Tadatodays


Wartawan Tadatodays.com | 2021-12-06 19:11:27

Gunung Semeru Meletus, Banyak Warga Meninggal, Ribuan Bangunan Terdampak

EVAKUASI: Sejumlah warga di lereng selatan Gunung Semeru, termasuk anak-anak, berlarian menjauhi awan panas guguran yang mengarah ke desanya. Sebagian besar warga berhasil menyelamatkan diri. Namun sebagian lainnya meninggal terkena guyuran awan panas.

LUMAJANG, TADATODAYS.COM - Pulau Jawa memiliki banyak gunung api. Tapi, untuk gunung api tertinggi berada di Jawa timur. Ya, gunung tertinggi di Pulau Jawa itu adalah Gunung Semeru, yang berdiri gagah di Kabupaten Lumajang.

Bahkan, kalangan pecinta alam menyebut bahwa Gunung Semeru merupakan atapnya Pulau Jawa. Karenanya, jika gunung setinggi 3676 mdpl itu meletus atau erupsi dalam skala besar, maka dampaknya akan dahsyat.

Baca Juga : Pasca Erupsi Kedua, Gunung Semeru Naik Status Jadi Siaga

Pada Sabtu (4/12/2021) sore, kedahsyatan gunung yang memiliki puncak bernama Mahameru itu diperlihatkan. Gunung Semeru erupsi dalam skala besar hingga mengeluarkan awan panas guguran (APG).

Baca Juga : Siswa SD di Probolinggo Lelang Lukisan untuk Korban Semeru

Gumpalan besar APG itu menjulang seakan menyentuh langit tertinggi. Sementara APG yang tak sampai ke angkasa, terjun bebas menggulung semua yang ada di bawahnya. Pepohonan di tengah hutan, sawah, ladang, rumah-rumah warga di lereng Gunung Semeru semuanya tertimbun abu vulkanik panas.

Entah berapa meter kubik jumlah material abu vulkanik Gunung Semeru, saat itu. Sebab, rumah warga yang terdampak hanya tersisa atapanya saja.

JASAD: Petugas evakuasi dan relawan menemukan banyak jasad warga yang meninggal tertimbun awan panas Gunung Semeru. Semua jasad selanjutnya dievakuasi ke kamar jenazah RSUD Hartoyo Lumajang.

Panasnya material abu vulkanik Gunung Semeru mematikan juga semua makhluk hidup yang tak sampai menyelamatkan diri. Termasuk, manusia. Hingga Minggu (5/12/2021), BPBD Kabupaten Lumajang melaporkan total ada 14 warga yang meninggal akibat erupsi Gunung Semeru.

14 korban tewas itu merupakan warga beberapa desa di Kecamatan Pronojiwo dan Kecamatan Candipuro, wilayah yang berada tepat di lereng selatan Gunung Semeru. Geografis dua kecamatan itu bergaris lurus dengan kawah Gunung Semeru, Jonggring Saloko.

Warga yang meninggal itu karena tak berhasil menghindari guyuran abu vulkanik panas. Ada yang ditemukan meninggal di antara puing rumahnya yang ambruk, ada pula yang ditemukan di jalan desa setempat yang sudah tertimbun abu panas.

Setiap jasad yang ditemukan sudah dalam kondisi tanpa pakaian, karena terbakar panasnya abu vulkanik. Tangan jasad korban erupsi itu rata-rata ditemukan dalam kondisi menggenggam, menahan panasnya abu Gunung Semeru. (redaksi)

SELAMAT: Dewi Novita Sari, 17, (atas) dan Haji Amin, 50, merupakan dua dari sekian banyak warga Dusun Curah Kobokan, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, yang selamat setelah berjuang menghindari terjangan awan panas guguran. Mereka pun mengisahkan perjuangannya kepada tadatodays.com

Kisah Korban Selamat, Berlari Berjuang di Bawah Awan Panas Guguran

Jumlah warga yang selamat dari erupsi Gunung Semeru, jauh lebih banyak dari jumlah warga yang meninggal. Itu, karena warga yang berdomisili tepat di lereng selatan Gunung Semeru sudah diimbau oleh perangkat desa setempat untuk segera meninggalkan rumanya dan menuju ke tempat yang lebih aman ke arah selatan.

Tadatodays.com mendengar langsung cerita dua dari ribuan warga selamat. Salah satunya adalah Dewi Novitasari, 17, warga Dusun Curah Kobokan, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo.

