Mochammad Angga


Wartawan Tadatodays.com | 2021-10-29 14:01:52

Proyek “Kotaku” Bikin Pagar Rumah Miring, Warga Mengeluh

PROYEK: Warga Mayangan langsung mendatangi pejabat Dinas PUPR Kota Probolinggo yang mendampingi Komisi III DPRD setempat, saat memantau proyek program "Kotaku" di Kelurahan/Kecamatan Mayangan, Kamis kemarin.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Proyek Kota Tanpa Kumuh atau “Kotaku” di Kelurahan/Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, dikeluhkan warga. Warga Rt 1 Rw 5 Jalan Ikan Dorang, Kelurahan Mayangan, mengeluhkan proyek pembangunan drainase dalam program yang dikelola pemerintah Provinsi Jawa Timur itu. Pasalnya, pagar rumah warga jadi miring. Pengairan sampah rumah terhambat dan permukaan jalan kalah tinggi dengan drainase box culvert.

Karena ada keluhan warga, pada Kamis siang, 28 Oktober 2021 Komisi III DPRD Kota Probolinggo sidak ke lokasi. Rombongan Komisi III yang diketuai Agus Riyanto saat tiba di lokasi, langsung disambut protes beberapa warga.

Baca Juga : Capaian Pembangunan Air Minum dan Sanitasi di Kota Probolinggo Mencapai 95,95 Persen

Muhammad Sholeh, 37, seorang warga setempat berusaha melancarkan memprotes dengan intonasi tinggi. “Pekerjaan drainase merugikan warga,” katanya. 

Baca Juga : Capaian Pembangunan Air Minum dan Sanitasi di Kota Probolinggo Capai 95,95 Persen

Pria yang karib disapa Sholeh itu tidak mengerti detail bagaimana pembangunan tersebut. Mulai dari ketinggian drainase yang tidak sama dengan jalan, penempatan drainase dan pembuangan limbah rumah tangga. Keluhan itu sudah sempat disampaikan kepada lurah setempat dan pelaksana proyek. “Tetapi tidak ada solusi,” ujarnya. 

Suharsono, 71, warga lainnya menambahkan jika akses untuk keluar-masuk rumahnya kini jadi sulit. Ia berharap kepada pelaksana proyek agar memperhatikan pekerjaannya.

Sedangkan warga bernama Irwan Rasyid, yang depan rumahnya tertutup ekskavator, mengaku kesulitan memasukkan mobilnya. “Akhirnya saya nyewa garasi,” kata Irwan.

Irwan mempertanyakan siapa yang akan bertanggung jika ada infrastruktur yang rusak. Ia bahkan memperingatkan agar jika proyek yang selesai, pihak penggarap tidak langsung pergi begitu saja. “ Perlu pernyataan hitam di atas putih,” tutur Iwan.

Sementara, Pelaksana Proyek bernama Amirul, mengatakan bahwa peningkatan kualitas pemukiman kumuh pada program Kotaku ini dianggarkan Rp 12 miliar. Pekerjaannya ialah memperbaiki saluran eksisting supaya dapat mengalir secara lancar menuju Pelabuhan. “Saluran eksisting sebelumnya tersumbat sedimentasi,” ujarnya.

Pekerjaan dengan anggaran 12 miliar rupiah ini dikerjakan di sekitar kawasan Mayangan, dan digarap sejak Juni 2021 sampai dengan Februari 2022. Menurutnya, kerusakan yang terjadi akibat proyek ini nantinya akan diperbaiki.

Sedangkan Kabid Perkim pada Dinas PUPR Kota Probolinggo, Muhammad Kholik memastikan jika pembangunan proyek drainase telah menyesuaikan ketinggian air laut terhadap permukiman penduduk.

Oleh karena itu, air yang berada di jalan akan mudah masuk ke drainase, juga mempercepat penyerapan air jika air laut tinggi. Pihaknya juga sudah menghitung debit air curah hujan dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. “Jadi, kedepan tidak akan banjir,” kata Kholik.

Kholik mengungkapkan, proyek “Kotaku” berasal dari Bank Dunia. Dengan menelan anggaran kurang lebh 12 miliar rupiah.

Proyek ini salah satu tujuannya untuk memperbaiki seluruh saluran yang ada di Mayangan. “Ada lima saluran yang semuanya nanti bermuara di laut utara," katanya.

Ia pun memastikan seluruh aspirasi warga yang terdampak terkait pengerjaan proyek “Kotaku” tetap akan diperbaiki sesuai dengan ketentuan. (ang/don)