Kisah Kades Sidomulyo Belanjakan Anak Yatim Pakai Hasil Sewa Tanah Desa

Dwi Sugesti Megamuslimah
Thursday, 12 Mar 2026 18:39 WIB

BELANJA: Kepala Desa Sidomulyo Kamiludin saat memilihkan baju untuk anak-anak yatim di Roxy Square Jember.
JEMBER, TADATODAYS.COM - Suasana toko pakaian di pusat perbelanjaan Roxy Jember pada Kamis (12/3/2026) siang lebih ramai dari biasanya. Puluhan anak tampak sibuk memilih baju, mencoba sepatu, atau berdiskusi dengan wali mereka tentang warna yang paling cocok dipakai saat Lebaran nanti.
Mereka bukan datang untuk sekadar jalan-jalan. Sebanyak 129 anak yatim dari Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, diajak khusus untuk belanja baju Lebaran. Masing-masing bebas memilih pakaian yang diinginkan.
Di balik kegiatan itu, ada keputusan yang cukup tidak biasa bagi ukuran sebuah desa yakni menggunakan hasil sewa tanah kas desa untuk kebutuhan anak yatim. Kepala Desa Sidomulyo Kamiludin mengatakan program tersebut sudah berjalan lima tahun terakhir, sejak ia mulai menjabat.
Setiap tahun, sebagian hasil penyewaan tanah kas desa dialokasikan untuk program anak yatim. Mulai dari THR, baju Lebaran, tabungan pendidikan, hingga kegiatan usaha produktif. “Pendapatan sewa tanah desa sekitar Rp 212,5 juta per tahun. Dan sebagian kami gunakan untuk kepentingan anak-anak yatim,” kata Kamiludin, Kamis (12/3/2026) siang.

BAJU LEBARAN: Salah satu warga Desa Sidomulyo, Siti Rosita bersama adiknya saat memilih baju lebaran di Roxy Square Jember.
Nilai sewa tanah desa itu relatif stagnan sejak 2022 hingga 2026, namun pemerintah desa tetap mempertahankan program tersebut. Untuk kegiatan tahun ini, kata dia, setiap anak mendapat alokasi belanja Rp 500 ribu.
Jika dikalikan dengan jumlah penerima, total dana yang digelontorkan desa mencapai Rp 64,5 juta hanya untuk kebutuhan baju Lebaran. Terkait jumlah penerima sendiri tidak selalu sama setiap tahun. Pemerintah desa hanya memasukkan anak yatim berusia 0 sampai 15 tahun sebagai penerima program. Ketika melewati usia tersebut, mereka tidak lagi mendapat bantuan.

Di sisi lain, daftar penerima bisa bertambah ketika ada warga yang meninggal dunia dan meninggalkan anak-anak yang masih kecil. “Jadi setiap tahun jumlahnya memang berubah,” ujar Kamiludin.
Ia mengakui program tersebut lahir dari pengalaman hidupnya sendiri. Kamiludin pernah merasakan menjadi anak yatim. Karena itu, ketika maju sebagai kepala desa, ia sudah berkomitmen untuk memberikan perhatian khusus kepada anak-anak yang mengalami kondisi serupa. “Saya pernah merasakan bagaimana menjadi anak yatim,” katanya.
Menurutnya, anak-anak yatim bukan sekadar penerima bantuan. Ia meyakini keberadaan mereka justru bisa menjadi doa bagi kemajuan desa. “Semoga doa anak-anak ini menjadi wasilah kemajuan Desa Sidomulyo,” ujarnya.
Kamiludin sendiri berharap suatu saat nominal bantuan itu bisa meningkat. Ia menargetkan nilai bantuan bisa naik dari Rp 500 ribu menjadi Rp 600 ribu, Rp 750 ribu, bahkan sampai Rp 1 juta per anak.
Namun baginya, yang terpenting bukan sekadar jumlah uang yang diberikan. Melainkan memastikan anak-anak yatim di desanya tetap punya kesempatan merasakan hal sederhana yang sering dianggap biasa oleh banyak orang yakni memilih sendiri baju baru untuk hari raya. "Saya mau anak-anak yatim di Sidomulyo juga merasakan bahagianya cari baju lebaran, meskipin tidak banyak semoga kami bisa terus membuat mereka senang," pungkasnya.
Di antara anak-anak yang berbelanja, Siti Rosita terlihat mendampingi adiknya yang masih berusia 10 tahun. Ini bukan pertama kalinya mereka mengikuti kegiatan tersebut. “Sudah yang ketiga kalinya,” kata Rosita.
Biasanya adiknya langsung memilih baju, sepatu, dan celana baru untuk dipakai saat hari raya. Rosita berharap kegiatan itu bisa terus berlangsung setiap tahun. “Semoga tetap ada rezeki seperti ini untuk anak-anak yatim,” ujarnya. (dsm/why)


Share to
 (lp).jpg)