Warga Kota Pasuruan Membangun Integrated Farming, Ikhtiar Mendekatkan Sumber Pangan Keluarga di Perkotaan

Amal Taufik
Amal Taufik

Monday, 16 Feb 2026 20:21 WIB

Warga Kota Pasuruan Membangun Integrated Farming, Ikhtiar Mendekatkan Sumber Pangan Keluarga di Perkotaan

Wahyu Iqsan Bangun Nusantoro

PASURUAN, TADATODAYS.COM - Di tengah harga bahan pokok yang kerap melonjak dan pasokan yang tak selalu stabil, Wahyu Iqsan Bangun Nusantoro (33), warga Kelurahan Petahunan, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan, mencoba mendekatkan sumber pangan dari pekarangan rumahnya.

Ia membangun sistem pangan mandiri: menanam sayur hidroponik, memelihara ayam dan mentok, serta membudidayakan ikan. "Semua berawal tahun 2019. Waktu itu saya bantu teman lulusan pertanian cari pekerjaan," ujarnya saat ditemui, Senin (16/2/2026).

Di pekarangan rumah yang luasnya 8X10 meter, empat meja instalasi hidroponik berdiri berjajar. Total ada sekitar 800 lubang tanam yang tertata rapi di atas pipa-pipa paralon.

Ia menjelaskan, bertani di perkotaan memang berbeda dengan di pedesaan. Dari sisi lahan, jelas lebih sulit. Tanah semakin sempit dan mahal. Namun justru di situlah keunggulan hidroponik. “Di kota itu lahannya terbatas. Tapi dengan sistem hidroponik, ruang sempit pun bisa dimanfaatkan. Atap rumah, lantai atas, bahkan di atas genteng bisa dipakai. Karena kita tidak butuh tanah,” ujarnya.

Menurutnya, banyak orang masih membayangkan bertani harus selalu identik dengan sawah atau kebun luas. Padahal teknologi sederhana seperti hidroponik memungkinkan produksi sayur tetap berjalan meski tanpa sebidang tanah pun.

Yang paling ia tekankan adalah kontrol. Dalam sistem hidroponik, nutrisi yang diberikan bisa diatur dengan presisi. Tidak seperti menanam di tanah, di mana pupuk yang disiram belum tentu terserap seluruhnya oleh tanaman. “Kalau di tanah, mungkin cuma 50 persen yang terserap. Di hidroponik hampir semuanya masuk ke tanaman,” katanya.

Air pun menjadi faktor penting. Ia menyebut air dengan PPM rendah justru sangat ideal untuk hidroponik karena nutrisinya bisa dikontrol dari awal. Di wilayah perkotaan, kualitas air memang sering diperdebatkan karena potensi tercemar limbah rumah tangga.

Namun menurutnya, selama bukan limbah industri berbahaya, air masih bisa dimanfaatkan untuk tanaman. “Kalau limbah pabrik jelas bahaya. Tapi limbah rumah tangga biasanya masih bisa terurai. Tanaman itu beda dengan manusia,” jelasnya.

PANEN KANGKUNG: Wahyu saat memanen kangkung hasil budidaya.

Membangun Integrated Farming

Tidak hanya sayur, Wahyu juga memelihara ayam. Ia mengaku tidak terlalu menghitung secara rinci hitung-hitungan ekonominya, tetapi, jika dihitung untuk kebutuhan telur keluarga, ia merasa tercukupi. "Dalam satu siklus itu bisa menghasilkan 20 butir per bulan,” katanya.

Apa yang dibangun Wahyu sebenarnya bukan sekadar kebun hidroponik, kandang ayam, dan kolam ikan. Ia membangun sebuah sistem yang saling terhubung—sebuah integrated farming atau pertanian terpadu dalam skala pekarangan.

Empat meja hidroponik ditata untuk rotasi tanam. Dua minggu di meja semai, satu minggu di meja remaja, satu minggu di meja dewasa. Dengan pola itu, panen bisa dilakukan hampir setiap minggu.

Saat ini setidaknya ada 4 jenis tanaman yang dia budidayakan dengan sistem hidroponik, yakni sawi daging atau pakcoy, kangkung, selada kriting, green romaine. "Yang paling gampang kangkung. Kangkung bahkan bisa dipetik dalam 18 hari," katanya.

Untuk ayam, Wahyu memiliki 5 betina, 1 pejantan. Tiap bulan 1 ekor bisa menghasilkan 20 butir telur. Selain ayam, ada juga mentok. Ia punya 1 jantan dan 3 betina. "Ya kemarin waktu tahun baru saya 'korbankan' 1 untuk makan bareng-bareng," ujar Wahyu.

Yang menarik, ia tidak mengandalkan pakan instan. Sampah rumah tangga dimanfaatkan sebagai pakan ayam. Sisa sayuran, nasi, bahkan bahan dapur seperti jahe atau bawang yang tidak terpakai, ia olah kembali.

