Rachmat Hadi, Guru SLB di Jember yang Perjuangkan Alquran Braille di Tengah Minimnya Akses Disabilitas

Dwi Sugesti Megamuslimah
Dwi Sugesti Megamuslimah

Monday, 23 Feb 2026 18:38 WIB

Rachmat Hadi, Guru SLB di Jember yang Perjuangkan Alquran Braille di Tengah Minimnya Akses Disabilitas

MENGAJAR: Guru SLB Negeri Jember yang Mengajar Alquran Braille, Rachmat Hadi saat mengajari muridnya.

JEMBER, TADATODAYS.COM - Di tengah terbatasnya akses pendidikan agama bagi penyandang tunanetra di Jember, Rachmat Hadi tetap bertahan mengajar Alquran Braille selama lebih dari tiga dekade. Ia berbuat, tanpa insentif khusus, tanpa program daerah yang benar-benar menyasar ruang kelas disabilitas.

Setiap pagi, Rachmat berangkat dari rumahnya di Kelurahan Gebang, Kecamatan Patrang menuju SLB Negeri Jember. Kadang diantar keluarga. Tetapi, ia lebih sering menggunakan jasa ojek online. Di sekolah itulah ia mengajar sejak 1993.

Rachmat sendiri adalah tunanetra. Namun keterbatasan penglihatan tidak menghentikannya mengajarkan huruf-huruf Braille kepada murid-muridnya. Bagi dia, membaca Alquran bukan sekadar kemampuan tambahan, melainkan hak dasar.

“Alquran itu hak semua umat Islam, termasuk anak-anak netra. Itu hak sekaligus kewajiban. Kalau kita tahu, ya harus mengajarkan,” ujarnya, Senin (23/2/2026)

Di sekolah, ia menangani beberapa kelas sekaligus, mulai dari MDVI (tunanetra dengan disabilitas lain) hingga kelas reguler tunanetra. Jam formal berakhir pukul 13.00 WIB. Namun pengajaran Alquran berlanjut hingga sore. Masalahnya bukan pada semangat belajar siswa. Hambatan terbesar justru pada ketersediaan mushaf.

BRAILLE: Murid SLB Negeri Jember saat belajar membaca Alquran Braille.

Satu set Alquran Braille terdiri dari 30 buku tebal, masing-masing mewakili satu juz. Biaya cetaknya berkisar Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta. Tidak semua keluarga mampu membeli.

Melalui jejaring komunitas, Rachmat menggalang wakaf agar siswa memiliki mushaf sendiri. Hasilnya mulai terlihat. Sebagian besar peserta didik yang aktif kini sudah memiliki Alquran Braille.

Namun jika melihat data, pekerjaan belum selesai. Dari sekitar 140–150 penyandang tunanetra yang terdata di Jember, baru sekitar 30 persen yang bisa mengakses pembelajaran Alquran. Dan belum semuanya lancar membaca. “Perjuangan masih panjang,” katanya.

Rachmat juga aktif di Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) Cabang Jember. Setiap malam Jumat, ia menggelar tadarus daring agar peserta didik tetap bisa belajar dari rumah. Ia juga mulai menyiapkan kader dari murid yang sudah lancar untuk mengajar adik kelasnya.

Di sisi lain, ia menilai dukungan kebijakan belum sepenuhnya berpihak. Program insentif guru ngaji yang digagas pemerintah daerah, menurutnya, lebih menyasar pengajar di musala atau TPQ. Pengajar di lingkungan SLB dan komunitas disabilitas belum tersentuh.

“Kalau di musala atau TPQ mungkin ada. Kami yang di sekolah seperti ini belum. Ya rezekinya dari Allah saja,” ujarnya.

Persoalan tidak berhenti pada insentif. Aksesibilitas ruang publik di Jember juga masih jauh dari ideal. Guiding block di kawasan alun-alun kerap terhalang pedagang. Trotoar belum sepenuhnya aman bagi tunanetra.

Padahal, Peraturan Daerah tentang Disabilitas sudah diperjuangkan sejak 2003 dan disahkan pada 2014. Namun implementasinya dinilai belum maksimal. “Perdanya ada. Tapi pelaksanaannya belum terasa,” kata Rachmat.

Ia juga menyoroti sejumlah masjid publik yang belum ramah disabilitas. Tempat wudu hingga desain fasilitas seringkali dibangun tanpa melibatkan penyandang disabilitas sebagai pengguna.

Bagi Rachmat, pendidikan tetap prioritas utama. Di tengah aktivitasnya mengajar dan berorganisasi di Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) serta ITMI, ia tetap membesarkan dua anaknya hingga perguruan tinggi.

Putrinya kini kuliah di Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember. Sedangkan putranya menempuh Pendidikan Luar Biasa di Universitas PGRI Argopuro Jember.

Lebih dari 30 tahun Rachmat mengajar tanpa banyak sorotan. Namun baginya, yang terpenting bukanlah pengakuan. Ia hanya ingin memastikan satu hal yakni penyandang tunanetra di Jember memiliki akses yang setara untuk membaca firman Tuhan dengan tangan mereka sendiri. (dsm/why)


Share to