Harga Kedelai Tembus Rp 9.500, Produksi Tempe di Jember Menyusut

Dwi Sugesti Megamuslimah
Dwi Sugesti Megamuslimah

Friday, 23 Jan 2026 17:53 WIB

Harga Kedelai Tembus Rp 9.500, Produksi Tempe di Jember Menyusut

TEMPE: Mariyono, pengusaha tempe rumahan di wilayah Kecamatan Kaliwates. (Foto: Totok Handoko)

JEMBER, TADATODAYS.COM - Kenaikan harga kedelai kembali menekan pelaku usaha tempe di Kabupaten Jember. Di Kecamatan Kaliwates, seorang pengrajin tempe harus memangkas produksi hingga puluhan kilogram demi bertahan di tengah mahalnya bahan baku.

Mariyono, pengusaha tempe rumahan di wilayah tersebut, mengaku harga kedelai saat ini sudah mencapai Rp 9.500 per kilogram. Angka itu naik signifikan dibandingkan awal tahun yang masih berada di kisaran Rp 8.500 hingga Rp 8.900 per kilogram.

Ia menyebut, lonjakan harga kedelai sudah terjadi sejak awal 2026 dan terus merangkak naik. Kondisi ini jauh berbeda dibandingkan masa sebelum pandemi Covid-19, ketika harga kedelai masih stabil di rentang Rp 6.000 hingga Rp 7.000 per kilogram.

Mahalnya bahan baku membuat Mariyono terpaksa mengurangi volume produksi tempe hariannya. Jika sebelumnya ia mampu memproduksi sekitar 1,8 kuintal per hari, kini jumlah tersebut turun menjadi sekitar 1 kuintal.

Tak hanya produksi, dampak lain juga dirasakan pada sisi tenaga kerja. Demi menekan biaya operasional, Mariyono terpaksa mengurangi satu pekerja dan kini menjalankan usahanya seorang diri.

“Penghasilan jelas berkurang karena modal bertambah. Sekarang saya kerjakan sendiri,” ujarnya, Jumat (23/1/2026) siang.

Meski beban produksi meningkat, Mariyono memilih untuk tidak menaikkan harga jual tempe. Hingga kini, harga tempe masih bertahan di angka Rp 5.000, sama seperti saat masa pandemi.

Sebagai langkah bertahan, ia menyiasati kondisi tersebut dengan mengurangi takaran tempe sekitar satu ons per kilogram. Cara ini dilakukan agar harga tetap terjangkau bagi konsumen tanpa harus menutup usaha.

Diketahui, kenaikan harga kedelai terakhir terjadi dua hari lalu, dari kisaran Rp 8.900 – Rp 9.000 menjadi Rp 9.500 per kilogram. Kondisi ini semakin memberatkan pelaku usaha tempe skala mikro dan kecil yang bergantung penuh pada bahan baku kedelai. (dsm/why)


Share to