Tadatodays


Wartawan Tadatodays.com | 2021-11-26 20:05:23

Sukses Disdikbud Kota Probolinggo Gelar Lomba Membuat Jaran Bodhag 2021

FINALIS: Sebagian jaran bodhag karya peserta yang berhasil masuk babak final Lomba Membuat Jaran Bodhag 2021 gelaran Disdikbud Kota Probolinggo.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Dalam rangka melestarikan dan mengembangkan kesenian jaran bodhag, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Probolinggo rutin menggelar event. Salah satunya adalah lomba membuat jaran bodhag untuk tingkat SD, SMP dan umum. Rabu (24/11/21), lomba ini memasuki babak final yang digelar di Gedung Kesenian Kota Probolinggo.  

Baca Juga : Sukses Disdikbud Kota Probolinggo Menggelar Lomba Membuat Jaran Bodhag 2021

Sebelum memasuki acara inti, hadirin lebih dulu dihibur penampilan kelompok Daul Cokro Budoyo dari Kelurahan Jati dan jaran bodhag dari Sanggar Mardi Budoyo binaan Yuyun Widowati. Hadirin babak final terdiri atas Kepala Disdikbud Kota Probolinggo Moch. Maskur, Kabid Budaya Sardi yang diwakili Kasi Sejarah dan Tradisi Subandri, jajaran staf Disdikbud, para finalis dan pendamping, serta dewan juri.

Baca Juga : PTM di Kota Probolinggo Segera Terealisasi, Tapi Hanya Perwakilan di Setiap Kecamatan

Selanjutnya, final Lomba Membuat Jaran Bodhag dibuka Kepala Disdikbud Moch. Maskur. Dalam sambutannya, Maskur menyatakan keinginannya untuk mengembangkan kesenian jaran bodhag. Selain melalui lomba ini, Maskur mengaku ingin kelak ada sajian jaran bodhag masal. Selain itu, ia ingin menjadikan kesenian jaran bodhag sebagai sajian pembuka di setiap acara-acara pemerintahan dan sekolah.

Maskur menyatakan bahwa jaran bodhag sudah ditetapkan sebagai warisan budaya khas Kota Probolinggo oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI sejak 17 Agustus 2014. Karena itu, jaran bodhag harus terus dilestarikan dan dikembangkan. “Sebagai pengembangannya, kami ingin nantinya kesenian jaran bodhag ini kembali menjadi pengisi acara-acara hajatan di masyarakat,” ujar Maskur saat ditemui usai memberi sambutan pembukaan.

Maskur menambahkan, lomba ini sengaja diselenggarakan untuk membumikan seni jaran bodhag di kalangan pelajar. “Dari belajar membuat, para pelajar diharapkan punya kecintaan pada jaran bodhag. Mereka akan terinspirasi tentang bagaimana gerakan-gerakannya,” ujarnya.

Lomba membuat jaran bodhag tahun 2021 merupakan gelaran kedua. Lomba pertama digelar pada tahun awal terjadi pandemi Covid-19, yaitu 2020, sehingga jumlah pesertanya tidak terlalu banyak. Sedangkan tahun ini sebagai penyelenggaraan kedua, seiring melandainya pandemi, jumlah pesertanya meningkat.  

JUARA: Para juara Lomba Membuat Jaran Bodhag 2021 tingkat SD, SMP dan Umum berfoto bareng dewan juri dan jajaran penyelenggara.

Lomba membuat jaran bodhag tahun 2021 ini melewati beberapa tahapan. Setelah melewati tahap pendaftaran, panitia melakukan technical meeting pada 6 November 2021. Lalu peserta diharuskan mengumpulkan video proses pembuatan jaran bodhag. Videonya dibatasi berdurasi maksimal 5 menit, dan harus dikumpulkan pada 18 November 2021. Pada tanggal itu pula peserta menyerahkan fisik jaran bodhag karyanya.

