Tiga Salib di Paleran, Cerita Toleransi yang Terjaga di Tengah Perbedaan

Dwi Sugesti Megamuslimah
Thursday, 19 Mar 2026 09:11 WIB

SALIB: Tiga simbol salib yang ada di GKJW Pepanthan Paleran, Jember.
JEMBER, TADATODAYS.COM - Di tengah momen hari raya yang kerap identik dengan perbedaan suasana, antara sunyi dan riuh, sebuah dusun kecil di utara Jember justru menyuguhkan cerita lain.
Di Dusun Paleran, Desa Cumedak, Kecamatan Sumberjambe, toleransi tidak hadir sebagai wacana. Ia hidup dalam keseharian warga.
Salah satu penandanya berdiri di halaman Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Pepanthan Paleran. Tiga salib berdiri berdampingan, tidak hanya sebagai simbol iman, tetapi juga sebagai jejak kebersamaan lintas keyakinan.
Dari luar, bangunan gereja itu tampak sederhana. Lebih menyerupai rumah warga, tanpa ornamen mencolok. Namun keberadaan tiga salib di pelataran menjadi pemandangan yang tak biasa.“Salib itu ajarannya saling mengasihi,” ujar salah satu majelis gereja Winarno.
Ia menjelaskan, bentuk salib memiliki makna relasi. Garis mendatar melambangkan hubungan antar manusia, sementara garis tegak menunjukkan hubungan manusia dengan Tuhan.
Menurutnya, kedua hal itu tidak bisa dipisahkan. “Kalau hubungan dengan sesama belum baik, tidak mungkin hubungan dengan Tuhan itu baik,” katanya.
Tiga salib yang berdiri di halaman gereja tersebut merujuk pada kisah penyaliban di Bukit Golgota. Namun di Paleran, makna itu tidak berhenti pada nilai teologis.
Salib-salib itu dibangun bersama, termasuk oleh warga Muslim setempat. “Waktu mendirikan salib pertama, kami gotong royong dengan warga Muslim,” ungkap Winarno.

Kebersamaan itu bukan hal baru bagi warga Paleran. Saipul (52), warga Muslim setempat, menyebut hubungan antarumat beragama di dusun tersebut berjalan tanpa gesekan. “Selama saya di sini, tidak pernah ada konflik,” ujarnya.
Menurutnya, perbedaan justru menjadi ruang untuk saling membantu. Saat menjelang hari raya, warga saling terlibat dalam kegiatan bersih-bersih rumah ibadah.
Warga Kristen membantu membersihkan masjid. Sebaliknya, warga Muslim ikut bergotong royong saat gereja bersiap menyambut Natal. “Sudah biasa,” kata Saipul singkat.
Interaksi itu juga terlihat dalam kehidupan keluarga. Di Paleran, tidak sedikit keluarga besar yang terdiri dari anggota dengan latar belakang agama berbeda. Momen hari raya pun menjadi ajang silaturahmi bersama.
Saat Lebaran, warga Kristen datang berkunjung. Begitu pula saat Natal, warga Muslim turut bersilaturahmi ke rumah-rumah warga Kristiani.
Sekitar 45 kepala keluarga jemaat Kristen, atau lebih dari 100 jiwa, hidup berdampingan dengan warga Muslim di dusun tersebut.
GKJW Pepanthan Paleran, yang merupakan bagian dari GKJW Sumberpakem, berdiri di antara masjid dan musala. Di dusun kecil ini, toleransi tidak perlu diperdebatkan. Ia sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga, setenang tiga salib yang berdiri di halaman gereja. (dsm/why)


Share to
 (lp).jpg)