Kerusakan Infrastruktur Pasca Banjir Dipetakan, Pemkab Jember Libatkan Pemprov Jatim

Dwi Sugesti Megamuslimah
Dwi Sugesti Megamuslimah

Thursday, 19 Feb 2026 17:01 WIB

Kerusakan Infrastruktur Pasca Banjir Dipetakan, Pemkab Jember Libatkan Pemprov Jatim

JEMBATAN: Pj Sekda Jember Akhmad Helmi Luqman bersama DPU Bina Marga Jatim saat meninjau salah satu jembatan rusak akibat banjir di Kecamatan Ajung.

JEMBER, TADATODAYS.COM - Pemerintah Kabupaten Jember mulai memetakan kerusakan infrastruktur pascabanjir yang melanda sejumlah wilayah dalam sepekan terakhir. Tiga jembatan dilaporkan mengalami kerusakan cukup serius dan masuk prioritas penanganan.

Penjabat Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Jember Akhmad Helmi Luqman menyebut, pemetaan dilakukan menyeluruh untuk menentukan skala prioritas perbaikan, termasuk infrastruktur yang menjadi kewenangan provinsi.

Tiga jembatan yang terdampak yakni Jembatan Cinta di Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi; Jembatan Merah Putih di Desa Pakis, Kecamatan Panti; serta Jembatan Sentool di Desa Suci, Kecamatan Panti.

“Kemarin bersama pemprov semua titik sudah kami petakan, baik yang menjadi kewenangan desa, kabupaten, maupun provinsi. Ini penting agar penanganannya tidak tumpang tindih dan bisa segera ditindaklanjuti,” ujar Helmi pada Kamis (19/2/2026) siang.

Ia menyebut, banjir akibat curah hujan ekstrem tersebut berdampak pada lebih dari 7 ribu kepala keluarga di berbagai kecamatan. Intensitas hujan tinggi dalam durasi panjang memicu lonjakan debit sungai yang merusak sejumlah fasilitas publik.

Pemkab Jember masih menetapkan status siaga darurat bencana hingga 26 Februari 2026 menyusul peringatan potensi cuaca ekstrem dari BMKG. Helmi menegaskan koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus dilakukan untuk mempercepat proses rehabilitasi. “Beberapa titik memang menjadi kewenangan provinsi. Kami sudah komunikasi agar langkah teknisnya bisa segera diputuskan,” katanya.

Terpisah, Kepala Dinas PU Bina Marga Provinsi Jawa Timur, Edy Tambeng Widjaja, menyatakan pihaknya tengah melakukan pengecekan teknis di lapangan untuk menentukan bentuk perbaikan.

Menurut Edy, secara konstruksi jembatan yang ada tidak mengalami persoalan mendasar. Namun, debit air saat banjir dinilai melampaui kapasitas desain. “Fenomena overtopping terjadi, air meluap melewati lantai jembatan. Dalam kondisi seperti itu, struktur bisa terdorong dan rusak,” jelasnya.

Ia mengakui sejumlah jembatan memiliki elevasi relatif rendah sehingga rentan ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi dan durasi lama. Sebagai evaluasi, DPU Bina Marga Jatim mempertimbangkan opsi peninggian jembatan dalam proses pembangunan kembali.

“Kami dalami dulu kondisi strukturnya. Jika memang harus diganti total, tentu akan kami usulkan. Setelah data lengkap, kami laporkan untuk proses selanjutnya,” tandas Edy. (dsm/why)


Share to