Ketika Kunang-Kunang Pulang ke Pekarangan; Kisah Hadi Purnomo Merawat Alam dan Kebudayaan di Jember

Dwi Sugesti Megamuslimah
Friday, 20 Mar 2026 20:23 WIB

LOKAKARYA: Kegiatan lokakarya bersama anak-anak sekitar Yayasan Nara Bestari Indonesia (YANABI) beberapa waktu lalu.
JEMBER, TADATODAYS.COM - Siang itu matahari menggantung cukup terik di langit kawasan Cangkring, Patrang, Jember. Namun di halaman Rumah Budaya Nara, suasananya justru terasa teduh. Tanaman rambat menjalar di pagar, daun-daun anggur membentuk bayang-bayang yang menari di tanah.
Di bawah naungan pohon, Hadi Purnomo duduk di kursi kayu sederhana. Sebuah pena dan secarik catatan kecil di meja jadi pelengkap momen liburnya dalam bertugas hari ini.
Sesekali ia menunjuk ke arah tanaman yang tumbuh di sudut pekarangan. “Dulu tempat ini bukan apa-apa,” katanya pelan.
Tangannya mengarah ke tanah yang kini dipenuhi berbagai tanaman. Sulit membayangkan bahwa beberapa tahun lalu halaman itu hanyalah lahan kosong yang keras dan kering. “Sempat jadi tempat orang mengeringkan sampah plastik,” lanjutnya.
Angin siang bergerak perlahan. Daun anggur di atas pagar bergoyang, memantulkan cahaya matahari yang jatuh di sela-selanya. Hadi kemudian berdiri dan berjalan menuju sudut halaman. Di sana ada genangan air kecil yang sengaja ia biarkan.
“Kalau tanah mulai hidup, serangga datang. Capung datang. Kupu-kupu datang,” ujarnya.

Hadi Purnomo, Pengelola Yayasan Nara Bestari
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada tenang. “Dan kalau kunang-kunang datang, itu artinya alam masih mau menerima kita," katanya diteras pekarangan rumahnya pada Senin (16/3/2026) siang.
Perjalanan Hadi merawat alam tidak dimulai dari pekarangan rumah ini. Sekitar tahun 2015, ia menemukan sebidang lahan di lereng Pegunungan Hyang Argopuro. Tanahnya keras, berbatu, dan hampir tidak ditumbuhi vegetasi. Lereng itu seperti kulit bumi yang kelelahan. “Waktu pertama datang ke sana, tanahnya benar-benar tandus,” kenangnya.
Namun Hadi melihatnya dengan cara berbeda. Ia mulai menanam bambu untuk menahan tanah agar tidak longsor. Tanaman buah ia tanam agar burung datang. Tanaman penutup tanah ia sebarkan agar kelembapan tetap terjaga. Hari demi hari ia bekerja di sana. Tidak ada perubahan yang datang cepat. Namun alam perlahan merespons.
Rumput liar mulai tumbuh. Serangga muncul di sela tanah. Burung kecil sesekali hinggap di dahan muda. Suatu hari, ketika membersihkan area berbatu, Hadi menemukan sesuatu yang tidak ia duga.
Sebuah batu yang ketika dipukul mengeluarkan bunyi seperti gamelan. Ia mencoba memukul batu lain di sekitarnya. Nada yang berbeda muncul seperti alat musik yang tersembunyi di dalam tanah.

PATROL: Wisatawan asal jerman yang ikut menabuh musik patrol bersama anak-anak binaan YANABI.
Di kawasan itu, masyarakat lama memiliki cerita tentang lembah batu bernyanyi. Konon, pada waktu-waktu tertentu terdengar suara gamelan dari lembah di kaki gunung. Bagi banyak orang, cerita itu hanya legenda. Namun bagi Hadi, batu yang ia temukan terasa seperti potongan kecil dari kisah panjang yang tersimpan di alam.
Dari pengalaman merawat lereng gunung itu, Hadi mulai memperhatikan makhluk-makhluk kecil yang sering luput dari perhatian manusia. Serangga. Burung. Tanaman liar. Dan terutama, kunang-kunang.
“Kunang-kunang itu bioindikator,” jelasnya saat berbincang siang itu. “Kalau mereka muncul, berarti tanahnya sehat, airnya bersih, dan lingkungannya masih layak untuk kehidupan," imbuhnya.
Ia mengingat masa kecilnya ketika malam di desa dipenuhi cahaya kecil yang beterbangan di atas sawah. Kini pemandangan itu hampir hilang.
Menurut Hadi, hilangnya kunang-kunang bukan hanya persoalan ekologi. Itu juga tanda bahwa manusia semakin jauh dari alam. “Dulu sawah penuh kunang-kunang,” katanya.

