Andi Saputra


Wartawan Tadatodays.com | 2021-07-18 16:34:29

Wayang Kulit Berkelas dari Desa Dukuh Dempok

DALANG DAN PENGRAJIN: Heppy Firman Andika, dalang muda sekaligus pengrajin wayang kulit dari Desa Dukuh Dempok.

Kabupaten Jember memang bukan buminya kesenian wayang kulit. Tetapi itu bukan berarti wayang kulit tidak punya penggemar di Jember.  Masyarakat Jember sisi selatan, sebut saja di Kecamatan Wuluhan, banyak yang merupakan penggemar wayang kulit. Desa Dukuh Dempok di Kecamatan Wuluhan bahkan layak dijuluki “desa wayang kulit.” Sebab, dari Desa Dukuh Dempok, lahir produk wayang kulit berkelas yang mampu menembus pasar nasional, bahkan luar negeri.  

DESA  Dukuh Dempok di Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember, tidak boleh hanya dikenal sebagai desa yang warganya banyak menjadi buruh migran. Sebagian warga Desa Dukuh Dempok juga memiliki minat tinggi pada seni wayang kulit.  Selain menjadi penikmat pagelaran wayang kulit, Desa Dukuh Dempok juga memiliki dalang wayang kulit, pengrajin wayang kulit, bahkan pengrajin wayang kulit yang juga seorang dalang.

Baca Juga : Wayang Kulit Berkelas dari Desa Dukuh Dempok Jember

Berdasar penelusuran Tadatodays.com, di Kecamatan Wuluhan ada 6 orang pengrajin wayang kulit. Dari enam orang itu, tiga orang di antaranya tinggal di Desa Dukuh Dempok. Salah satunya adalah Heppy Firman Andika.  Selain menjadi pengrajin wayang kulit, pria 30 tahun ini juga seorang dalang. Bagi Heppy, kerajinan wayang kulit sudah menjadi penyanggah utama perekonomian keluarganya.

Baca Juga : Batik Labako, Batik Tulis Khas Jember asal Desa Sumberpakem

Saat ditemui Tadatodays.com pada Sabtu (3/7/21), Heppy menceritakan awal mula kesenangannya pada wayang kulit. Menurutnya, mula-mula ia dikenalkan pada seni wayang kulit oleh bapaknya. Di masa kecilnya, Heppy kerap diajak bapaknya nonton pementasan wayang kulit di daerahnya. Wayang kulit disebutkan memang  kerap dipentaskan di acara-acara hajatan masyarakat Kecamatan Wuluhan.    

Kesenangan Heppy pada wayang kulit semakin kuat, karena ternyata bapaknya pintar membuat wayang. Tetapi wayang bikinan bapaknya itu menggunakan bahan kertas. Nah, sejak masih TK, Heppy sudah belajar membuat wayang kertas. “Sama persis dengan wayang kulit begini, bedanya hanya bahannya dari kertas,” kata pria bertubuh subur itu. 

BERKELAS: Wayang kulit berkelas bikinan Gubuk Wayang di Desa Dukuh Dempok.

Kesenangan Heppy membuat wayang berlanjut sampai ia tumbuh dewasa. Pada 2010, Heppy mulai serius menjadikan usaha pembuatan wayang kulit sebagai pekerjaan utamanya. Lalu pada tahun 2012, Heppy mulai belajar menjadi seorang dalang. Ia belajar kepada Yani, seorang dalang asal Desa Tanjungrejo, Kecamatan Wuluhan. “Memang sengaja belajar mendalang di Pak Yani. Itu guru saya,” katanya.

Sebuah rumah kecil di belakang rumah induk yang ditinggali keluarga Heppy di Desa Dukuh Dempok, dijadikan  tempat produksi wayang kulit. Di rumah tersebut, Heppy membuat wayang kulit dengan brand “Gubuk Wayang.” Dari 100-200 karakter wayang yang paling banyak digunakan dalam pementasan, Heppy mampu membuat semuanya.

Semua tahapan pembuatan wayang kulit pun dilakukan sendiri oleh Heppy. Dari proses melukis sketsa tokoh, memotong dan menipiskan kulit, memotong kulit sesuai pola tokoh, pemahatan, hingga proses sungging atau pewarnaan.

Untuk pembuatan wayang kulit ini Heppy menggunakan kulit sapi atau kulit kerbau. Itu dilakukan Heppy untuk semua karakter atau tokoh wayang. “Soal bahan baku, tidak pernah ada masalah. Semua tersedia, melimpah,” katanya.

Di Gubuk Wayang miliknya, Heppy setiap hari berproduksi. Ia tidak hanya membuat wayang kulit untuk memenuhi pesanan, tetapi juga untuk stocking atau persediaan.

Wayang kulit memiliki dua jenis, yaitu klasik dan kreasi. Wayang kulit kreasi dibedakan dari pakaian dan warnanya. Nah, Heppy mampu membuat kedua jenis tersebut. Wayang kulit klasik maupun kreasi bikinan Heppy sama-sama berkualitas tinggi. Pahatannya sangat detail dan halus. Heppy menyebut wayang kulit bikinannya cenderung mengikuti karakter Surakarta, karena lebih menarik.

Soal pemasaran, Heppy mengandalkan sosial media. Untuk menawarkan wayang bikinannya, Heppy memiliki akun facebook, dan mengikuti grup wayang kulit di facebook. Nah, bapak muda yang sedang menanti kelahiran anak keduanya itu menyebut wayang bikinannya paling banyak laku melalui facebook. “Sembilan puluh persen lakunya ya melalui facebook,” kata dalang berewokan itu.

