Jamaah Haji Jember Tembus 2.960 Orang, Antrean Tunggu Haji Capai 26 Tahun

Amal Taufik
Amal Taufik

Thursday, 07 May 2026 10:15 WIB

Jamaah Haji Jember Tembus 2.960 Orang, Antrean Tunggu Haji Capai 26 Tahun

Kepala Kantor Kemenhaj Jember Nur Sholeh

JEMBER, TADATODAYS.COM - Jumlah calon jamaah haji asal Jember tahun ini kembali mengalami perubahan. Data terbaru menunjukkan total jamaah mencapai 2.960 orang, naik dari sebelumnya yang masih di angka 2.956.

Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Jember Nur Sholeh mengatakan pergerakan jumlah tersebut merupakan hal yang lumrah menjelang musim pemberangkatan. “Masih sangat mungkin berubah. Biasanya pergerakan itu terjadi sampai mendekati masa akhir penetapan,” ujarnya Rabu (6/5/2026) sore.

Menurutnya, sistem pemberangkatan haji tidak hanya ditentukan oleh data kabupaten, tetapi juga terintegrasi dengan kuota provinsi. Jawa Timur sendiri memiliki kuota puluhan ribu jamaah, yang pengisiannya bersifat dinamis.

Ketika ada jemaah yang batal berangkat, baik karena meninggal dunia, sakit, atau alasan lain maka posisinya akan digantikan oleh jemaah cadangan. Proses ini terus berjalan hingga mendekati fase akhir atau penutupan kloter. “Ini seperti siklus. Ada yang keluar, ada yang masuk. Itu yang membuat angka terus bergerak,” jelasnya.

Antrean Tunggu Haji 26 Tahun

Sementara, waktu tunggu calon jamaah haji kian panjang. Di Jember, masa tunggu haji kini mencapai rata-rata 26 tahun.

Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Jember Nur Sholeh menyebut angka tersebut merupakan gambaran antrean yang terus mengular dari tahun ke tahun. “Kalau daftar sekarang, estimasinya sekitar 26 tahun baru berangkat,” ujarnya.

Padahal, jamaah yang berangkat tahun ini tercatat mendaftar sekitar 2012, dengan masa tunggu sekitar 14 tahun. Dalam kurun waktu lebih dari satu dekade, antrean hampir berlipat.

Lonjakan ini bukan tanpa sebab. Salah satu faktor utamanya adalah ledakan pendaftar di masa lalu, terutama saat program talangan haji masih marak.

Pada periode tersebut, masyarakat bisa mendaftar haji dengan kemudahan pembiayaan. Dampaknya, jumlah pendaftar melonjak drastis dalam waktu singkat. “Waktu itu bisa 6 sampai 7 ribu pendaftar dalam setahun, khusus Jember saja,” kata Nur Sholeh.

Bandingkan dengan kondisi sekarang, di mana pendaftar rata-rata berada di kisaran 3 ribu orang per tahun. Meski lebih rendah, antrean panjang yang terbentuk sebelumnya belum sepenuhnya terurai.

Akumulasi inilah yang membuat waiting list terus membengkak, bahkan hingga puluhan tahun ke depan. Menurut Nur Sholeh, masa tunggu tersebut tetap bersifat dinamis.

Dalam kondisi tertentu, bisa saja lebih cepat jika ada tambahan kuota atau banyak jamaah yang batal berangkat. "Sebaliknya juga antrean itu bisa semakin panjang jika tidak ada perubahan signifikan," sambungnya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kebijakan di masa lalu memiliki dampak jangka panjang yang tidak sederhana. Dalam konteks haji, satu kebijakan pembiayaan mampu membentuk antrean hingga puluhan tahun.

Kini, bagi masyarakat yang mendaftar, haji bukan hanya perjalanan spiritual, tetapi juga perencanaan lintas generasi, sebuah penantian panjang yang dimulai jauh sebelum keberangkatan benar-benar tiba. (dsm/why)


Share to