Target 80 Persen Anak Pulih dari Stunting, RSUD Soebandi Gelontorkan Rp 1,8 M untuk Susu Balita

Dwi Sugesti Megamuslimah
Dwi Sugesti Megamuslimah

Friday, 13 Feb 2026 18:48 WIB

Target 80 Persen Anak Pulih dari Stunting, RSUD Soebandi Gelontorkan Rp 1,8 M untuk Susu Balita

Direktur RSUD dr Soebandi Jember dr I Nyoman Semita

JEMBER, TADATODAYS.COM- Upaya percepatan penanganan stunting mulai ditempuh dengan langkah agresif. RSUD dr Soebandi Jember mengalokasikan sekitar Rp 1,8 miliar khusus untuk pengadaan susu nutrisi balita dalam program intervensi stunting berbasis jemput bola di Kabupaten Jember.

Direktur RSUD dr Soebandi, dr I Nyoman Semita mengatakan program ini menargetkan 80 persen balita peserta bisa keluar dari kategori stunting dalam waktu tiga bulan intervensi. “Target kami dalam tiga bulan, 80 persen anak bisa kembali ke status normal. Sisanya sekitar 20 persen biasanya karena faktor medis bawaan seperti prematur atau kelainan bawaan,” ujarnya Jumat (13/2/2026). 

Program ini menyasar dua kecamatan, yakni Jombang dan Tanggul, dengan estimasi total sekitar 500 balita. Setiap anak mendapatkan 24 kaleng susu nutrisi selama masa program. Jika dihitung, kebutuhan susu saja mencapai sekitar Rp 1,8 miliar. Angka tersebut belum termasuk biaya transportasi tim medis, operasional lapangan, hingga kebutuhan pendampingan keluarga.

Menurut dr Nyoman, pendekatan ini dipilih karena banyak keluarga kesulitan mengakses layanan rumah sakit. “Kalau harus datang ke rumah sakit, orang tua harus antre lama, keluar biaya transport, belum lagi anak rewel. Itu yang kami potong dengan turun langsung ke wilayah,” sambungnya. 

Lebih lanjut, dr Nyoman juga menjelaskan bahwa program ini telah berjalan sekitar satu setengah bulan. Dari evaluasi awal, perubahan fisik balita mulai terlihat. Rata-rata berat badan anak naik sekitar 1 kilogram, sementara tinggi badan meningkat 1,5 hingga 2 centimeter.

Hasil tersebut membuat manajemen rumah sakit optimistis target tiga bulan bisa tercapai jika kepatuhan konsumsi nutrisi tetap terjaga. Meski intervensi berjalan, tantangan utama justru muncul dari faktor sosial. Stigma stunting masih membuat sebagian orang tua enggan anaknya masuk program. Selain itu, di lapangan masih ditemukan bantuan susu yang tidak dikonsumsi secara rutin.

Untuk mengatasi hal ini, rumah sakit melibatkan bidan desa, kader kesehatan, perangkat RT/RW hingga Babinsa untuk memantau konsumsi nutrisi. “Kalau susunya tidak diminum ya percuma. Makanya pengawasan sampai level bawah,” ujar dr Nyoman.

Dalam pelaksanaannya, tim lapangan juga mengumpulkan data terkait tuberkulosis (TBC). Langkah ini dilakukan karena tingginya kasus TBC di Jember. Data tersebut rencananya akan dikaji secara ilmiah sebagai dasar rekomendasi kebijakan kesehatan daerah.

Program dilakukan per siklus tiga bulan per kecamatan. Setelah dua wilayah awal selesai, kata dia, intervensi direncanakan berlanjut ke kecamatan lain.

Adapun, tim yang diterjunkan terdiri dari dokter, dokter muda, perawat, bidan, hingga dukungan organisasi internal rumah sakit. "Langkah ini kami harapkan menjadi model baru penanganan stunting daerah dari pendekatan pasif menjadi layanan kesehatan proaktif berbasis wilayah," katanya. (dsm/why)


Share to