Andi Saputra


Wartawan Tadatodays.com | 2020-07-28 11:31:28

Terinspirasi Stephen Hawking, Disabilitas Tunadaksa di Jember Ikut UTBK

MOTIVASI TINGGI: Muhammad Hijriyatul Ihcsan serius mengikuti UTBK yang digelar Unej. Ia bercita-cita menjadi ilmuwan di bidang teknologi.

JEMBER, TADATODAYS.COM - Terinspirasi Stephen Hawking, Muhammad Hijriyatul Ihcsan, seorang penyandang disabilitas tudaksa bertekad menjadi ilmuwan di bidang teknologi informasi. Karenanya, ia memilih prodi Informatika Universitas Jember (Unej) sebagai pilihan pertama saat menjalani Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK).

UTBK yang dilaksanakan, Senin (27/7/2020), menjadi momen penting bagi Ichsan untuk bisa berprestasi di masa yang akan datang. Seperti halnya Stephen Hawking yang berhasil menjadi ilmuwan hingga usia 76 tahun meski mengidap Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS).

Baca Juga : Status Bakal Berubah Jadi BLU, Ini Pesan Rektor Unej pada Pelantikan Pejabat Baru

"Stephen Hawking salah satu tokoh yang telah menginspirasi saya. Walaupun dia seorang disabilitas, namun memiliki pemikiran yang sangat cemerlang. Saya sering membaca kisahnya untuk memantabkan tekad saya menjadi seorang ilmuwan,” ujar Ihcsan.

Baca Juga : Penyandang Disabilitas di Jember Ikuti Kompetisi Barista

Sementara itu, untuk mengikuti UTBK tahun ini, dirinya mengaku telah mempersiapkan diri jauh-jauh hari. Selama duduk di bangku kelas XII, Ihcsan terus belajar mengasah kemampuan dengan latihan soal. Teman yang baik, sebut Ihcsan, turut memotivasinya dalam mengejar impianya.

“Beruntung teman-teman saya baik-baik dan dengan sukarela membantu semua kesulitan yang saya hadapi di sekolah. Termasuk dalam hal belajar,” jelasnya. Alumnus SMA 1 Pakusari Jember itu berkeinginan untuk bisa menciptakan aplikasi atau alat yang memudahkan para difabel dalam beraktivitas.

Maka, dengan persiapan yang matang Ihcsan berharap dapat lolos dan diterima

di Prodi Informatika Unej. “Saya menyukai dunia computer dan ingin sekali menguasai bahasa pemrograman. Karena saya pikir dengan kecerdasan buatan, penyandang difabel akan terbantu dan dapat mengurangi ketergantungan pada orang lain,” jelasnya.      Museifah, ibu Ihcsan mengaku bangga pada anak semata wayangnya. Sebagai orangtua satu-satunya, Museifah selalu menemani aktivitas Ihcsan dan mendukung cita-citanya. “Saya selalu memberikan motivasi padanya agar tetap bersemangat untuk meraih impian yang dicita-citakannya,” katanya.

Ichsan selalu diingatkan agar tidak merasa malu dengan kondisi tubuhnya dan jangan sampai kalah pada yang lain. Karena itu, Museifah selalu membagi waktu bersama Ihcsan di tengah pekerjaannya menjadi tukang kahit.

“Pagi saya antar ke sekolah dan saya titipkan ke teman-temannya. Kemudian saya melanjutkan aktifitas bekerja untuk biaya pendidikan Ihcsan. Kami berdoa semoga dia bisa masuk di Universitas Jember, agar apa yang dia cita-citakan bisa tercapai,” ujarnya. (as/sp)