Andi Saputra


Wartawan Tadatodays.com | 2021-10-23 08:15:49

Pesantren At Tanwir Tumbuh-Kembang bersama Kopi

PONDOK Pesantren At-Tanwir Jember berdiri di tengah masyarakat Dusun Sumber Gadung, Desa Slateng, Kecamatan Ledokombo. Pendiri sekaligus pengasuh Ponpes At-Tanwir adalah seorang ustadz muda bernama Muhammad Zainul Wasik atau karib disapa ustadz Danil. Sapaan “Danil” diambil dari nama putra pertamanya, yaitu “Aleq Dinillah”.   

Di Ponpes At-Tanwir, ada beberapa kegiatan usaha yang menjadi ikhtiar kemandirian, sekaligus sebagai media dakwah pemberdayaan.

Baca Juga : Bilbana, Jilbab berkualitas Tinggi dari Pondok Pesantren Addimyati

Sejarah berdirinya pesantren At Tanwir sendiri dimulai pada saat ustadz Danil pada tahun 2006 memutuskan untuk pulang ke kampung istrinya di Dusun Sumber Gadung. Ini merupakan sebuah dusun kecil yang berada di ujung Desa Slateng, di Kecamatan Ledokombo.

Baca Juga : Bilbana, Jilbab berkualitas Tinggi dari Ponpes Addimyati

Meski telah memiliki cukup bekal ilmu, kondisi saat itu belum membawa ustadz Danil untuk langsung mendirikan pesantren. Namun, aktivitas berdakwah dan bermanfaat untuk masyarakat, seperti telah menjadi jalan hidup ustadz Danil.

Bermula dari kepeduliannya terhadap banyaknya anak putus sekolah, pada tahun 2006 ustadz Danil membentuk kelompok belajar kecil-kecilan.  

KOPI: Aneka produk kopi yang dikembangkan Ponpes At Tanwir Jember.

Lalu meski belum memiliki pesantren, di tahun yang sama ustadz Danil juga dititipi dua orang anak oleh orang yang percaya kepadanya. Dua anak tersebut sengaja dititipkan agar menimba ilmu, atau bisa disebut nyantri kepada ustadz Danil. Meski berat, dengan bermodal keyakinan, amanah tersebut diterima oleh ustadz Danil. Dan itulah yang menjadi cikal bakal berdirinya Ponpes At-Tanwir.

Seiring berjalannya waktu, pendidikan non formal dirasa tidak memberi dampak signifikan dalam mengentaskan angka putus sekolah. Hingga pada tahun 2008, barulah ustad Danil mendirikan sekolah menengah pertama terbuka. “Tetapi SMP terbuka itu masih belum menjadi solusi, masih menjadi tangga untuk mendapat solusi-solusi lainnya,” tutur ustadz Danil.  

Meski ustadz Danil telah mendirikan lembaga pendidikan, tetapi minat belajar anak-anak seringkali terganggu pada saat musim panen kopi tiba. “Siswa memilih membantu orang tuanya memetik kopi ketimbang sekolah,” kisahnya. 

Pada mulanya, ustadz Danil menilai kopi menjadi akar masalah malasnya anak sekolah di lingkungannya.  Tetapi, pandangannya itu berubah ketika mengetahui bahwa kopi akan bernilai jual tinggi jika pengolahanya tepat. 

Sebagai permulaan, pada tahun 2010, ustadz Danil mencoba membeli 200 batang kopi. Saat itu ustadz Danil dibantu keponakannya, yaitu Irham Bashori, seorang dosen UIN Malang yang fokus penelitian pemberdayaan masyarakat dan memiliki keahlian mengolah kopi. Sejak itu, perlahan-lahan ustadz Danil mulai mempelajari pengolahan kopi yang benar.

Berbekal pengalamannya itu, kemudian mulailah ustadz Danil mengedukasi masyarakat sekitarnya. “Lambat laun upaya itu membuahkan hasil. Masyarakat mulai terbuka dan menerima saran pengolahan kopi,” kata ustadz Danil.   

WIRAUSAHA: Para santri At Tanwir menangani beberapa jenis kembangan wirausaha selain kopi.

Berangkat dari situ pula pada tahun 2012, berkat dukungan masyarakat sekitar, ustadz Danil resmi mendirikan pondok pesantren dengan nama At-Tanwir yang artinya “bercahaya”. Dari semula hanya mengajar diniyah kepada para santri kalong, akhirnya ponpes di atas tanah 5 ribu meter persegi berhasil didirikan. “Semua itu hasil dari kopi,” tutur ustadz Danil.

Dari semula hanya memiliki 200 batang kopi, kini Ponpes At Tanwir telah memiliki 18 hektar kopi dengan kapasitas produksi 50 ton setiap kali panen. Dari hasil kopi itu pula sekitar 150 santri yang bermukim di Ponpes At Tanwir digratiskan biaya pondok. Seluruh kebutuhan dipenuhi oleh ponpes dari hasil panen kopi.  Selain ponpes, dua lembaga pendidikan umum juga dimiliki oleh Yayasan Ponpes At-Tanwir, yakni SMP dan SMK Islam At-Tanwir.  

