Mochammad Angga


Wartawan Tadatodays.com | 2021-02-14 13:41:25

Harga Kedelai Naik, Produsen Tempe di Probolinggo Terpaksa Kecilkan Ukuran

TERKENDALA: Kenaikan harga kedelai impor membuat produsen tempe di Kota Probolinggo harus memutar otak agar tidak merugi. Mereka mengecilkan ukuran tempe daripada menaikkan harga.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Naiknya harga kedelain impor, membuat produsen tempe di Kota Probolinggo kelimpungan. Untuk mnghindari kerugian, mereka memperkecil ukuran tempe yang dipasarkan tanpa menaikkan harga.

Hal itu disampaikan satu produsen tempe, Muktar Ali, 21, warga Keluruhan Sumbertaman, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo. Ia mengatakan, harga kedelai impor kini tembus Rp. 10.100 per kilogramnya. Harga kedelai impor naik sejak awal Januari hingga 12 Februari 2021. 

Baca Juga : Harga Kedelai Mahal, Harga Tahu dan Tempe Tetap

Sebelumnya, harga kedelai impor perkilogramnya senilai Rp 6.800-Rp 7.000. Kemudian berangsur naik tanggal 17 Januari 2021 di angka Rp 9.500 hingga saat ini menembus angka Rp. 10.100. Ia mengaku tidak mengetahui penyebab naiknya harga kedelai impor tersebut.

Baca Juga : Harga Kedelai Mahal, Begini Siasat Produsen Tahu

“Kemungkinan kenaikan harga tersebut disebabkan kelangkaan,” ucapnya. Ali -panggilan akrabnya- mengatakan, ia ia tidak menggunakan kedelai local karena kualitas kedelai impor lebih bagus. Selain itu, stok kedelai lokal minim.

Untuk menyiasati hal itu, ia mengurangi takaran kedelai. Seperti saat harga kedelai Rp. 7000 menggunakan plastik ukuran 22 × 50 sentimeter. Saat ini, menggunakan plastik ukuran 20 × 50 sentimeter.

“Tidak ada cara lain, kecuali dengan mengurangi takaran. Sementara harga kedelai terus naik dan penjualan tempe tidak bisa naik,” ungkapnya. Sebelum naik, ia memproduksi tempe 2.3 kuintal. Kini, hanya 1,9 kuintal dan menghasilkan 185 lembar.

Tempe produksinya dipasarkan di Pasar Semampir, Kota Kraksaan, dan Pasar Baru Kabupaten Lumajang. Harga setiap lembarnya Rp 15 ribu.

Sementara itu, Kepala DKUPP Kota Probolinggo Fitriyawati Jufri membenarkan bahwa rata-rata produsen tempe lebih banyak menggunakan kedelai impor dibandingkan kedelai lokal.

“Stok kedelai masih kami mintakan data ke Bulog, tapi yang sering menjadi kendala karena distribusinya yang tidak lancar. Sehingga ketersediaan kedelai terbatas dan akan mempengaruhi harga jual,” ungkapnya. (ang/sp)