Menara Air Randupangger Kota Probolinggo Bakal Dijadikan Tempat Wisata Edukasi Cagar Budaya dan Air

Alvi Warda
Alvi Warda

Monday, 09 Feb 2026 14:20 WIB

Menara Air Randupangger Kota Probolinggo Bakal Dijadikan Tempat Wisata Edukasi Cagar Budaya dan Air

WATER TOREN: Menara air Randupangger Kota Probolinggo.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Menara air (water toren) peninggalan masa kolonial Belanda di Randupangger Kota Probolinggo bakal dijadikan tempat wisata. Nantinya, akan ada edukasi cagar budaya dan wisata air.

Hal ini dicanangkan oleh Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PUDAM) Bayuangga Kota Probolinggo. Pada Senin (9/2/2026) pagi, PUDAM Bayuangga bersama Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Dispopar) Kota Probolinggo meninjau menara air Randupangger.

Menara yang terletak di sudut perempatan Randupangger ini memiliki luas sekitar 50×30 meter. Sedangkan tinggi menaranya sekitar 30 meter. Dibangun sekitar tahun 1928 oleh Belanda. Menara air Randupangger ini, tidak difungsikan. Sebab sudah ketinggalan zaman.

Sebagai gantinya, PUDAM membangun tandon untuk menampung air dari Sumber Air Ronggojalu, Kabupaten Probolinggo. Sebelum akhirnya dialirkan ke pelanggan air PUDAM.

TAMAN: Dispopar saat meninjau kawasan taman menara air Randupangger Kota Probolinggo.

Saat diwawancara, Direktur PUDAM Bayuangga Kota Probolinggo Indra Sovia Jalal menjelaskan alasan menara air dijadikan sebagai wisata edukasi agar nilai sejarah tidak tergerus perkembangan zaman. Menurutnya, kesadaran generasi muda terhadap sejarah infrastruktur air kian menurun, sehingga perlu dihadirkan kembali dalam konsep yang menarik dan bertahap.

“Menara air ini penting dijadikan wisata edukasi sejarah. Kita ingin menunjukkan kembali sejarahnya, khususnya kepada anak-anak sekolah. Nantinya ada beberapa spot yang bisa dikunjungi, seperti menara air, rumah dinas, hingga rumah pompa,” ujar Indra.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Probolinggo bakal diajak berkolaborasi dengan surat resmi terkait program wisata edukasi air. "Di dalam kawasan menara air ini, ada beberapa spot. Yang utama ialah menara air, rumah dinas direktur, rumah pompa. Di setiap spot, kita siapkan narasi untuk penjelasan sejarahnya," ucapnya.

Melalui konsep tersebut, pengunjung tidak hanya berwisata, tetapi juga belajar tentang sejarah pengelolaan air bersih di Kota Probolinggo yang berawal dari peninggalan kolonial Belanda.

“Secara aturan, cagar budaya tidak masalah dijadikan tempat wisata. Harapan kami, Kota Probolinggo punya wisata sejarah yang diminati. Bahkan nanti akan ada kuis edukatif dengan hadiah, agar anak-anak semakin tertarik belajar sejarah air,” tambahnya.

Indra juga menargetkan wisata edukasi ini dapat menjadi alternatif tujuan bagi wisatawan, termasuk turis kapal pesiar yang selama ini hanya mengunjungi Gereja Merah, Museum Probolinggo, atau Pasar Baru. “Kami ingin menunjukkan bahwa Belanda juga pernah membangun menara air di Kota Probolinggo,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dispopar Kota Probolinggo M. Abbas mengatakan, menara air Randupangger merupakan salah satu cagar budaya yang wajib dilestarikan dan dikenalkan kepada masyarakat luas. "Memang perlu diangkat sebagai objek wisata," ucapnya.

Ia menekankan bahwa meskipun bagian atas menara dan tangga tidak lagi difungsikan, secara sistem menara air tersebut masih berperan dalam pengaliran air bersih bagi Kota Probolinggo.

“Menara air ini akan dijadikan wisata sejarah, khususnya edukasi tentang pengaliran air. Nah, PUDAM berinisiatif membangun tempat studi wisata sejarah, dan kami dari Dispopar sangat mendukung karena ini penting dikenali masyarakat,” jelas Abbas.

Menurutnya, wisata edukasi menara air memiliki potensi besar untuk meningkatkan pengetahuan anak sekolah. Namun, PUDAM juga perlu persiapan matang.  “Konsepnya harus menarik, sehingga masyarakat mau datang dan belajar. Menara air ini sudah melalui kajian dan resmi masuk sebagai cagar budaya yang perlu dilestarikan,” tuturnya. (alv/why)


Share to