Alvi Warda


Wartawan Tadatodays.com | 2022-07-22 14:24:34

Januari - Juli 2022, P2TP2A Catat 15 Kasus Kekerasan Seksual di Kota Probolinggo

Ilustrasi: Misbach Novianto/tadatodays.com

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM -  Kasus kekerasan seksual di Kota Probolinggo terhitung minim di tahun ini. Berdasar data Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Probolinggo, di tahun 2022 ini sejak Januari hingga Juli, tercatat 15 kasus yang masuk.

Salah satu pendamping P2TP2A Kota Probolinggo Saiful Anwar mengatakan, 15 kekerasan seksual itu bermacam-macam jenisnya. Selain kekerasan seksual terhadap anak, ada juga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), yang dalam hal ini kebanyakan korbannya adalah perempuan.

Baca Juga : Perempuan Tunawicara Korban Perkosaan Kini dalam Penanganan Trauma

Anwar menilai, kekerasan tahun ini memang terhitung sedikit. Menurutnya, giat sosialisasi terhadap masyarakat oleh P2TP2A berbuah hasil. Sosialisasi itu menekan kekerasan seksual di Kota Probolinggo. Namun, tak menutup kemungkinan sedikitnya angka kekerasan seksual tahun ini, karena korban enggan melapor pada P2TP2A.

Baca Juga : Pengusaha Gaharu Laporkan Oknum PN Probolinggo ke KY

“Tahun ini bisa dibilang sedikitlah yang masuk. Namun, meski sedikit, sosialisasi menekan tindakan-tindakan itu tetap menjadi perhatian kami,” ujar Anwar pada tadatodays.com, Kamis (21/7/2022).

Keengganan itu biasanya disebabkan adanya stigma miring di masyarakat. Menurut Anwar, korban cenderung takut untuk melapor karena pelaku biasanya adalah orang terdekatnya. Jadi, korban memiliki pemikiran bahwa tindakan tak senonoh yang korban terima bukanlah kekerasan seksual.

Stigma lainnya seperti korban merasa takut terkucilkan dari masyarakat. Ada pemikiran-pemikiran seperti korban tindakan asusila adalah hal yang menjijikan. Alhasil korban diejek bahkan dijauhkan. Faktor-faktor inilah yang membuat korban akhirnya memilih membungkam.

Padahal apabila ada korban yang melapor, P2TP2A siap melayani dengan menjaga seluruh privasi korban. Korban juga akan mendapatkan penanganan dan pendampingan trauma psikis. “Kami mengikuti kemauan korban. Apa yang dibutuhkan oleh korban, kami akan sediakan,” tuturnya. (alv/why)