Zainul Rifan


Wartawan Tadatodays.com | 2022-03-21 16:26:13

Ikut Demo Pilkades Pajurangan, Nenek Sakdiyah Dibopong Polwan

PERTOLONGAN: Polwan dan Dokkes Polres Probolinggo harus memberikan pertolongan kepada Nenek Sakdiyah yang mengalami pusing, saat mengikuti demonstrasi di kantor Kecamatan Pajurangan, Kabupaten Probolinggo, Senin (21/3/2022).

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Sakdiyah, adalah nenek berusia 62 tahun warga Desa Pajurangan, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo. Ia merupakan pendukung Nanik Sri Wahyuningsih saat Pilkades Pajurangan, 17 Februari 2022. Setelah Nanik tidak terpilih, ratusan pendukung pun melakukan demonstrasi di kantor Kecamatan Gending. Nenek Sakdiyah juga ikut-ikutan demo sambil membawa poster. Namun ia mulai memegang kepalanya karena pusing, saat beraksi di bawah terik matahari.

Demonstrasi itu dilakukan pada Senin (21/3/2022) sekitar pukul 09.00 WIB sampai sekira pukul 13.00 WIB.

Baca Juga : Kasus Mayat Perempuan di Bantaran, Dibunuh dan Dibuang oleh Cucunya Sendiri

Dari pantauan tadatodays.com di lokasi demo, Sakdiyah dengan semangat melantangkan suaranya meminta pihak kecamatan segera melakukan penghitungan ulang Pilkades Pajurangan. Bahkan ia sambil berjoget mengikuti irama musik yang keluar dari sound system pendemo. "Ayo Bu camat, lakukan hitung ulang," teriaknya.

Baca Juga : Pilkades Serentak Rampung, Tapi 4 Desa di Probolinggo Masih Dijabat Pj

Namun semangat itu tidak berlangsung lama. Pasalnya, setelah 18 menit beraksi ia terlihat memegang kepalanya. Sakdiyah merasakan pusing.

Dengan sigap, anggota Polwan Polres Probolinggo yang berjaga langsung membopong nenek Sakdiyah untuk diberikan pertolongan dan dibawa ke tempat teduh.

BERAKSI: Sebelum mendapat pertongan kepolisian, Nenek Sakdiyah (kerudung merah muda) begitu semangat menyuarakan tuntutan agar pihak Kecamatan Gending melakukan penghitungan ulang hasil perolehan suara Pilkades Pajurangan, sambil membawa poster bertuliskan tuntutan.

Dalam obrolannya bersama tadatodays.com, Sakdiyah mengaku kalau mantan cakades Nanik merupakan cucu keponakannya. Karena itu ia juga ikut demo secara sukarela dan tidak ada perintah dari siapapun. "Ini kehendak saya sendiri," katanya sambil menghela nafas.

Kejadian itu juga dibenarkan oleh Kasat Binmas Polres Probolinggo, AKP Rini Ifo Nila. Saat dikonfirmasi ia mengatakan, gerakan cepat menolong nenek Sakdiyah itu merupakan bentuk kesigapan Polwan Polres Probolinggo.

Nila menuturkan, pihaknya sudah mengantisipasi potensi yang akan terjadi, termasuk adanya pendemo perempuan nenek Sakdiyah yang merasakan pusing. "Kami bantu pengecekan kesehatan, memberi minum dan makanan," ucapnya.

Nila mengatakan, jika pusing yang dialami Sakdiyah dikarenakan usianya sudah lanjut, ditambah dengan cuaca panas dan adanya keramaian. "Alhamdulilah, (Sakdiyah) sudah sehat," katanya.

Benar saja. Setelah tidak merasakan pusing, Sakdiyah kembali bergabung dengan peserta aksi. Tapi kali ini sang nenek  memilih tempat yang lebih teduh.

Seperti diberitakan sebelumnya, ratusan pendukung mantan cakades Pajurangan Nanik Sri Wahyuningsih melakukan aksi demonstrasi di Kantor Kecamatan Gending. Hingga pukul 14.30 WIB, massa masih bertahan di kantor kecamatan dan tetap menuntut agar Panitia Pemilihan (Panlih) melakukan penghitungan ulang.

Sementara sebelumnya, Panlih tingkat kabupaten telah memutuskan bahwa tidak akan dilakukan penghitungan ulang hasil Pilkades Pajurangan. Jika ada cakades yang tidak puas dengan hasil penghitungan suara, Panlih telah menyarankan agar menempuh jalur hukum melalui PTUN. (zr/don)