Jaringan Loyo dan Jurnal Diretas, 40 Ribu Mahasiswa Unej Jadi Taruhan Transformasi Digital

Dwi Sugesti Megamuslimah
Thursday, 26 Feb 2026 16:59 WIB

SIBER: Rektor Universitas Jember Iwan Taruna saat MoU bersama PT Link Net untuk mengatasi masalah jaringan dan keamanan siber di kampus.
JEMBER, TADATODAYS.COM - Universitas Jember (Unej) tidak lagi bisa menoleransi internet lambat dan celah keamanan siber. Dengan lebih dari 40 ribu mahasiswa aktif dan 118 program studi yang tersebar di lima kampus, gangguan jaringan kini bukan sekadar soal teknis tapi ancaman langsung terhadap proses akademik.
Rektor Unej Iwan Taruna blak-blakan menyebut penurunan kapasitas jaringan dan serangan siber sebagai problem paling mendesak. “Kesulitan kami biasanya penurunan kapasitas. Kadang storage harus dihapus, jaringan melambat. Ini sangat mengganggu pembelajaran dan proses lain yang berbasis IT,” ujar Iwan, Kamis (26/2/2026) sore.
Beban sistem Unej, kata dia. terus membengkak. Kampus utama di Jember terhubung dengan kampus satelit di Bondowoso, Pasuruan, hingga Lumajang. Seluruhnya dituntut memberikan layanan digital yang setara. Tanpa infrastruktur yang stabil, integrasi itu rapuh. “Keamanan juga jadi problem. Beberapa jurnal kemarin kena hack. Itu bermasalah sekali,” tegasnya.
Menurut Iwan, Unej sejak satu dekade terakhir membangun sistem informasi secara mandiri. Banyak perguruan tinggi lain bahkan belajar dari pengembangan internal kampus ini.
Namun, pertumbuhan mahasiswa dan ekspansi kampus membuat beban jaringan melonjak drastis. “Mahasiswa kami sekarang sudah 40.000 lebih. Bukan 7.000 lagi. Otomatis kebutuhan stabilitas jaringan juga bertambah,” katanya.
Kondisi itu makin krusial karena Unej telah menerapkan pembelajaran daring hingga 50 persen dan sistem administrasi paperless. Skripsi, konsultasi, hingga layanan akademik sepenuhnya berbasis digital. “Kalau jaringan tidak cepat dan tidak stabil, proses akademik pasti terganggu. Itu nonsense kalau kita bicara smart campus tapi internetnya down,” ujarnya.
Di titik inilah Unej menggandeng Link Net, perusahaan infrastruktur telekomunikasi yang kini fokus penuh ke segmen business-to-business (B2B). Chief Enterprise Business Officer Link Net, Ronald Chandra Lesmana, menilai sektor pendidikan menjadi prioritas karena kebutuhan konektivitasnya tak pernah berhenti.

“Sejak akhir 2024 kami bertransformasi menjadi pure B2B infrastructure. Dan sektor pendidikan itu tidak pernah berhenti 24 jam,” kata Ronald.
Ia menegaskan, hampir 98 persen jaringan yang digunakan merupakan milik sendiri, dari koneksi internasional hingga domestik. Model ini, klaimnya, memberi kontrol penuh terhadap kualitas layanan dan service level agreement (SLA). “Semakin mudah mahasiswa dan dosen bekerja di front end, semakin berat pekerjaan di back end. Itu yang harus kami pastikan mumpuni,” ujarnya.
Ronald melihat skala Unej sebagai institusi masif di kawasan Tapal Kuda menjadi alasan utama ekspansi di Jember. “Dengan 40.000 mahasiswa aktif dan kampus satelit, kami yakin prioritas ini benar. Universitas Jember sudah ready untuk transformasi digital,” katanya.
Kerja sama ini tak berhenti pada penyediaan bandwidth. Link Net menawarkan skema layanan yang bisa disesuaikan kebutuhan kampus. Mulai dari model pembayaran satu kali hingga bulanan, termasuk solusi sistem dan perangkat pendukung.
Namun bagi Unej, poin paling mendesak tetap dua hal yakni stabilitas dan keamanan. “Kita ingin semua kampus terintegrasi dalam satu layanan yang sama baiknya. Kapasitas internet, keamanan siber, dan integrasi multi-kampus ini yang ingin kita bangun,” kata Iwan.
Ia menambahkan, reputasi kampus juga dipertaruhkan. Akses jurnal internasional, riset kolaboratif global, hingga perkuliahan daring tak boleh tersendat hanya karena infrastruktur goyah. “Kalau pembelajaran daring terganggu, riset terganggu, itu artinya kita mundur. Padahal target kita jelas: kualitas lulusan harus baik,” ujarnya. (dsm/why)
.jpg)


Share to
 (lp).jpg)