Pekan Kunang-Kunang Kebudayaan, Menghidupkan Lagi Harapan untuk Alam Jember

Dwi Sugesti Megamuslimah
Dwi Sugesti Megamuslimah

Monday, 13 Jul 2026 07:50 WIB

Pekan Kunang-Kunang Kebudayaan, Menghidupkan Lagi Harapan untuk Alam Jember

TRADISIONAL: Penampil membawakan tari tradisional dalam Pekan Kunang-Kunang Kebudayaan 2026 di Taman Nara Bestari, Patrang, Sabtu (11/7) malam.

JEMBER, TADATODAYS.COM - Di tengah gemerlap lampu kota yang terus bertambah, ada satu cahaya kecil yang justru semakin jarang dijumpai: kunang-kunang. Serangga bercahaya yang dahulu akrab di malam-malam pedesaan itu kini nyaris menghilang seiring menyusutnya ruang hijau dan berubahnya bentang alam.

Kegelisahan itulah yang diangkat melalui Pekan Kunang-Kunang Kebudayaan 2026 yang digelar di Taman Nara Bestari, Patrang, Sabtu (11/7/2026) malam. Festival ini bukan sekadar menghadirkan pertunjukan seni, tetapi mencoba menghubungkan kembali manusia dengan alam melalui pendekatan budaya.

Musik, tari, teater, seni rupa, instalasi artistik hingga digital art dipadukan dalam satu ruang terbuka. Seniman, pelajar, komunitas, relawan, dan warga berkumpul bukan hanya menjadi penonton, melainkan bagian dari percakapan tentang masa depan lingkungan.

Founder Rumah Budaya Nara Bestari, Hadi Poernomo, mengatakan lahirnya Pekan Kunang-Kunang Kebudayaan merupakan respons terhadap krisis lingkungan yang semakin mengkhawatirkan.

TAMPILAN: Salah satu penampilan pada kegiatan Pekan Kunang-Kunang Kebudayaan 2026.

"Pagelaran Seni Budaya Kunang-Kunang Kebudayaan ini bukan sekadar panggung seni dan budaya, tetapi ajakan kepada masyarakat untuk membangun kembali hubungan yang harmonis dengan alam dan lingkungan," ujarnya.

Menurut Hadi, kunang-kunang dipilih sebagai simbol cahaya sekaligus harapan akan kehidupan yang berkelanjutan. Semakin langkanya serangga bercahaya itu menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang tidak lagi seimbang di alam.

"Kunang-kunang adalah bioindikator alam. Ketika keberadaannya semakin sulit ditemukan, itu menjadi alarm bahwa ada yang tidak sehat di lingkungan kita," katanya.

Melalui festival ini, panitia melibatkan anak-anak, generasi muda, pelaku seni, hingga komunitas lingkungan untuk membangun gerakan kolektif menjaga alam. Gerakan itu, kata Hadi, dimulai dari langkah paling sederhana, yakni merawat lingkungan di sekitar rumah.

Ia menegaskan, keberhasilan sebuah program kebudayaan tidak diukur dari ramainya panggung atau banyaknya pengunjung, melainkan dari perubahan yang ditinggalkan setelah festival usai.

Karena itu, rangkaian kegiatan tidak berhenti pada pertunjukan seni. Setelah festival, akan ada deklarasi bersama sebagai bentuk komitmen menjaga lingkungan. Gerakan tersebut dibangun melalui tiga kata kunci, yakni ilmu, ingatan, dan aksi.

"Kunang-kunang merupakan ingatan kolektif masyarakat. Dari ingatan itu kita membangun aksi bersama untuk menjaga lingkungan," ujarnya.

Sebagai tindak lanjut, Rumah Budaya Nara Bestari juga akan menggelar berbagai ekspresi budaya, termasuk karnaval bertema lingkungan. Kawasan Nara Bestari sendiri dikembangkan sebagai lokasi konservasi kunang-kunang agar masyarakat dapat melihat secara langsung habitat serangga yang kini semakin langka tersebut.

"Kami ingin masyarakat datang dan merasakan seperti apa lingkungan yang sehat. Di sini kunang-kunang masih ada. Harapannya, kesadaran itu tumbuh dan dimulai dari pekarangan rumah masing-masing," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) SMP Dinas Pendidikan Jember, Rahayuningsih, yang hadir mewakili Kepala Dinas Pendidikan Arief Tyahyono, menilai festival tersebut bukan sekadar menghadirkan hiburan, tetapi juga mengajak masyarakat kembali mengingat pentingnya menjaga keseimbangan alam.

Ia mengisahkan, semasa kecil kunang-kunang lebih sering dikenal melalui cerita-cerita rakyat. Saat itu, ia percaya mitos bahwa kunang-kunang adalah penjelmaan kuku orang yang telah meninggal. Namun setelah mempelajari biologi, pandangannya berubah.

"Kalau kunang-kunang masih hidup di suatu tempat, itu berarti ekosistemnya masih baik. Udaranya bersih dan lingkungannya masih terjaga," katanya.

Karena itu, menurutnya, semakin sulitnya menemukan kunang-kunang di kawasan perkotaan seharusnya menjadi alarm bahwa kualitas lingkungan ikut berubah.

BUDAYA: Founder Rumah Budaya Nara Bestari, Hadi Poernomo.

Ia berharap Pekan Kunang-Kunang Kebudayaan tidak berhenti sebagai agenda tahunan atau perayaan seni semata, tetapi menjadi pemantik gerakan masyarakat untuk memulihkan lingkungan.

"Semoga lingkungan yang bersih dan sehat bisa kembali terwujud sehingga kunang-kunang dapat kembali menerangi malam-malam di Kabupaten Jember," imbuhnya.

Di balik panggung seni dan instalasi cahaya, Pekan Kunang-Kunang Kebudayaan sesungguhnya membawa pesan sederhana yakni menegaskan bahwa menjaga alam bukan hanya tugas para pegiat lingkungan, melainkan bagian dari merawat kebudayaan.

"Sebab ketika kunang-kunang kembali menemukan rumahnya, mungkin saat itulah manusia juga berhasil menemukan kembali hubungan yang sempat renggang dengan alam," tuturnya. (dsm/why)


Share to