Sunyi Nyepi, Hangatnya Takbir: Kisah Toleransi yang Tumbuh di Jember

Dwi Sugesti Megamuslimah
Dwi Sugesti Megamuslimah

Thursday, 19 Mar 2026 17:13 WIB

Sunyi Nyepi, Hangatnya Takbir: Kisah Toleransi yang Tumbuh di Jember

SESUCI: Masyarakat umat Hindu di Jember yang hendak melaksanalan sesuci laut beberapa waktu lalu.

JEMBER, TADATODAYS.COM - Tahun ini, kalender keagamaan menghadirkan lanskap yang tak lazim. Hari Suci Nyepi yang identik dengan keheningan dan perenungan hadir nyaris bersisian dengan Idul Fitri yang sarat gema takbir dan perayaan kemenangan. Dua suasana yang seolah bertolak belakang itu, justru menyatu dalam harmoni yang terjaga di tengah masyarakat Jember.

Pagi itu, suasana di sejumlah pura di Jember terasa lebih hening dari biasanya. Tak ada hiruk-pikuk persiapan besar yang mencolok. Namun di balik kesunyian itu, ada makna yang lebih dalam: umat Hindu bersiap menyambut Hari Suci Nyepi. Sebuah momentum spiritual yang tahun ini berdekatan dengan gema takbir Idul Fitri.

Bagi Jro Gede I Nengah Sukarya, tokoh Parisada Hindu Dharma Kabupaten Jember, pertemuan dua momen besar ini bukan sekadar kebetulan kalender. Ia adalah cermin wajah Indonesia yang santun dan saling menghormati.

“Yang benar adalah Hari Suci Nyepi. Selama 24 jam, umat Hindu melaksanakan Catur Brata Penyepian, mulai pukul 06.00 pagi hingga 06.00 keesokan harinya,” ujarnya.

Selama rentang waktu itu, umat Hindu menapaki perjalanan batin melalui empat pantangan utama. Amati karya, tidak bekerja dan menghentikan aktivitas fisik. Amati geni, tidak menyalakan api, termasuk memasak dan bahkan listrik pun dipadamkan. Amati lelungan, tidak bepergian. Dan amati lelanguan, tidak menikmati hiburan.

Jro gede Drs I Nengah Sukarya, Ketua Pinandita Kabupaten Jember.

Di situlah, kata Sukarya, esensi Nyepi menemukan bentuknya: sunyi yang bukan sekadar tanpa suara, tetapi ruang untuk menata ulang kesadaran. “Ini adalah perenungan tentang hakikat hidup, menetralkan nafsu angkara, menuju kesadaran ilahi,” tuturnya.

Namun tahun ini, kesunyian Nyepi berjalan berdampingan dengan gegap gempita takbir. Di banyak tempat, gema takbir malam Idul Fitri tetap terdengar. Tapi bukan berarti keduanya saling bertabrakan.

Justru sebaliknya, di Jember, harmoni itu terasa nyata.

Di wilayah seperti Umbulsari, Sukoreno, hingga Patrang, hubungan antarumat beragama telah terjalin erat. Bahkan, dalam perayaan Nyepi, umat non-Hindu ikut mengambil peran penting.

Sukarya menceritakan bagaimana anggota Banser kerap berjaga di sekitar pura untuk memastikan suasana tetap aman dan kondusif. Saat upacara di Pantai Paseban, misalnya, sesajen yang ditata umat Hindu dijaga bersama oleh warga Muslim.

“Ini bentuk kerukunan yang nyata. Kami pernah bertemu langsung dengan mereka saat berjaga di pantai. Sangat menyentuh,” katanya.

Tak hanya itu, saat pawai ogoh-ogoh menjelang Nyepi di Sukoreno, masyarakat lintas agama turut ambil bagian. Ada yang membantu mengatur lalu lintas, ada pula yang mengelola parkir. Pemerintah kecamatan hingga dinas pariwisata ikut hadir dan mendukung.

Di tengah keberagaman itu, umat Hindu tetap menjalankan Nyepi dengan khusyuk. Jalanan lengang, aktivitas berhenti, dan malam benar-benar gelap tanpa cahaya listrik. Sebuah pengalaman spiritual yang jarang ditemui di hari-hari biasa.

Menariknya, situasi serupa juga terjadi di Bali. Meski takbiran tetap berlangsung, umat Muslim di sana memilih melakukannya tanpa pengeras suara, bahkan cukup dari rumah masing-masing sebagai bentuk penghormatan. “Suasana Nyepi tetap sunyi, ening. Jalanan sepi seperti dunia ikut berpuasa,” ujar Sukarya.

Setelah 24 jam berlalu, umat Hindu merayakan Ngembak Geni pada 20 Maret 2026. Hari itu menjadi momen syukur sekaligus membuka kembali hubungan sosial. Umat saling mengunjungi, bersilaturahmi, dan memaafkan.

Di Pura Agung Amerta Asri, Patrang, suasana Ngembak Geni bahkan berubah menjadi ruang perjumpaan lintas iman. Umat Muslim, Kristen, Katolik, dan Hindu berkumpul di balai paseban, saling memberi ucapan selamat dan berbagi kebahagiaan.

Di saat yang hampir bersamaan, umat Muslim juga merayakan Idul Fitri atau hari kemenangan setelah sebulan berpuasa. Dua perayaan, dua tradisi, satu pesan yang sama: menahan diri, membersihkan hati, dan saling memaafkan. “Tahun ini sangat pas. Umat Hindu dan Muslim bisa saling menghargai, menghormati, dan memaafkan,” kata Sukarya.

Di Jember, sunyi Nyepi dan gema takbir tak pernah benar-benar berlawanan. Keduanya justru berjalan berdampingan, saling memberi ruang, dan menguatkan satu hal yang sering diuji yakni toleransi. (dsm/why)


Share to