Tentang pembeli wayang kulit, menurut Heppy, bisa dibagi menjadi tiga golongan besar. Pertama, golongan dalang.  Kedua, golongan kolektor. Ketiga, golongan orang yang butuh wayang kulit untuk pembelajaran. Nah,  pembeli wayang kulit bikinan Heppy yang paling banyak adalah golongan dalang dan kolektor.  

Pelanggan Heppy adalah para dalang dari berbagai daerah, terutama Surakarta, Jogjakarta dan Surabaya.  “Dalang Bayu Aji, putranya dalang Ki Anom Suroto itu biasa pesan wayang kulit ke saya,” kata Heppy.

Untuk setiap satu karakter wayang kulit biasa dibikin heppy dalam waktu sedikitnya 10 hari. Lalu bila sudah jadi,  satu wayang kulit bikinan Heppy dilepas dengan harga terendah Rp 2 juta.

Selain itu, Heppy juga bisa memenuhi pesanan wayang kulit yang berlapis emas. Heppy sempat menunjukkan sebuah wayang kulit berlapis emas yang dia bikin untuk memenuhi pesanan seorang kolektor. Wayang kulit berlapis emas itu dia lepas dengan harga Rp 4 juta. “Pesanan kolektor. Ini belum diambil,” kata Heppy sambil menunjukkan wayang berlapis emas itu. 

Heppy menjadikan kerajinan wayang kulit sebagai pekerjaan utamanya. Tetapi tidak dengan aktivitasnya mendalang. “Kalau mendalang masih sebatas hobi,” kata dalang muda yang sebelum pandemi lalu cukup sering ditanggap di beberapa acara di wilayah Jember.  

JAGO PEMASARAN: Robby Haryo Danurwendo, memilih fokus menyediakan bahan, melakukan finishing, dan memasarkan wayang kulit melalui sosial media.

Dari Jember sampai Belanda

SELAIN Heppy, ada sosok Robby Haryo Danurwendo yang juga seorang pengrajin wayang kulit di Desa Dukuh  Dempok. Pria dengan rambut bercat warna emas itu sehari-harinya bekerja sebagai pemilik warung kopi, peternak hamster, sekaligus pengrajin wayang kulit. Tetapi dari tiga pekerjaan tersebut, Robby mengakui bahwa kerajinan wayang kulit memberinya penghasilan lebih besar.

Dalam usaha kerajinan wayang kulit, Robby melibatkan 4 orang pengrajin yang menjadi mitranya. Robby menyediakan bahan baku, lalu dikerjakan oleh 4 mitranya tersebut. Bila proses produksi wayang kulit sudah sampai pada tahap pewarnaan, baru dikirim ke Robby. “Jadi, saya fokus menyediakan bahan baku, kemudian proses pewarnaan sampai ke pemasaran,” ucap Robby saat menerima kunjungan Tadatodays.com, Sabtu (3/7/21).   

Robby bercerita, sejak kecil ia suka mengoleksi wayang. Lalu pada 2013 ia mengawali jualan wayang kulit lewat facebook. Rupanya kesenangan Robby pada wayang kulit terus berlanjut. Pada 2015-2016 ia memberanikan diri belajar secara otodidak membuat wayang kulit.  “Semuanya belajar sendiri,” katanya.

Produk wayang kulit bikinan Robby lebih banyak menyasar golongan kolektor, pemburu souvenir, dan orang-orang yang butuh wayang kulit untuk pembelajaran. “Kebanyakan anak-anak yang butuh untuk belajar wayang. Jadi karena harganya lebih hemat, tidak khawatir dipakai untuk belajar wayang,” terang Robby.

Setiap harinya Robby memproduksi wayang kulit berdasar pesanan maupun untuk persediaan. Produk wayang yang sengaja distok kemudian dipasarkan melalui sosial media facebook dan youtube. Melalui sosial medianya itu Robby selalu meng-up date koleksi wayang kulit yang sedang tersedia stoknya. “Pembeli saya paling banyak ya tahunya dari youtube. Jadi, youtube itu efektif,” kata Robby kemudian menghisap rokoknya.   

Di samping melalui sosial media, pengalaman Robby mengikuti banyak pameran membuat produk wayang kulit produksinya berhasil menembus pasar luar negeri. Menurutnya, wayang kulit produksinya sudah pernah terpasarkan kepada pembeli asal Korea Selatan, Jepang, bahkan Belanda. “Pembeli dari Korea Selatan itu seorang pengajar seni,” ucapnya. 

Sedangkan untuk pembeli dari tanah air, menurut Robby, sudah merata di hampir semua pulau. “Hampir di seluruh Indonesia. Kalau bulan Juni lalu paling banyak pembeli dari Jabotabek,” kata Robby.  

Keberadaan kerajinan wayang kulit yang ditekuni warga Desa Dukuh Dempok seperti Heppy dan Robby juga mendapat perhatian pemerintah desa setempat. Setiap tahun digelar festival desa di Desa Dukuh Dempok, selalu ada stan khusus yang memamerkan kerajinan wayang kulit.

Dari Desa Dukuh Dempok, Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember, wayang kulit berkualitas tinggi mampu dihasilkan. Maka, bila anda tergolong kolektor wayang kulit, atau butuh wayang kulit untuk koleksi, maupun untuk pembelajaran, datang saja ke Desa Dukuh Dempok. (as/why)