Tahap berikutnya, panitia melalui dewan juri melakukan seleksi pertama untuk memilih finalis. Video dan jaran bodhag yang terkirim total 28 buah. Masing-masing adalah 10 jaran bodhag dari kategori SD, 8 dari kategori SMP, dan 10 dari kategori umum. Kategori umum terdiri atas pelajar tingkat SMA/ sanggar/ maupun perorangan. Melalui seleksi ini dipilih 6 finalis dari masing-masing kategori atau tingkat.  

Di babak final, sejumlah 18 finalis dinilai oleh tiga orang juri, yaitu Mufi Mubaroh dan Mohammad Arifin dari Surabaya, serta Dedy Prabowo dari Kota Probolinggo. Pertama, dewan juri menyimak video pembuatan jaran bodhag milik 18 finalis. Setelah itu, dewan juri menilai fisik jaran bodhag finalis.

Kriteria dasar penilaian meliputi keindahan, keserasian, kerapian. Namun ada lebih banyak lagi detail kisi-kisi kriteria yang dinilai dewan juri. Salah satunya adalah bobot atau proporsi berat jaran bodhag. Karena jaran bodhag ini untuk pelajar, maka juri harus memastikan bobot jaran bodhag tidak berat.  

Setelah cek fisik, tahap penilaian final bergeser ke penampilan singkat. Enam finalis dari ketiga kategori diharuskan memeragakan gerak jaran bodhag bikinannya di hadapan dewan juri. Peragaan dengan iringan musik membuat tahapan ini tak ubahnya pentas seni. Sebagian besar peserta sangat menikmati memeragakan jaran bodhag di atas panggung. Tapi tidak sedikit pula yang terlihat kaku-kaku menggoyangkan jaran bodhagnya.  

Selesai penampilan singkat para finalis, dewan juri bersidang. Hasil penjurian kemudian diumumkan siang itu juga (Selengkapnya baca tabel).  

Selanjutnya, hadiah trofi bagi para pemenang kategori SD, SMP dan Umum diserahkan oleh dewan juri bersama Kasi Sejarah dan Tradisi Disdikbud Kota Probolinggo. Selain trofi, para juara juga mendapat sertifikat dan dana pembinaan.   

Juri Mufi Mubaroh dari STKW Surabaya menyatakan, dalam lomba kali ini ada plus minusnya. Plusnya,  peserta lebih banyak dari gelaran pertama tahun 2020. Lalu kisi-kisi proporsi berat jaran bodhag, semuanya aman. Minusnya, sebagian besar peserta tidak berhasil di videonya. Yang dimaksud Muf,  video yang dibikin lebih banyak cut to cut, tidak menunjukkan proses logis.

“Sebagian video peserta cenderung presentasi pembuatan, bukan proses pembuatan yang logis. Misalnya, ada peserta tingkat SMP, perempuan, memegang las. Saya pikir itu kurang logis. Karena itu, kami komunikasikan dengan panitia agar tahun berikutnya, sekalian satu peserta terdiri atas dua orang. Misalnya, satu pria, satu perempuan. Untuk yang spesifik artistik, menjadi bagian tugas perempuan,” katanya.   

Di sisi lain, Mufi yang juga pelaku seni, berpesan agar Kota Probolinggo tidak lelah mengembangkan kesenian dan kebudayaan lokal yang dimiliki, termasuk jaran bodhag. Mufi mengajak melihat bangsa-bangsa besar lain yang meskipun gencar membangun teknologi, tetapi justru kuat mempertahankan warisan seni dan budayanya. “Bangsa-bangsa Eropa sejak 2012 lalu sibuk menggali lagi kebudayaan aslinya. Jepang, China, meskipun maju, tetapi tidak meninggalkan kebudayaannya,” katanya.  

Sementara, mereka yang berhasil menjadi pemenang, tentu gembira. Tetapi yang dirasakan Sutikno, juara dari kategori umum, tidak hanya gembira menjadi pemenang lomba ini. “Saya memang senang dengan kesenian tradisi. Jadi, kesenangan saya dari hati. Bisa ikut melestarikan kesenian jaran bodhag, meskipun melalui lomba,” ujarnya.

Selamat kepada para juara, dan sampai jumpa tahun depan!  (yua/ata/sal/brian/why)