Mitigasi Bencana untuk Disabilitas, Siswa SLB-C Jember Dibekali Cara Bertahan Saat Gempa

Dwi Sugesti Megamuslimah
Dwi Sugesti Megamuslimah

Wednesday, 15 Apr 2026 20:50 WIB

Mitigasi Bencana untuk Disabilitas, Siswa SLB-C Jember Dibekali Cara Bertahan Saat Gempa

SIMULASI: Siswa siswi SLB-C Taman Pendidikan dan Asuhan (TPA) Jember saat mengikuti simulasi tanggap darurat gempa bumi.

JEMBER, TADATODAYS.COM - Ratusan siswa berkebutuhan khusus di Jember dilatih menghadapi situasi gempa bumi lewat simulasi langsung. Bukan sekadar teori, mereka diajak memahami cara menyelamatkan diri secara mandiri saat kondisi darurat terjadi.

Suasana berbeda terlihat di lingkungan Markas PMI Kabupaten Jember, Rabu (15/4/2026). Ratusan siswa dari SLB-C Taman Pendidikan dan Asuhan (TPA) Jember mengikuti simulasi tanggap darurat gempa bumi.

Kegiatan ini menyasar siswa lintas jenjang, mulai dari SDLB hingga SMALB. Fokusnya sederhana namun krusial yakni membangun kesiapsiagaan sejak dini, khususnya bagi siswa dengan disabilitas intelektual yang masuk kategori kelompok rentan saat bencana.

Materi diawali dengan pengenalan dasar di dalam ruangan, lalu dilanjutkan praktik langsung di lapangan. Saat simulasi dimulai, siswa dan guru tampak sigap mengikuti instruksi.

Mereka diajarkan melindungi diri, terutama bagian kepala, hingga bergerak menuju titik kumpul aman. Proses evakuasi dilakukan dengan pendekatan sederhana agar mudah dipahami.

Ketua PMI Kabupaten Jember, Zainollah, menegaskan bahwa edukasi kebencanaan tidak boleh meninggalkan kelompok disabilitas. Menurutnya, mitigasi yang inklusif menjadi kunci agar semua kelompok masyarakat memiliki peluang selamat yang sama.

“Kelompok disabilitas ini harus mendapat perhatian khusus dalam skema penyelamatan. Mereka tidak bisa disamakan dengan pendekatan umum,” ujarnya Rabu (15/4/2026).

Simulasi ini, kata dia, menjadi bagian dari upaya mendorong sekolah menjadi satuan pendidikan aman bencana. Tidak hanya soal fasilitas, tetapi juga kesiapan individu di dalamnya. "Termasuk siswa dengan kebutuhan khusus agar mampu merespons situasi darurat secara cepat dan tepat," sambungnya.

Sementara itu, Kepala SLB-C TPA Jember Tutik Pudjiastutik menyebut metode simulasi sengaja dibuat praktis dan berulang agar siswa bisa mengingat langkah-langkah dasar saat kondisi darurat.

“Kami ingin anak-anak punya kemampuan dasar untuk menyelamatkan diri. Minimal mereka tahu apa yang harus dilakukan dan tidak panik,” katanya.

Respons positif juga datang dari orang tua siswa. Salah satunya, Sri Muamanah, berharap kegiatan semacam ini tidak berhenti sebagai agenda sesaat. “Kalau bisa rutin, supaya anak-anak punya kebiasaan. Jadi kalau benar-benar terjadi bencana, mereka sudah punya kesiapan dan tidak bingung,” ujarnya. (dsm/why)


Share to