Dewi menyampaikan, saat itu ia tengah tidur siang. Tapi saat menjelang sore hari, hawa di dalam rumahnya mendadak panas. “Saya langsung bangun,” katanya saat ditemui di RSUD Hartoyo Lumajang, tempat ayahnya dirawat karena mengalami luka bakar.

Ketika bangun itulah, ia terkejut saat melihat neneknya, Sinten, 60, ketakutan setelah mendengar kabar Gunung Semeru meletus. Dewi pun juga panik. Apalagi saat ke luar rumah, Dewi melihat kondisi tiba-tiba gelap karena cahaya matahari sore tertutupi gumpalan awan panas Gunung Semeru.

Tanpa berpikir panjang, ia bersama neneknya, begitu juga dengan tetangga berlari ke arah selatan untuk menyelamatkan diri. Guguran awan panas dan material batu vulkanik Gunung Semeru, kerap dirasakan Dewi. "Saya tidak inget apa-apa sudah, pokok lari," katanya.

Beruntung, ia dan sang nenek berhasil selamat dan berlindung di sebuah masjid terdekat. Karena masih khawatir, ia dan neneknya kemudian keluar dari masjid untuk kembali berlari menuju Dusun Gunung Sawur.

Setibanya di Dusun Gunung Sawur, Dewi dan Sinten beristirahat selama dua jam. Kondisi di dusun tetangga itu juga gelap, tapi relatif masih aman dibanding di Dusun Curah Kobokan.

Remaja berbaju merah ini akhirnya bernapas lega, setelah melihat ada petugas yang mengevakuasi warga menggunakan kendaraan pikap menuju Desa Sumbermujur.

Tapi setibanya di Desa Sumbermujur, ia justru mendapat kabar buruk. Ya, ayahnya yaitu Samsul Arifin, dikabarkan mengalami luka bakar serius akibat terkena awan panas guguran Gunung Semeru dan dirawat di RSUD Hartoyo. Ia dan neneknya kemudian langsung mendatangi rumah sakit untuk memastikan kondisi ayahnya.

Diketahui, Samsul Arifin terkena guyuran awan panas di tempat ia bekerja sebagai penjaga portal tambang. Sebelum dirujuk ke RSUD Hartoyo, Samsul Arifin sempat mendapat pertolongan pertama di Puskesmas Penanggal.

Kisah kedua disampaikan oleh Haji Amin, 50, juga warga Desa Curah Kobokan, Kecamatan Candipuro.

Ditemui di RSUD dr. Haryoto Lumajang, Sabtu (4/12) malam, Haji Amin mengatakan, sore itu ia bersama istri dan seorang anaknya yang tengah hamil 9 bulan, Rita, berada di dalam rumahnya.

Saat asyik ngobrol, ia tiba-tiba mendengar suara hembusan angin sangat kencang di luar rumah. Tapi angin itu tak biasa baginya, sebab hawanya terasa begitu panas. “Saya sampai kesulitan bernapas,” kata Haji Amin, yang mengenakan baju muslim warna putih.

Ia tak mengetahui bahwa angin tersebut merupakan hempasan dari awan panas yang dimuntahkan Gunung Semeru. Agar angin tersebut tak masuk ke rumahnya, ia menutup pintu rumah menggunalan lemari.

Nah, tak lama kemudian rumahnya tiba-tiba ambruk. Ia bersama istri dan anaknya tak berpikir panjang, dan langsung keluar rumah. “Braak, kaca-kaca langung pecah,” ujarnya sambil menggambarkan kondisi rumahnya yang ambruk.

Ketika sudah berada di luar rumah, pria berkulit sawo matang ini terkejut karena melihat abu vulkanik Gunung Semeru sudah memenuhi halaman dan jalan di depan rumahnya. Hanya saja, hembusan angin di luar rumah sudah tidak panas lagi.

Haji Amin masih kebingungan mau berbuat apa. Sebab kondisi saat itu benar-benar panik. Semua tetangganya berlarian menyelamatkan diri. Rumah-rumah warga lainnya juga rusak. “Kemudian Basarnas datang untuk mengevakuasi warga,” tuturnya.

Saat proses evakuasi itulah, ia dikejutkan setelah melihat sesosok tubuh yang tergeletak di badan jalan dekat rumahnya. “Ternyata mbak yu (kakak perempuan, Red) saya meninggal,” katanya, sambil menunjuk jasad kakak perempuannya di mobil ambulans RSUD Hartoyo.

