Kenapa Lebaran Identik dengan Uang Baru? Ini Penjelasan Pakar Komunikasi UIN KHAS Jember

Dwi Sugesti Megamuslimah
Dwi Sugesti Megamuslimah

Friday, 20 Mar 2026 20:20 WIB

Kenapa Lebaran Identik dengan Uang Baru? Ini Penjelasan Pakar Komunikasi UIN KHAS Jember

BARU: Uang Layak Edar (ULE) yang dikeluar Bank Indonesia (BI).

JEMBER, TADATODAYS.COM - Saban menghadapi Idul Fitri, ada tradisi berburu uang baru. Ini terjadi di berbagai daerah. Masyarakat rela mengantre di bank atau menukar uang melalui jasa penukaran demi mendapatkan lembaran rupiah yang masih baru untuk dibagikan saat Lebaran.

Fenomena ini menarik jika dilihat dari perspektif komunikasi dan budaya. Pakar komunikasi Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, Dr Kun Wasiz, menilai kebiasaan tersebut sebenarnya merupakan perkembangan dari tradisi lama yang berkaitan dengan simbol “yang terbaik” saat hari raya.

Menurut Kun, dalam ajaran keagamaan, umat Islam memang dianjurkan menampilkan sesuatu yang baik ketika merayakan Idul Fitri. “Dalam pesan keagamaan sendiri disarankan ketika hari raya kita hadir dengan pilihan yang terbaik,” ujarnya kepada tadatodays.com, Senin (16/3/2026).

Pakar Komunikasi UIN KHAS Jember, Dr Kun Wasiz

Ia menjelaskan, pada masa lalu simbol “yang terbaik” itu lebih sering diwujudkan dalam bentuk penampilan, seperti mengenakan pakaian baru saat bersilaturahmi dengan keluarga. “Dulu yang identik itu baju baru. Jadi ketika kita datang bertamu atau bertemu keluarga, penampilan kita harus yang terbaik,” jelasnya.

Tradisi itu juga sejalan dengan nilai budaya Jawa yang menekankan pentingnya bersikap pantas saat bertemu kerabat. “Dalam budaya Jawa ada prinsip ketika bertamu harus membawa kesan yang baik. Ketemu saudara itu harus tampil simpatik,” tambahnya.

Seiring waktu, simbol “yang terbaik” itu kemudian mengalami pergeseran. Bukan lagi sekadar penampilan, tetapi juga diwujudkan dalam bentuk pemberian uang, khususnya uang baru.

Kun menduga perubahan ini dipengaruhi perkembangan budaya populer dan cara pandang masyarakat terhadap uang sebagai simbol kebahagiaan. “Uang itu akhirnya menjadi simbol. Orang merasa mendapatkan sesuatu yang menyenangkan ketika menerima uang, apalagi dalam suasana Lebaran yang identik dengan kebahagiaan,” katanya.

Karena itu, uang baru kerap dianggap sebagai simbol kemapanan atau kesiapan seseorang menyambut hari raya. “Secara simbolik, uang baru menunjukkan bahwa orang itu memiliki kecukupan dan siap merayakan Lebaran,” ujarnya.

Dari situ pula berkembang tradisi memberi uang kepada anak-anak atau kerabat dalam amplop saat Idul Fitri.

Namun Kun melihat praktik tersebut juga terus berubah. Di beberapa keluarga, pemberian uang tidak lagi selalu melalui amplop, tetapi bisa diberikan secara langsung atau bahkan “disawer” dalam acara keluarga.

“Artinya ada pergeseran bentuk, tetapi esensinya masih sama, yaitu berbagi kebahagiaan di momen Lebaran,” jelasnya.

Tradisi uang baru juga tidak lepas dari peran lembaga keuangan. Setiap Ramadan, Bank Indonesia biasanya membuka layanan penukaran uang baru yang disambut antusias oleh masyarakat.

Menurutnya, langkah tersebut juga dapat dilihat sebagai strategi komunikasi lembaga kepada publik. “Bank Indonesia memanfaatkan momentum Lebaran sebagai layanan sekaligus pendekatan kepada masyarakat,” katanya.

Selain itu, sebagai otoritas yang mengatur peredaran uang, BI juga memiliki kepentingan memastikan distribusi uang tunai berjalan dengan baik selama periode Lebaran.

Meski demikian, Kun mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak pada simbol semata, seperti uang baru, hingga melupakan substansi Idul Fitri. Ia menekankan bahwa makna utama Lebaran adalah kembali pada fitrah setelah menjalani ibadah Ramadan.

“Islam sendiri mengingatkan bahwa yang utama bukan baju baru atau uang baru, tetapi ketakwaan yang diperoleh dari Ramadan,” ujarnya.

Menurutnya, tradisi berbagi saat Lebaran seharusnya memperkuat hubungan sosial dan kekeluargaan, bukan sekadar ritual simbolik. “Substansinya adalah membangun kedekatan, keakraban, dan kohesi sosial,” katanya.

Kun juga menyoroti perubahan pola komunikasi masyarakat di era digital. Ia menilai budaya media sosial berpotensi menggeser kedekatan sosial yang sebelumnya terbangun melalui pertemuan langsung.

“Sekarang kita ramai di media sosial, ucapan Idul Fitri di mana-mana. Tapi kadang hubungan di dunia nyata justru tidak sedekat dulu,” ujarnya.

Fenomena itu, menurutnya, membuat banyak orang tampak aktif secara sosial di dunia digital, tetapi justru merasa terasing dalam kehidupan nyata. “Follower bisa banyak, tapi ketika di dunia nyata belum tentu punya kedekatan yang kuat,” katanya.

Karena itu, Kun mengingatkan agar teknologi tidak menggantikan sepenuhnya tradisi silaturahmi secara langsung. “Teknologi boleh dimanfaatkan, tetapi jangan sampai menghilangkan akar budaya kita, seperti saling mengunjungi dan menjaga hubungan keluarga,” tegasnya.

Ia juga mendorong masyarakat memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan dan menjaga tradisi lokal, bukan justru meninggalkannya. “Media digital seharusnya bisa menjadi ruang untuk memperkuat budaya kita, bukan membuat kita lupa pada identitas sendiri,” katanya. (dsm/why)


Share to