Sungai Dijaga, Sampah Ditata, Desa Suci Mantapkan Diri Jadi Kampung Proklim Argopuro

Dwi Sugesti Megamuslimah
Tuesday, 18 Nov 2025 15:58 WIB

PUPUK: Pengolahan Pupuk Organik Limbah Pertanian Teknologi Bata Bolong di Desa Suci Panti, Jember.
JEMBER, TADATODAYS.COM - Desa Suci, Kecamatan Panti, menegaskan komitmennya menjadi kampung percontohan adaptasi perubahan iklim. Berada di kaki Pegunungan Argopuro dan memiliki mata air "Sumber Suci" sebagai hulu sungai, desa ini mendorong gerakan perlindungan lingkungan lewat program Kampung Proklim yang terfokus pada sungai lestari, kampung bebas sampah, dan pertanian berkelanjutan.
Inisiatif tersebut digarap bersama Fakultas Pertanian Universitas Jember (Unej) dengan dukungan Kemendikbudristek. Ketiganya disusun merujuk regulasi Proklim dalam Permen LHK Nomor P.84/2016, sekaligus diarahkan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui pendekatan yang sesuai kondisi lokal.
.png)
SUNGAI: Pelepasliaran Ikan Endemik di Sungai Desa Suci Panti Jember.
Parmuji, penggerak Bank Sampah Larahan Makmur, menyebut keberadaan sungai di Desa Suci sebagai sumber kebutuhan air bersih dan irigasi yang wajib dijaga dari ancaman sampah. “Ini aset vital desa. Tidak boleh ada limbah yang mencemari aliran sungai,” kata Parmuji, Selasa (18/11/2025).
Dalam lokakarya yang digelar di balai desa, warga bersama tim pendamping sepakat tiga fokus utama Kampung Proklim: perlindungan ekosistem sungai, zero waste, dan sistem pertanian ramah lingkungan.


Evi Lestari, narasumber sekaligus anggota Tim Pengarah Percepatan Pembangunan Daerah Jember, menilai Desa Suci memenuhi syarat sebagai model Kampung Proklim. “Potensinya kuat, dan pemerintah daerah mendukung penuh,” ujarnya.
Dukungan serupa disampaikan Prigi Arisandi dari ECOTON Foundation. Ia menegaskan bahwa sungai membutuhkan perlindungan ketat dari limbah sekali pakai seperti popok dan pembalut.
“Kawasan lindung sungai itu benteng ekologi. PP 22/2021 juga mewajibkan area sungai bebas sampah. Zero waste itu harga mati,” tegasnya.
Karena sebagian besar warga bekerja di sektor pertanian, penerapan pertanian berkelanjutan menjadi pilar ketiga Kampung Proklim. Ihsannudin, inisiator program desa binaan, menyebut petani setempat mulai mengolah limbah pertanian dengan metode Bata Bolong sebagai bagian dari upaya tersebut.
Kesepakatan warga pascalokakarya juga menetapkan zona konservasi sungai sepanjang 200 meter dari titik mata air. Sebagai simbol komitmen pelestarian, peserta menebar bibit ikan wader—spesies endemik yang keberadaannya menjadi indikator kualitas sungai.
Lewat model ini, Desa Suci menargetkan keseimbangan antara peningkatan ekonomi warga dan pelestarian ekologi yang berlangsung secara berkelanjutan. (dsm/why)



Share to
 (lp).jpg)