Ya, kakak kandung dimaksud yakni Poniem, 55. Almarhumah merupakan warga Desa Curah Kobokan yang meninggal saat awan panas menerjang. Meninggalnya Poniem juga disampaikan oleh Wakil Bupati Lumajang Indah Masdar, saat konferensi pers melalui zoom meeting.

Kini, Haji Amin hanya bisa menunggu di rumah sakit bersama istri dan anaknya yang tengah hamil tua. Ia juga masih mengurusi jasad almarhum Poniem, kakak perempuannya.

Yang terpenting baginya saat ini adalah keselamatan jiwa. Harta benda di bawah puing-puing rumahnya yang ambruk, tak lagi ia pikirkan. (redaksi)

PERMUKIMAN: 16 rumah di Dusun Renteng, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, tertimbun abu vulkanik dan hanya tersisa atapnya saja. Termasuk, truk yang terjebak saat datangnya awan panas guguran.

Jembatan Gladak Perak Putus, Rumah Warga Tertimbun

Infrastruktur, rumah-rumah warga, sekolah dan masjid tak luput dari ganasnya awas panas guguran (APG) Gunung Semeru. Semuanya terdampak.

Dan yang bikin publik keheranan, Jembatan Gladak Perak yang memiliki banyak tiang penyangga kokoh, putus. Selain karena beratya beban material abu vulkanik di badan aspal jembatan, tiang penyangga infrastruktur ikonik Kabupaten Lumajang itu juga tak kuat dengan lahar panas yang mengalir di dasar sungai jembatan tersebut.

Tak ayal, putusnya Jembatan Gladak Perak yang berada di Kecamatan Pronojiwo itu memutus akses Kabupaten Lumajang menuju Malang atau sebaliknya. Butuh waktu lama bagi Kementerian PUPR RI, untuk bisa membangun jembatan di atas sungai yang sangat curam itu. Apalagi, material abu vulkanik di sungai tersebut sangat tebal.

Jika Jembatan Gladak Perak putus, berbeda dengan kondisi rumah-rumah warga di Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, tepatnya di lereng selatan Gunung Semeru. Mayoritas tertimbun, dan butuh waktu lama dan tenaga ekstra untuk bisa menempati kembali. Kondisi serupa juga terjadi di Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro.

Dari pantauan tadatodays.com di Dusun Renteng, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, belasan rumah tertimbun dan hanya menyisakan atapnya saja.

Kepala Desa Sumberwuluh, Mahmudi mengatakan bahwa guguran awan panas paling besar terjadi di Dusun Renteng atau yang dikenal Kampung Renteng, serta Dusun Kamar Kajang. Kampung tersebut sudah dikunjungi langsung oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Minggu siang tadi sekira pukul 12.00 Wib.

Mahmudi menyampaikan, relawan dan Basarnas terus melakukan identifikasi dan mengevakuasi orang dan barang yang bisa diselamatkan.

JEMBATAN PUTUS: Jembatan Gladak Perak yang ada di Kecamatan Pronojiwo, merupakan salah satu bangunan ikonik di Kabupaten Lumajang. Tapi kini, jembatan penghubung Lumajang dan Malang itu telah putus diterjang abu material Gunung Semeru.

Ditanyakan soal kerusakan yang terjadi di desanya, Mahmudi menyebutkan ada 16 rumah yang rusak di Dusun Renteng. Satu rumah warga juga memelihara 42 kambing. "Seluruhnya habis. Sedangkan persawahan ada sekitar 50 hektar (yang tertimbun abu vulkanik)," ujarnya.

Sementara untuk kerusakan rumah di Dusun Kamar Kajang sebanyak 14 unit. Serta terdapat 1 perusahaan tambang yang juga rusak.

Mahmudi mengakui bahwa masih ada warganya yang belum menuju tempat evakuasi karena rumahnya masih utuh.

Nah, dari kondisi itu, Menteri Sosial RI Tri Rismaharini, yang memantau langsung kondisi Kecamatan Candipuro, meminta agar warga yang berdomisili di zona merah erupsi Gunung Semeru direlokasi.

Risma menyebutkan bahwa pemerintah harus mempersiapkan diri dengan potensi erupsi susulan yang disertai awan panas guguran. “Naudubilahhiminzalik, ini diperkirakan masih ada guguran (awan panas) lagi,” kata Risma. (redaksi)