Andi Saputra


Wartawan Tadatodays.com | 2021-10-12 20:41:13

PPA Ibnu Katsir Rintis Kemandirian melalui Kewirausahaan

IBKA MART: Ibnu Katsir Mart yang saat ini menjadi sayap usaha paling dinamis di lingkungan PPA Ibnu Katsir.

KEWIRAUSAHAAN atau entrepreneurship menjadi aspek penting bagi Pondok Pesantren Alquran (PPA) Ibnu Katsir,  Jember. Sebab, kewirausahaan menjadi bagian dari ikhtiar kemandirian ponpes tersebut. Selain itu, kewirausahaan juga menjadi medan pengabdian sekaligus pembelajaran nyata bagi para santri Ponpes Ibnu Katsir.

PPA Ibnu Katsir Jember terletak di Jalan Mangga nomor 18, Cangkring, Patrang.  Pondok pesantren ini didirikan pada 2011 oleh Yayasan Ibnu Katsir. Saat ini sudah ada lima lembaga pendidikan Ibnu Katsir yang tersebar di beberapa daerah.  

Baca Juga : Pesantren Al-Hasan 1 Tempa Santri Jadi Ahli Kopi

Lima lembaga tersebut masing-masing adalah Ponpes Ibnu Katsir di Patrang yang merupakan ponpes putra;  Ponpes Ibnu Katsir untuk putri berlokasi di Kaliwates; Ponpes Ibnu Katsir untuk tingkat SMA dan SMK berlokasi di Rembangan; Ponpes ibnu katsir setingkat SMP yang ada di Mojokerto; dan Ponpes Ibnu Katsir di Kota Batu yang memiliki spesifikasi khusus hafalan dan bahasa Arab.  

Baca Juga : Pesantren Al-Hasan 1 Tempa Santri Menjadi Ahli Kopi

PPA Ibnu Katsir di Patrang merupakan ponpes putra untuk yang sudah lulus dari pendidikan tingkat SMA dan sederajat. Selain itu, PPA Ibnu Katsir di Patrang juga sudah melakukan pengembangan dengan membuka PAUD dan TK, serta Madinah (pendidikan setingkat SD).

Di ponpes putra Ibnu Katsir di Patrang yang berdiri atas lahan seluas 4 ribu meter persegi, saat ini ada 74 santri yang mondok. Selama di ponpes tersebut, para santri menghafal Alquran. Sedangkan untuk pendidikan formalnya, para santri dikuliahkan ke berbagai perguruan tinggi. Di antaranya ialah IKIP dan Universitas Islam Jember.

WIRAUSAHA: Upaya kemandirian yang dibangun PPA Ibnu Katsir melalui usaha pom mini, penggemukan domba, IBKA Mart dan budidaya jamur tiram.

“Semua kebutuhan santri dipenuhi secara gratis. Mulai dari kebutuhan makan dan tempat tinggal di dalam ponpes, sampai kuliahnya, semuanya ditanggung ponpes,” terang ustadz Yudi Setiawan (47) dari Departemen Ekonomi PPA Ibnu Katsir saat dikunjungi Tadatodays.com, Jumat (24/9/21). Menurutnya, untuk memenuhi semua operasional tersebut, Yayasan Ibnu Katsir mengandalkan donasi.   

Lalu pada 2019, Yayasan Ibnu Katsir melakukan penyegaran kepengurusan. Bersamaan dengan itu, Yayasan Ibnu Katsir yang dipimpin ustadz Abu Hasan, mulai mengembangkan departemen ekonomi. Melalui departemen ekonomi ini, PPA Ibnu Katsir menjalankan beberapa kegiatan usaha. “Kegiatan usaha yang dijalankan mulai tahun 2019 bertujuan membangun kemandirian. Terutama agar pemenuhan operasional tidak terlalu tergantung pada donasi,” kata ustadz Yudi.

Yudi merinci, ada lima kegiatan usaha yang dijalankan PPA Ibnu Katsir. Pertama, kolam budidaya ikan nila. Untuk ini ada kolam ikan berukuran 20 x 60 meter yang dibikin di Wirolegi. Kedua, budidaya jamur tiram di Baratan.   Ketiga, ternak kambing di Antirogo. Keempat, toko atau Ibnu Katsir (Ibka) Mart, dan terakhir ada pom mini.