Baginya, ketahanan pangan bukan hanya soal menanam dan memelihara ternak, tetapi juga mengelola siklus. Hampir tidak ada yang terbuang. Air cucian beras bisa menjadi pupuk. Cangkang telur dihaluskan untuk tambahan kalsium ternaknya. Limbah dapur diolah kembali. "Di kebun ini, tidak ada yang benar-benar terbuang,” ujarnya.

Wahyu membeberkan bahwa membangun kebun di rumah tidak harus mahal. Tidak ada batas minimal jumlah pipa atau meja instalasi. Bahkan satu pipa pun bisa menjadi awal. Ada sistem NFT dengan pompa air mengalir, ada semi-NFT, hingga sistem paling sederhana menggunakan botol bekas tanpa pompa. “Yang penting mau mulai. Tidak harus menunggu lahan luas atau modal besar,” katanya.

ia menekankan satu hal yang menurutnya paling penting: kendali atas apa yang dikonsumsi. “Nilai plus-nya itu di situ. Kita bisa makan telur, makan sayur dari yang kita kelola sendiri. Kita tahu apa yang masuk ke tubuh kita,” ujarnya.

Baginya, ketahanan pangan bukan sekadar soal jumlah produksi, tetapi tentang kontrol. Ia tahu bagaimana ayamnya diberi makan, bagaimana sayurnya dipupuk, dan apa saja yang digunakan dalam prosesnya. “Kalau kita kelola sendiri, kita bisa mengontrol. Itu yang tidak bisa dibeli,” katanya.

TERNAK: Ayam kampung yang dimiliki Wahyu. Tiap bulan setidaknya satu ekor bisa menghasilkan 20 butir telur.

Sumber Pangan di Perkotaan

Dosen Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Kampus Kota Kediri, Dewi Ratih Rizki Damaiyanti, menilai sistem pertanian terpadu atau integrated farming sangat relevan untuk lahan sempit di perkotaan—baik di pekarangan rumah, gang sempit, hingga area terbatas seperti bantaran rel.

“Integrated farming sangat memungkinkan diterapkan di pertanian perkotaan. Kuncinya terletak pada perencanaan ruang dan desain sistem. Tanaman, ternak, dan ikan harus ditata agar masing-masing mendapat kondisi lingkungan yang optimal," ujar Dewi.

Tanaman, misalnya, harus memperoleh cahaya cukup dan tidak berada di area terlalu lembab. Akses air harus mudah. Nutrisi bisa bersumber dari larutan khusus maupun dari daur ulang limbah rumah tangga yang dikelola dengan baik. Artinya, keterbatasan lahan bukan penghalang utama, selama tata kelolanya tepat.

Dalam konteks yang lebih luas, Dewi menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak hanya soal produksi. Ia mencakup tiga aspek utama: ketersediaan (availability), keterjangkauan akses baik secara fisik maupun harga (accessibility), serta stabilitas harga (stability). Ketiganya saling berkaitan.

Konsep pertanian perkotaan terpadu, menurutnya, menjadi salah satu cara mendekatkan masyarakat dengan sumber pangan yang berkualitas, sehat, dan berkelanjutan. Ketika sumber pangan berada lebih dekat dengan rumah tangga, ketergantungan terhadap distribusi panjang dan gejolak pasar dapat ditekan.

Kerentanan keluarga perkotaan terhadap fluktuasi harga pangan saat ini, kata Dewi, tergolong cukup tinggi. Sebagian besar kebutuhan pangan dibeli di pasar, bukan diproduksi sendiri.

"Secara umum, rumah tangga perkotaan mengalokasikan sekitar 30 hingga 60 persen dari total pengeluaran bulanan untuk pangan, terutama untuk komoditas seperti sayur, telur, dan ikan yang harganya relatif fluktuatif," kata Dewi.

Kenaikan harga sebesar 20 hingga 40 persen saja sudah berdampak signifikan terhadap pengeluaran keluarga. Gangguan distribusi, perubahan cuaca, inflasi, hingga faktor musim bisa memicu lonjakan tersebut. Dalam kondisi seperti itu, keluarga yang sepenuhnya bergantung pada pasar menjadi kelompok paling rentan.

Di sinilah, menurut Dewi, pertanian perkotaan terpadu menjadi alternatif produksi pangan mandiri yang rasional. Secara ekonomi, sistem hidroponik skala kecil dapat memenuhi kebutuhan sayur keluarga selama satu bulan. Ternak ayam petelur dapat menyediakan kebutuhan telur harian. Budidaya ikan menjadi sumber protein tambahan secara berkala.

Kombinasi ini tidak hanya membantu efisiensi anggaran rumah tangga, tetapi juga meningkatkan variasi dan kualitas konsumsi gizi keluarga. "Produksi mandiri memang tidak selalu menggantikan seluruh kebutuhan pangan, tetapi ia mampu menekan pengeluaran secara nyata dan mengurangi risiko saat harga pasar melonjak," tutur Dewi. (pik/why)


Share to