Ponpes At Tanwir memiliki ciri khas tersendiri jika dibandingkan dengan ponpes pada umumnya. Ciri khas Ponpes At Tanwir terletak pada caranya menempa jiwa kemandirian para santri, dan pola pemberdayaan yang diberikan kepada masyarakat sekitar.

Tak hanya itu, Ponpes At-Tanwir siap menerima secara terbuka, siapa saja yang berkunjung. Dan mengunjungi ponpes at tanwir tak ubahnya berwisata. Sebab, Ponpes At-Tanwir berada di lereng Gunung Raung, dengan pemandangan hamparan sawah dekililingi pepohonan rimbun, serta aliran sungai kecil dengan air yang sangat jernih. Semua ini membuat siapa saja yang mengunjunginya akan merasa betah berlama-lama di Pondok Pesantren At-Tanwir.

Ponpes yang resmi berdiri pada tahun 2012 ini menempa jiwa kemandirian santrinya dengan memberikan bekal tambahan berupa pelatihan pengolahan kopi, mulai dari pembibitan hingga pemasaran. Kini, setiap musim panen, ponpes mampu menjual ratusan ton biji kopi dan juga memproduksi kopi bubuk sendiri dengan brand “kopi pesantren” yang telah dikenal luas di masyarakat.

Hanya, pada saat produksi dari biji kopi hingga menjadi bubuk tidak dilakukan sendiri di ponpes, melainkan diproses di Malang. Alasannya, pasar kopi di Malang lebih menjanjikan jika dibandingkan di Jember.

Aktivitas pengolahan kopi telah dikenal luas, sehingga Ponpes At-Tanwir dijuluki “pesantren kopi”. Bahkan biji kopi pilihan dari Ponpes At-Tanwir telah dikirim ke pabrik kopi instan seperti yang ada di Gresik dan Sidoarjo.  

Sebagai wujud nyata pendidikan kewirausahaan, para santri juga dilibatkan secara langsung dalam proses mengelolaan usaha lain yang tengah dikembangkan pesantren, yakni budidaya bibit ikan air tawar seperti nila, koi, dan lobster air tawar.

LENGKAP: Selain belajar ilmu agama, para santri Ponpes At Tanwir juga diajari kewirausahaan.

Pada usaha tersebut, alumni ponpes juga dilibatkan. Para alumni yang memiliki lahan persawahan akan dipinjam sawahnya untuk disebar bibit. Setelah 60 hari ketika panen, pemilik akan mendapat bagi hasil.  Pembibitan ikan air tawar ini menggunakan sistem mitra padi. Jadi, bibit ikan bisa ditebar diantara padi.

Bibit ikan air tawar yang dipanen telah dikirim ke berbagai daerah, di antaranya ke Blitar, Malang dan Bali. Untuk usaha lain yang juga baru dimulai adalah peternakan kambing etawa, serta berniat membuat pabrik tahu dan tempe.

Pada prinsipnya, kata ustadz Danil, para santri yang dilibatkan dalam proses pengolaan usaha ditargetkan sebagai ahli. “Mulai dari ahli kopi, ahli budidaya ikan tawar dan juga ahli di bidang kambing etawa. Kita ingin ada santri ahli bibit ikan, ahli kambing etawa, dan ahli kopi,” kata ustadz Danil.

Sementara itu, edukasi pengolahan kopi tidak berhenti untuk santri saja, tetapi juga diberikan kepada masyarakat sekitar. “Jadi, masyarakat sekitar yang notabene petani kopi mendapatkan sentuhan khusus dari Ponpes At Tanwir. Mereka diberi pemahaman terkait bagaimana mengolah kopi agar nilai jualnya lebih tinggi,” terangnya.

Dari tingginya penerimaan masyarakat pada pola pengolahan kopi itu kemudian dibentuklah kelompok petani kopi yang bermitra dengan Pondok Pesantren At Tanwir.  Kelompok ini beranggotakan 56 orang,  dengan luas lahan garapan kelompok seluas 60 hektar. Melalui bimbingan ponpes, kini para petani mulai memilah biji kopi, kemudian menjual kopi kepada pesantren dengan harga lebih tinggi ketimbang dijual kepada pengepul.

Pondok Pesantren At Tanwir tumbuh dan berkembang bersama perkebunan kopi. Jika musim panen kopi tiba, Ponpes At Tanwir mampu membeli dan menjual hingga ratusan ton biji kopi. “Semua hasil panen kopi sepenuhnya untuk keperluan ponpes dan kemajuan pembangunan ponpes. Dan dari situ dipastikan para santri yang mukim di At-Tanwir akan dijamin segala macam kebutuhannya,” kata ustadz Danil. (as/why)