Dalam banyak cerita rakyat, kunang-kunang sering disebut sebagai kuku orang mati. Bagi sebagian orang, cerita itu terdengar mistis. Namun bagi Hadi, mitos semacam itu sebenarnya adalah cara leluhur menjaga hubungan manusia dengan alam. Melalui cerita, manusia diajarkan untuk menghormati kehidupan di sekitarnya.
Pandemi Covid-19 menjadi titik perubahan lain. Ketika aktivitas luar rumah terbatas, Hadi mulai menata ulang pekarangan rumahnya.
Dulu tempat itu hanya lahan terbengkalai. Bahkan sempat digunakan warga untuk mengeringkan sampah plastik. Tanahnya keras. Udara di sekitarnya dipenuhi polusi kendaraan dari jalan raya. Namun Hadi mencoba menghidupkannya kembali.
Ia menanam tanaman rambat, sayuran, dan pohon buah. Air diperbaiki agar tidak tercemar. Lampu taman dikurangi agar tidak mengganggu serangga malam. Beberapa sudut bahkan sengaja dibiarkan liar, supaya kehidupan kecil bisa tumbuh.
Suatu pagi, seekor burung kuntul terlihat mendarat di pekarangan itu. Burung itu berjalan perlahan di antara rumput, mematuk tanah mencari cacing. “Kuntul datang karena tanahnya sudah hidup,” kata Hadi.
Capung beterbangan di atas genangan air. Kupu-kupu hinggap di daun anggur. Lalu suatu malam, cahaya kecil itu muncul kembali. Kunang-kunang.
Dari pengalaman merawat alam itulah lahir gagasan yang kemudian berkembang menjadi Yayasan Nara Bestari Indonesia (YANABI). Bagi yayasan ini, alam bukan sekadar ruang hidup. Alam adalah sumber pengetahuan, inspirasi, dan identitas kebudayaan manusia.
Di lereng Pegunungan Hyang Argopuro, lanskap gunung, sungai, batuan vulkanik, dan hutan membentuk bentang alam yang menyimpan sejarah panjang bumi sekaligus perjalanan manusia.
Dari lanskap itulah lahir konsep bentang alam budaya. Sebuah cara pandang yang melihat hubungan manusia dan alam sebagai satu kesatuan yang saling membentuk.
Melalui ruang ekologi budaya seperti Selo Bonang dan Taman Nara Bestari, YANABI membuka ruang belajar bagi masyarakat, seniman, peneliti, dan generasi muda.
Yayasan ini lahir pada momentum 17 Ramadhan, sebuah waktu refleksi yang dimaknai sebagai titik kesadaran untuk merawat kembali hubungan manusia dengan bumi. “Menjaga alam berarti juga menjaga kebudayaan,” kata Hadi.
Menjelang sore, suasana Rumah Budaya Nara berubah. Anak-anak mulai berdatangan dari gang-gang kecil di sekitar kampung. Ada yang membawa alat musik patrol dari bambu. Ada yang membawa buku gambar. Ada pula yang langsung berlari ke halaman.
Seorang anak kecil berusia sekitar empat tahun memukul alat musik bambu dengan ritme yang belum sempurna. Anak lain mencoba mengikuti. Di sudut lain, beberapa remaja berlatih tari di bawah pohon.
Sekitar 70 anak kini rutin mengikuti kegiatan di tempat itu. Usianya beragam, dari anak usia dini hingga remaja SMA.
Beberapa sanggar seni di Jember ikut terlibat membina mereka. Bahkan kolaborasi dengan Jember Fashion Carnaval (JFC) juga dilakukan agar anak-anak memiliki ruang tampil di panggung yang lebih besar.
Namun bagi Hadi, yang terpenting bukanlah panggungnya. Yang terpenting adalah pengalaman mereka tumbuh bersama alam.
Bagi Hadi, masa depan tidak selalu dimulai dari proyek besar. Ia percaya perubahan bisa dimulai dari pekarangan rumah.
Saat ini ia sedang menyiapkan program peternakan ayam organik berbasis keluarga. Dengan seratus ayam dan pakan dari tanaman sendiri seperti singkong, satu keluarga bisa menghasilkan telur setiap hari.
“Kalau pekarangan hidup, banyak masalah bisa selesai. Pekarangan bisa menjadi sumber pangan. Sumber ekonomi. Sekaligus ruang pendidikan lingkungan," tuturnya. (dsm/why)


Share to
 (lp).jpg)