Perkebunan Kahyangan Jember Mulai Tinggalkan Tumpangsari, Siapkan Hilirisasi Kopi

Dwi Sugesti Megamuslimah
Dwi Sugesti Megamuslimah

Tuesday, 07 Jul 2026 16:51 WIB

Perkebunan Kahyangan Jember Mulai Tinggalkan Tumpangsari, Siapkan Hilirisasi Kopi

KOPI: Proses pemetikan kopi di Perkebunan Kahyangan Jember.

JEMBER, TADATODAYS.COM - Perumda Perkebunan (PP) Kahyangan Jember mulai menata ulang strategi pengembangan komoditas kopinya. Perusahaan daerah itu tak lagi hanya berfokus menjual biji kopi mentah (green bean), tetapi menyiapkan hilirisasi melalui pengembangan produk specialty coffee.

Di sisi hulu, PDP juga akan meninggalkan sistem tanam tumpangsari dan beralih ke monokultur guna meningkatkan produktivitas serta kualitas hasil panen.

Direktur Produksi PDP Kahyangan Jember, Nyoman Aribowo, mengatakan kopi menjadi salah satu komoditas unggulan perusahaan yang diharapkan mampu memperkuat identitas Jember sebagai daerah penghasil kopi robusta.

"Komoditas utama kami memang karet dan kopi. Tapi kopi ini menjadi komoditas unggulan dan harapannya bisa menjadi brand-nya Jember," ujarnya Selasa (7/7/2026) siang.

SORTIR: Proses penyortiran biji kopi oleh pekerja di Perkebunan Kahyangan Jember.

Selama ini PP Kahyangan mengolah kopi hingga tahap green bean atau beras kopi. Namun ke depan, perusahaan mulai mengembangkan sektor hilir dengan menghadirkan produk kopi olahan yang menyasar pasar specialty coffee hingga kelas premium.

Menurut Nyoman, kualitas kopi tidak hanya ditentukan oleh proses budidaya di kebun, tetapi juga dipengaruhi pengolahan pascapanen. Karena itu, pengembangan hilirisasi dinilai menjadi langkah penting untuk meningkatkan nilai tambah produk.

"Kopi itu kualitasnya ditentukan oleh dua hal, budidayanya dan proses pengolahannya. Nanti di sektor hilir kita akan mengembangkan produk-produk olahan, mulai kualitas biasa sampai premium," katanya.

Selain itu, PP Kahyangan juga berkomitmen mempertahankan produksi kopi organik sebagai salah satu keunggulan yang dimiliki. Untuk mendukung pengembangan produk premium tersebut, perusahaan mulai melakukan pembenahan di sektor budidaya. Salah satunya dengan meninggalkan pola tanam tumpangsari antara kopi dan karet yang selama ini diterapkan.

Nyoman menjelaskan, sistem tersebut dinilai sudah tidak efektif ketika tanaman karet memasuki usia dewasa. Tajuk pohon karet yang semakin rapat menyebabkan tanaman kopi kekurangan sinar matahari sehingga produktivitasnya menurun.

Lebih lanjut, PP Kahyangan akan menerapkan sistem monokultur dengan memisahkan areal tanam kopi dan karet agar masing-masing komoditas dapat dikelola secara lebih optimal. "Kita tidak lagi mengejar luas lahan, tetapi produktivitasnya. Kopi ya khusus kopi, karet ya khusus karet. Prinsipnya intensifikasi," ujarnya.

Ia menyebut pengelolaan kebun nantinya akan berpedoman pada prinsip FSB, yakni Fokus, Serius, dan Benar, agar peningkatan produktivitas dapat dicapai secara maksimal.

Meski terus melakukan pembenahan di sektor produksi, Nyoman memastikan pemasaran kopi maupun karet bukan menjadi persoalan bagi perusahaan. Permintaan pasar terhadap kedua komoditas tersebut masih tinggi sehingga hasil panen relatif mudah terserap.

"Kalau soal market, kita tidak ada masalah. Pembeli sudah banyak. Justru PR kita sekarang adalah bagaimana meningkatkan produktivitas," katanya.

Saat ini PDP Kahyangan membudidayakan kopi robusta yang sesuai dengan karakter wilayah Jember yang sebagian besar berada di bawah ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut.

Melalui penguatan budidaya di sektor hulu dan pengembangan hilirisasi di sektor pengolahan, perusahaan berharap mampu meningkatkan daya saing kopi Jember sekaligus memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi komoditas unggulan daerah tersebut. (dsm/why)


Share to