Andi Saputra


Wartawan Tadatodays.com | 2021-02-21 14:54:22

Kurangi Sampah Pakaian, Warga Jember Kelola Bank Klambi

LINGKUNGAN: Anggota Bank Klambi saat memilah pakaian bekas yang diterima. Dengan adanya Bank Klambi, diharapkan menekan sampah tekstil.

JEMBER, TADATODAYS.COM - Pada umumnya pakaian yang sudah tak layak pakai akan dibuang begitu saja oleh pemiliknya. Tentu, langkah tersebut akan menjadi sampah tekstil yang mengancam lingkungan.

Melihat fenomena tersebut, seorang pegiat gaya hidup nol sampah (zero waste lifestyle) di Jember bernama Nurul Hidayah atau lebih dikenal dengan sapaan Cak Oyong, melakukan gerakan pengelolaan pakaian bekas dengan nama "Bank Klambi". Klambi merupakan bahasa jawa yang berarti baju.

Baca Juga : Masih Banyak yang Buang Sampah di Sungai, DLH: Tidak Bertanggungjawab

Bank Klambi sendiri baru berdiri awal 2020 lalu. Kini, telah mengelola ratusan pakaian dari sumbangan warga.

Baca Juga : Selama Pandemi, Jumlah Sampah Rumah Tangga Bertambah

Ratusan pakaian itu didapatkan dari berbagai wilayah di Kabupaten Jember. Puncaknya, Bank Klambi mendapatkan limpahan pakaian bekas sumbangan dari posko banjir di Jember beberapa waktu lalu.

Pakaian itu, semula diperuntukan bagi warga terdampak banjir. Namun setelah melalui pemilahan, ternyata tak semua pakaian layak dipakai oleh korban banjir. Akhirnya pakaian itu, diberikan ke Bank Klambi.

Bank Klambi sendiri melakukan dua pengelolaan pakaian bekas. Pertama, untuk pakaian layak pakai dari donasi akan dipilah untuk kemudian disumbangkan kepada pihak yang membutuhkan atau dijual. "Hasil penjulan kita gunakan untuk oprasional kegiatan upcycle pakaian jadi beragam kerajinan," ujar Cak Oyong saat ditemui di basecamp Bank Klambi, di Jalan Letjen S Parman Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember.

Kedua, pakaian yang tidak layak pakai akan didaur ulang menjadi beragam kerajinan pakaian bekas. Seperti, keset, lap, bean bag, dan kerajinan sejenis lainya.

Cak Oyong mengatakan, gerakan kecil yang dikelolanya itu pada mulanya didirikan oleh dua orang bernama Zilfana dan Aisyah. Melihat gerakan Bank Klambi sebagai kegiatan positif dalam ranah menjaga lingkungan dari sampah tekstil, Cak Oyong pun meneruskannya.

Diketahui, jauh sebelum mengelola Bank Klambi, tepatnya sejak 2018 diketahui Cak Oyong telah lebih dulu mengelola gerakan anti sampah melalui komunitasnya bernama Sobung Sarka.

Sehingga, saat ini Cak Oyong mengelola Bank Klambi sebagai salah satu unit kegitan komunitas Sobung Sarka. "Kami dari Sobung Sarka mengakuisisi kegiatan Bank Klambi sebagai salah satu unit kegiatan kami," ujarnya.

Pihaknya berharap, dengan gerakan kecil yang dilakukannya dapat meminimalisir sampah tekstil yang biasanya dibuang oleh masyarakat di sungai yang dapat menyebabkan sindementesi.  "Tujuan ya untuk mengantisipasi timbulnya masalah dari sampah pakaian," katanya.

Ia menambahkan, Bank Klambi siap menerima sumbangan pakaian bekas dari siapapun, karena dengan begitu masalah sampah pakaian bekas bisa dimininalisir. (as/don)