Di Jalanan Jember, Cerita Lesly dan 40 “Kartini” yang Menolak Menyerah

Dwi Sugesti Megamuslimah
Dwi Sugesti Megamuslimah

Thursday, 16 Apr 2026 22:41 WIB

Di Jalanan Jember, Cerita Lesly dan 40 “Kartini” yang Menolak Menyerah

GUBERNUR: Komunitas Kartini Ojol Perempuan Jember saat bertemu Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dan Bupati Jember Muhammad Fawait.

JEMBER, TADATODAYS.COM - Pagi belum benar-benar ramai ketika motor itu mulai melaju. Udara Jember masih menyisakan dingin tipis, tapi jalanan sudah bersiap dengan hiruk-pikuknya sendiri. Di antara deru kendaraan, seorang perempuan mengenakan jaket ojek online menyelip di sela-sela lalu lintas.

Ia tak hanya mengejar orderan, ia sedang menjaga dapur tetap menyala. Namanya Lesly Novitasari. Sudah hampir satu dekade ia hidup di jalanan. Bukan sebagai pelintas, tapi sebagai pengemudi. Sebagai ibu, sekaligus sebagai perempuan yang memilih untuk tidak menyerah pada keadaan.

“Awalnya saya nggak kepikiran sama sekali,” kata Lesly, mengingat tahun 2017, saat pertama kali bergabung sebagai driver ojek online di Jember.

Saat itu, ia satu-satunya perempuan di lingkar pergaulan komunitasnya. Mayoritas laki-laki. Ia dipanggil “Mbok Singo” sebuah sapaan yang terdengar akrab, tapi diam-diam menandai bahwa ia berbeda.

KOMUNITAS: Para anggota Komunitas Kartini Ojol Perempuan Jember saat menggelar santunan bersama anak yatim.

Namun dari situ, ia mulai melihat sesuatu yang lain. Jumlah driver perempuan perlahan bertambah. Tapi mereka tidak punya ruang, bahkan tidak punya tempat untuk sekadar bercerita. “Kalau sama laki-laki, kita kadang bingung. Mau curhat apa,” ujarnya.

Dari kegelisahan kecil itulah semuanya bermula. Lesly tidak membangun komunitas besar dalam semalam. Ia memulainya dari percakapan sederhana, dari kumpul-kumpul kecil, dari saling kenal yang perlahan tumbuh jadi rasa percaya.

Ide itu mulai muncul di bulan Maret 2022. Tapi ia menunggu. Menunggu waktu yang tepat. Menunggu jumlah yang cukup. Hingga akhirnya, 21 April 2022 dipilih sebagai titik awal. Hari Kartini. Tanggal yang bukan sekadar simbol, tapi juga harapan.

“Kami pengin seperti Kartini. Dulu perempuan mungkin di belakang. Sekarang kita bisa berimbang,” katanya.

KETUA: Ketua Komunitas Kartini Ojol Perempuan Jember Lesly Novitasari.

Sejak hari itu, lahirlah komunitas Kartini Ojol Perempuan Jember. Hari ini, jumlah mereka sekitar 40 orang. Di balik angka itu, tersimpan cerita yang nyaris seragam: tentang kebutuhan, tentang bertahan hidup, tentang perempuan yang tidak punya pilihan lain selain melangkah.

Sebagian anggota Kartini Ojol Perempuan Jember adalah ibu rumah tangga sementara sebagian yang lain adalah single mom. “Kebanyakan single mom,” kata Lesly pelan.

Kalimat itu menggantung sebentar, seperti memberi ruang pada kenyataan yang tidak perlu dijelaskan panjang lebar. Bagi mereka, menjadi driver bukan sekadar pekerjaan, melainkan sebuah jalan keluar.

Ada anak yang harus sekolah. Ada dapur yang harus tetap mengepul. Ada hidup yang tidak bisa menunggu. “Kalau nggak dua-duanya kerja, nggak cukup,” ujarnya.

Namun menjadi ojol bagi perempuan bukan hanya soal mencari uang. Ini soal menembus batas. Lesly masih ingat betul masa-masa awal itu. Cibiran datang tanpa diminta. “Perempuan kok ngojek,” begitu kira-kira suara yang sering ia dengar.

YATIM: Para anggota Komunitas Kartini Ojol Perempuan Jember saat menggelar santunan bersama anak yatim.

