Peringati Hari Bumi, Mapala Jember Panen Pupuk Organik di TPA Pakusari

Dwi Sugesti Megamuslimah
Dwi Sugesti Megamuslimah

Wednesday, 22 Apr 2026 16:47 WIB

Peringati Hari Bumi, Mapala Jember Panen Pupuk Organik di TPA Pakusari

PANEN: Para mahasiswa Mapala Jember saat berada di TPA Pakusari untuk memanen kompos.

JEMBER, TADATODAYS.COM - Tak sekadar seremoni, peringatan Hari Bumi yang jatuh pada 22 April dimaknai berbeda oleh puluhan mahasiswa pecinta alam (Mapala) di Jember. Mereka turun langsung ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pakusari, memanen kompos dari timbunan sampah yang telah mengendap selama bertahun-tahun.

Koordinator aksi, Rasya Firdaus, menyebut kegiatan ini sebagai upaya membuktikan bahwa sampah tak selalu berakhir sia-sia. “Kami ingin menunjukkan bahwa sampah yang menumpuk di TPA itu masih bisa dimanfaatkan, salah satunya jadi kompos untuk media tanam,” ujarnya.

Pria yang akrab disapa Karos itu menjelaskan, ide tersebut lahir dari diskusi rutin komunitas mereka dalam forum “Selapanan Konservasi”. Dari kajian itu, mereka menemukan fakta bahwa kompos di TPA Pakusari sebenarnya sudah terbentuk secara alami selama sekitar satu dekade terakhir.

Kompos tersebut kemudian diambil dan akan dibawa ke sekretariat masing-masing peserta untuk diolah kembali menjadi media tanam. Tak berhenti di situ, hasilnya akan dibagikan ke publik melalui media sosial sebagai bentuk edukasi.

“Kami ingin mengedukasi masyarakat lewat konten di Instagram, TikTok, dan lainnya. Bahwa sampah, khususnya organik, bisa punya nilai guna,” tambahnya.

Sekitar 30 peserta terlibat dalam aksi ini. Mayoritas berasal dari kalangan mahasiswa lintas kampus, mulai dari Universitas Jember, UIN, hingga Universitas Muhammadiyah Jember. Sejumlah alumni organisasi pecinta alam juga turut ambil bagian.

Pemilihan TPA Pakusari bukan tanpa alasan. Berdasarkan data yang mereka kaji, lokasi tersebut menjadi titik penumpukan sampah terbesar di Jember dengan volume mencapai sekitar 250 ton per hari.

“Dari hasil kajian kami, sekitar 81,9 persen sampah di sini adalah organik. Itu potensi besar untuk diolah jadi kompos,” jelas Karos.

Ia menegaskan, aksi ini bukan kegiatan seremonial semata. Dalam dua hingga tiga bulan ke depan, mereka berencana terus mengampanyekan pemanfaatan sampah melalui berbagai platform digital.

Di sisi lain, pihak pengelola TPA Pakusari menyambut baik inisiatif tersebut. Operator jembatan timbang, M. Sholeh, menilai keterlibatan mahasiswa dapat membantu mengurangi volume sampah yang menumpuk.

“Bagus sekali. Dengan diambilnya kompos ini, bisa mengurangi gundukan sampah. Terutama sampah organik yang bisa dimanfaatkan untuk pertanian,” ujarnya.

Selama ini, menurut Sholeh, kompos dari TPA Pakusari memang telah dimanfaatkan, meski belum optimal.

Pengelola biasanya menyalurkan kompos kepada pihak-pihak yang membutuhkan, termasuk bekerja sama dengan TNI, Polri, maupun masyarakat. “Biasanya kita salurkan atau sumbangkan ke yang membutuhkan,” katanya.

Dengan produksi sampah yang mencapai ratusan ton setiap hari, kolaborasi antara masyarakat, mahasiswa, dan pengelola dinilai menjadi kunci untuk mengurangi beban lingkungan.

Aksi kecil di Hari Bumi ini pun menjadi pengingat, solusi atas persoalan sampah bisa dimulai dari langkah sederhana salah satunya mengubah yang terbuang menjadi sesuatu yang bernilai. (dsm/why)


Share to