banget. Kalau hujan, banjir banget. Jadi kalau pingin kering ada di sini, kalau pingin banjir ya ada di sini,” papar Agung.  

Area rawa-rawa menurut Agung masih ada sekitar 3-4 petak. “Sementara ini tidak bisa ditanami apa-apa. Tetapi kami upayakan terus agar bisa ditanami,” tambah Agung yang seorang mantan guru.

Sejak Juli 2020, Wisata Edukasi Gumuk Watu dibuka untuk masyarakat umum. Tetapi untuk sementara, wisata ini hanya bisa dikunjungi di akhir pekan, yaitu Sabtu dan Minggu. Bila mengunjungi Wisata Gumuk Watu, anda bisa menikmati wisata petik buah dan sayur. Buah andalannya adalah petik jambu kristal. Saat ini ada 120 pohon jambu kristal di Wisata Gumuk Watu.

EDUKATIF: Wisata Gumuk Watu dikembangkan sebagai destinasi wisata edukatif. Selain bisa menikmati panorama, pengunjung juga bisa belajar tentang pertanian, sekaligus menikmati beragam buah dan sayur.

“Petik jambu kristal itu yang jadi andalan,” kata Agung. “Tetapi karena banyaknya pengunjung, sampai stoknya habis. Jumlahnya tidak sebanding dengan kunjungan. Terakhir ada kunjungan 180 santri datang satu kali, hanya satu jam, jambu kristal langsung habis. ya syukurlah, karena targetnya memang buah jambu kristal bisa habis,” kata pria yang juga bekerja sebagai sopir ambulans ini.

Agung ingat, di awal-awal produksi besar dulu, jambu kristal masih harus dijual sampai ke Jember dan dipasarkan lewat online. “Tetapi setelah orang banyak tahu wisata ini, kami tidak perlu lagi memasarkan. Orang datang dan petik sendiri,” ujarnya.

Mengapa memilih jambu Kristal? “Awalnya memang di lahan ini ada jambu lokalnya. Ketika awal kami menjejakkan kaki di sini, jambu lokalnya berbuah lebat. Jadi kami langsung mikir, ini saja, jambu yang kita jadikan andalan,” katanya.

Selain petik jambu kristal, pengunjung juga bisa berwisata petik sayur. Di Wisata Gumuk Watu ini ada beragam jenis sayur segar, yaitu kangkung, bayam, kenikir, sawi, terong, cabe, brokoli, genjer, maupun ketela pohon. Tetapi Agung mengakui belum bisa bertani secara organik. “Kami  belum bisa organik, masih mencoba untuk organik, karena kondisi tanahnya yang tandus. Masih belum memungkinkan,” ucapnya.  

Wisata Gumuk Watu cocok untuk kebutuhan edukasi pelajar. Menurut Agung,  kelompok pelajar dari beberapa sekolah sudah pernah berkunjung untuk jelajah alam. Selain pelajar, ada pula kelompok santri dari Jombang, Kediri, Malang, Probolinggo dan  Jember sendiri yang datang berkunjung. “Mereka tahunya dari media sosial, dan dari mulut ke mulut,” kata Agung.

IRIGASI: Sungai yang dilirik untuk dikembangkan sebagai bagian dari destinasi wisata Gumuk Watu.

Yang menarik, di Wisata Gumuk Watu juga tersedia camp ground. Jadi, pengunjung juga bisa kemping di Gumuk Watu. “Terakhir ada kelompok dari Bondowoso yang kemping di sini. Sudah pernah ada tiga kali perkempingan di sini,” terang Agung. Menurutnya, selain camp ground, ada juga aktivitas outbond yang bisa dilakukan di Gumuk Watu.

Dalam aktivitas BUMDes di Wisata Gumuk Watu ini melibatkan 3 orang tenaga tetap. Sedangkan tenaga cabutan ada sampai 15 orang. “Kalau panen, bisa sampai 20 orang lebih. Lalu kalau sore, sayur-sayur ini dibawa pulang warga, 3 sampai 7 orang. Sayur-sayur ini diikat….” kata Agung. 

Tentang modal dan profit, Agung merinci bahwa awalnya BUMDes mendapat dana penyertaan modal dari pemerintah desa untuk pengembangan lahan 4 hektare ini sebesar Rp 200 juta. Kemudian ada tambahan dari Pemprov Jatim Rp 48 juta. Berikutnya ada tambahan dari Pemprov Jatim dari semula berupa bantuan kambing, dialihkan menjadi tunai Rp 30 juta. “Jadi total modal yang dikelola Rp 278 juta. Untuk sementara, modal itu kita fokuskan ke lahan ini,” ujarnya.

Agung mengakui bahwa BUMDes Dukuh Dempok belum bisa memberi keuntungan kepada pemerintah desa. “Karena kami masih butuh modal besar. Adanya banjir, adanya kekeringan di sini juga menjadi kendala besar. Pernah tiga kali tanam itu kena banjir. Jadi, modal kami terkuras di situ,” katanya.

Tantangan terberatnya menurut Agung memang kondisi lahannya. “Tanah ini kan dijuluki ‘siti soro’. Siti itu lemah, soro itu susah. Bahkan di atas susah…” seloroh Agung. 

Walau belum bisa memberi profit kepada pemerintah desa, keberadaan Wisata Gumuk Watu perlahan-lahan memberi dampak. Lahan kritisnya sedikit demi sedikit beralih jadi lahan produktif. Selain itu, Wisata Gumuk Watu juga sudah menjadi alternatif wisata masyarakat Jember dan sekitarnya. “Setiap pekan itu ada antara 20 sampai 200 orang. Pernah satu kali waktu ada 250 orang. Tetapi itu bonus sajalah. Jadi kalau dirata-rata, dalam satu minggu ya ada 100 orang pengunjung,” papar Agung.

Masih ada banyak rencana pengembangan yang akan dilakukan BUMDes Dukuh Dempok pada Wisata Gumuk Watu. Terutama agar Wisata Gumuk Watu lebih nyaman dinikmati. “Sekarang kami juga masih memutar otak agar akses jalan ini bisa lebih tertata,” kata Agung.          

Nah, bila anda memiliki rencana untuk berlibur di akhir pekan, Wisata Gumuk Watu di Desa Dukuh Dempok, Kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember bisa menjadi alternatif yang tepat. Di tempat indah ini, anda bisa berwisata petik jambu kristal, sayur mayur segar, atau bahkan juga bisa kemping. Lalu untuk anda yang suka berswafoto, jangan khawatir. Di Wisata Gumuk Watu ada banyak spot swafoto yang sangat bagus. Termasuk panorama sunset berlatar persawahan di sore hari. (as/why)


Share to