Tatapan meremehkan. Bisik-bisik. Bahkan pertanyaan yang terasa seperti sindiran. Tapi Lesly memilih satu hal: diam, lalu membuktikan. “Saya kerja buat anak-anak. Terserah orang mau ngomong apa,” katanya sambil tertawa.

Keputusan itu juga tidak mudah di rumah. Suaminya sempat menolak. Risiko di jalan terlalu besar, kekhawatiran itu nyata. Namun kondisi ekonomi tidak memberi banyak pilihan.

Proyek suaminya terhenti akibat dampak erupsi Gunung Agung di Bali. Pemasukan tersendat. “Aku bilang, kita butuh income setiap hari. Tabungan pasti habis,” kenangnya.

Pelan-pelan, restu itu datang. Dan sejak itu, Lesly tidak pernah benar-benar berhenti. Di jalanan, tidak semua hari terasa berat. Ada momen-momen kecil yang justru membuat semuanya terasa layak diperjuangkan.

Suatu hari, seorang penumpang terus bertanya sepanjang perjalanan. Tentang pekerjaannya. Tentang hidupnya. Lalu di akhir perjalanan, lelaki itu berkata sesuatu yang tidak ia lupakan sampai hari ini.

“Saya bangga, Mbak. Meskipun sampeyan bukan saudara saya," Lesly tersenyum setiap kali mengingatnya.

Kalimatnya cukup sederhana tapi cukup untuk membuat lelah terasa berkurang. “Kadang yang bikin semangat itu ya kata-kata seperti itu,” ujarnya.

Di dalam komunitas Kartini, solidaritas bukan sekadar jargon. Ia hidup dalam hal-hal kecil. Ketika ada anggota yang mengalami kecelakaan, yang lain datang. Ketika ban bocor di jalan, cukup kirim lokasi di grup maka bantuan akan segera menyusul.

Tak ada yang benar-benar sendiri. Mereka berbagi lebih dari sekadar informasi order atau lokasi ramai. Mereka berbagi hidup. Tentang anak, tentang rumah hingga tentang hari-hari yang tidak selalu mudah. “Kalau hujan deras, ya saling ngasih tahu. Intinya saling bantu,” kata Lesly.

Di luar jalanan, mereka juga punya cara sendiri untuk berbagi. Setiap tahun, komunitas ini menyantuni anak yatim. Awalnya hanya 10 anak. Bantuan sederhana hanya berupa alat tulis.

Mereka mengantarnya sendiri, dari rumah ke rumah. Di bawah terik matahari, tanpa banyak seremoni. “Door to door,” kata Lesly.

Tahun demi tahun, jumlah itu bertambah. Yang awalnya hanya 10 tumbuh menjadi 15 anak, 25 anak, Hingga kini 40 anak.

Mereka sengaja memilih anak-anak di luar panti asuhan yang mungkin luput dari perhatian. “Kalau di panti biasanya sudah ada donatur. Kita cari yang di lingkungan,” ujarnya.

Perjalanan itu tidak selalu mulus. Sering kali dana tidak cukup. Bahkan tak jarang Lesly harus menambal kekurangan dengan uang pribadi. Namun, entah bagaimana, bantuan selalu datang. “Tiba-tiba ada yang telepon, mau transfer,” katanya.

Belakangan, mereka mulai berkolaborasi dengan lembaga sosial seperti YDSF dan Nurul Hayat. Harapan mereka sederhana, yakni memberi lebih banyak, dengan cara yang lebih layak.

Tahun depan, mereka ingin mengajak anak-anak itu berbelanja langsung. Bukan hanya menerima, tapi juga merasakan.

Bagi Lesly, menjadi bagian dari komunitas ini bukan soal organisasi. Ini tentang cara bertahan. Tentang cara berdiri. Tentang cara melihat diri sendiri sebagai perempuan. Ia tidak ingin perempuan merasa lebih rendah. “Tidak ada perempuan di bawah laki-laki. Kita sama,” katanya tegas.

Kalimat itu tidak terdengar seperti slogan kosong. Ia lahir dari jalan panjang yang sudah dilalui. Dari panas jalanan. Dari hujan yang tak bisa dihindari. Dari cibiran yang pernah menyakitkan.

Di komunitas ini, mereka punya satu semboyan yang Sederhana tapi keras. “No manja-manja, terabas.”

Dan di jalanan Jember, kalimat itu bukan sekadar kata-kata. Ia adalah cara hidup bagi 40 "Kartini" yang memilih tak menyerah dengan sulitnya keadaan. (dsm/why)


Share to