Lima bidang usaha itu yang nantinya menjadi bidang pengabdian sekaligus pembelajaran para santri. Tetapi,  menurut ustadz Yudi, pelibatan santri PPA Ibnu Katsir pada aktivitas usaha tersebut baru dilakukan setelah santri lulus. “Sebelum lulus, para santri tetap harus fokus pada pendidikannya. Menghafal Alquran dan kuliah,” ujar Yudi yang alumnus Fakultas Pertanian Universitas Jember.  

Setelah lulus, lanjut ustadz Yudi, para santri menjalani masa pengabdian. Dalam masa pengabdian selama satu tahun, para lulusan ponpes Ibnu Katsir ditugaskan di bidang usaha atau bidang pendidikan. Karena bidang usaha yang dijalankan skalanya masih kecil, masa pengabdian santri selama ini masih lebih banyak terserap di bidang pendidikan.   

Lalu bagaimana potret aktivitas usaha yang telah dijalankan oleh ponpes ibnu katsir selama ini? Ustadz Yudi Setiawan kemudian menjelaskan satu per satu kondisi bidang usahanya. Dari lima aktivitas usaha yang dijalankan, Ibnu Katsir Mart disebut sebagai yang paling bagus kondisinya.

Ibnu Katsir Mart menjual berbagai kebutuhan sehari-hari, plus produk fashion. Toko ini berada di dalam lingkungan PPA Ibnu Katsir di Patrang. Menurut Ustad Yudi Setiawan, Ibnu Katsir Mart sudah mampu mencapai omzet Rp 70 juta rupiah perbulan. “Keuntungannya masih disetor untuk putaran modal,” katanya.

Sedangkan bidang usaha pom mini sampai kini juga cukup baik perjalanannya. Walaupun masih kecil skalanya,  namun pom mini sudah mampu menghasilkan pendapatan Rp 700 ribu per bulan.

HAFIZ: PPA Ibnu Katsir di Patrang, Jember, menciptakan generasi penghafal Alquran dan berakhlak Qurani.

Berikutnya, bidang usaha jamur tiram. Ustadz Yudi Setiawan menjelaskan, usaha budidaya jamur tiram yang berlokasi di Baratan, baru dijalankan pada akhir September 2020. Di masa awal panen, budidaya ini mampu menghasilkan 10 - 20 kilogram jamur tiram per hari. Jamur tiram itu kemudian diserap oleh dapur ponpes putra dan putri. “Statusnya tetap dibeli,” kata Yudi meyakinkan.  

Sayangnya, memasuki 2021, pandemi Covid-19 yang makin parah membuat budidaya jamur tiram ikut merosot. Terlebih, selama pandemi, para santri dipulangkan. “Kan baru pada Juni 2021 para santri kembali masuk pondok,” ujar Yudi.

Bidang usaha selanjutnya ialah ternak kambing. Peternakan kambing ada di lingkungan PPA Ibnu Katsir di Patrang dan kandang khusus di Antirogo. Menurut ustadz Yudi, fokus usaha ini adalah penggemukan domba lokal yang bisa dijual saat hari raya Idul Adha. “Baru satu kali Idul Adha kemarin, tetapi alhamdulillah sudah bisa setor pendapatan,” tutur Yudi.

Sedangkan untuk usaha kolam budidaya ikan, menurut ustadz Yudi Setiawan, yang dipilih ialah jenis ikan nila.  Dalam kolam berukuran 20 x 60 meter di Wirolegi ditabur ribuan benih ikan nila. Dari kolam ini sudah pernah dipanen. Tetapi sayangnya, belum ada orang yang fokus memberi pakan. Alhasil, usaha budidaya ikan itu sekarang vakum. “Ada wacana mengalihkan kolam itu menjadi kolam pancing,” terangnya.  

Menurut ustadz Yudi Setiawan, PPA Ibnu Katsir memiliki visi sebagai lembaga pendidikan nasional yang mencetak generasi hafal Alquran dan berakhlak Qurani. Karena itu, sebelum lulus, para santri PPA Ibnu Katsir diarahkan agar fokus dengan pembelajarannya. Lalu setelah lulus, para santri baru menjalankan tugas pengabdian di bidang usaha dan Pendidikan.  

Walau begitu, bukan berarti tidak ada sama sekali pembelajaran entrepreneurship di kalangan santri PPA Ibnu Katsir selama masa belajar. Ustadz Yudi Setiawan menyatakan, ada juga pembekalan entrepreneurship secara teori bagi para santri. “Misalnya melalui pelatihan tentang digital marketing dan topik-topik kewirausahaan kekinian yang dekat dengan anak muda,” ujarnya. (as/why)