Podcast Kesehatan “Ngobras” Dinkes Kabupaten Probolinggo Bahas Imunisasi

Hilal Lahan Amrullah
Wednesday, 12 Aug 2026 13:51 WIB

BAHAS: JF Epidemologi Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo, Retno Anjar Pratiwi dan Penelaah Teknis Kebijakan Bidang P2P Dinkes Kabupaten Probolinggo, Putri Meilia membahas Imunisasi pada Podkes "Ngobras" Dinkes Kabupaten Probolinggo.
Imunisasi Melindungi dari Wabah dan Kecacatan
PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Imunisasi menjadi topik bahasan Podcast Kesehatan (Podkes) "Ngobras" Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo. Topik ini dibahas bersama narasumber JF Epidemologi Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo, Retno Anjar Pratiwi dan Penelaah Teknis Kebijakan Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo, Putri Meilia.
JF Epidemologi Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo, Retno Anjar Pratiwi menyampaikan bahwa Imunisasi adalah upaya untuk meningkatkan kekebalan tubuh seseorang agar dapat melawan penyakit tertentu, terutama penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). “Imunisasi penting dilakukan untuk melindungi individu dan masyarakat dari wabah dan kecacatan akibat penyakit seperti polio, campak, difteri, dan tetanus,” terangnya.
.png)
Perempuan yang akrab disapa Anjar ini, menambahkan bahwa imunisasi dimulai sejak bayi lahir, dengan imunisasi HB-0 diberikan maksimal 24 jam setelah lahir. Selanjutnya, imunisasi dasar lengkap diberikan sampai usia 1 tahun (11 bulan), termasuk imunisasi lanjutan hingga usia 2 tahun. “Imunisasi juga dilakukan di sekolah dan bisa didapatkan di Puskesmas, posyandu, klinik, dan fasilitas kesehatan lainnya secara gratis dari pemerintah,” jelasnya
Adapun imunisasi dasar lengkap meliputi vaksin untuk mencegah penyakit seperti polio, campak, difteri, pertusis, tetanus, dan hepatitis B. Ada juga imunisasi lanjutan dan imunisasi di usia sekolah serta untuk wanita usia subur. Beberapa vaksin dapat diberikan bersamaan (multiple injeksi) untuk efisiensi, dan vaksin tertentu mungkin menyebabkan reaksi ringan seperti demam.
Sedangkan sebagian imunisasi dapat menyebabkan reaksi ringan seperti demam dan rewel, yang dapat diatasi dengan pemberian parasetamol dan kompres hangat. Tidak semua vaksin menyebabkan sakit berat atau efek samping berlebihan. “Efek samping yang serius sangat jarang dan imunisasi justru mencegah kecacatan dan kematian akibat penyakit,” ungkapnya.


IMUNISASI: Salah seorang balita di Desa/Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo mengikuti imunisasi di salah satu Posyandu.
Sementara, Penelaah Teknis Kebijakan Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo, Putri Meilia, menyampaikan bahwa banyak berita hoaks yang menyatakan imunisasi menyebabkan cacat atau penyakit serius. Padahal, imunisasi justru melindungi dari kecacatan dan kematian. Imunisasi polio, misalnya, mencegah lumpuh layu dan kecacatan permanen.
Putri menambahkan bahwa jika imunisasi terlewat, bisa dilakukan pengejaran (IRL) sesuai jadwal. Imunisasi dapat diberikan di luar waktu yang dianjurkan, dan penting untuk mengikuti jadwal agar perlindungan optimal tercapai. “Orang tua disarankan untuk selalu memantau jadwal imunisasi melalui buku KIA dan konfirmasi ke petugas Kesehatan,” tuturnya.
Perempuan berkerudung ini mengatakan bahwa orang tua harus mencari informasi dari sumber terpercaya seperti dokter atau petugas kesehatan, dan tidak percaya berita hoaks. Membaca buku KIA dan aktif mengonfirmasi jadwal imunisasi sangat dianjurkan. “Keluarga, termasuk kakek-nenek, harus mendukung dan tidak ragu membawa anak untuk imunisasi demi kesehatan dan masa depan anak,” harapnya.
Imunisasi adalah langkah penting dan aman untuk melindungi anak dari penyakit berbahaya. Melakukan imunisasi sesuai jadwal dan menghindari penolakan serta hoaks akan membantu menciptakan generasi sehat dan bebas dari kecacatan serta kematian akibat penyakit yang dapat dicegah. (*/hla/why)

Share to
 (lp).jpg)