Dinkes Kabupaten Probolinggo Sosialisasi Pendampingan Ibu Hamil Risiko Tinggi oleh Kader

Hilal Lahan Amrullah
Hilal Lahan Amrullah

Thursday, 13 Jun 2024 12:46 WIB

Dinkes Kabupaten Probolinggo Sosialisasi Pendampingan Ibu Hamil Risiko Tinggi oleh Kader

SOSIALISASI: Plt. Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo, Tutug Edi Utomo, berfoto bersama para peserta sosialisasi Pendampingan Ibu Hamil Resiko Tinggi oleh Kader Tahun 2024.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo sukses menggelar program pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan. Program tersebut dikemas dengan kegiatan Sosialisasi Pendampingan Ibu Hamil Risiko Tinggi (Bumil Resti) oleh Kader. Sosialisasi digelar Rabu (12/6/2024) di Ruang Pertemuan Tengger, Kantor Bupati Probolinggo Kraksaan, Kabupaten Probolinggo.

Kegiatan sosialisasi tersebut dibuka langsung oleh Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo Tutug Edi Utomo. Sedangkan narasumber pada kegiatan tersebut berasal dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. Sedikitnya 140 peserta hadir pada kegiatan tersebut. Mereka meliputi bidan koordinator, bidan desa, kader pendamping, dan TP PKK kecamatan. Metode sosialisasi meliputi paparan, tanya jawab dan diskusi.

Pelaksanaan kegiatan ini dilatarbelakangi keadaan masyarakat, terutama ibu hamil yang perlu mendapatkan informasi tentang deteksi dini risiko tinggi dan pengenalan tanda bahaya pada kehamilan, persalinan dan masa nifas. Selain itu, ibu hamil memerlukan persiapan yang matang untuk menghadapi proses kelahiran, baik berupa materi, kesiapan fisik dan mentalnya supaya bisa menentukan tempat kelahiran dan mengambil keputusan tindakan pertolongan yang tepat.

PENANDATANGAN: Plt. Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo, Tutug Edi Utomo menandatangani komitmen bersama pendampingan ibu hamil resti oleh kader Tahun 2024.

Supaya ibu hamil melahirkan dengan selamat, maka diperlukan sosok seorang yang paling dekat dengan masyarakat. Terutama yang mengerti dan memahami budaya sosial masyarakat, sehingga bisa memberikan informasi, bimbingan dan suport kepada ibu hamil dan keluarganya. "Sosok yang kita pilih adalah kader posyandu dengan menyebutnya sebagai Kader Pendamping Ibu Hamil Risiko Tinggi," terang Plt Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo, Tutug Edi Utomo.

Tujuan kegiatan pendampingan ibu hamil risiko tinggi oleh kader adalah agar ibu hamil dapat melahirkan dengan selamat dan bayi yang terlahir juga sehat dan selamat di fasilitas kesehatan yang tersedia. Pasalnya kondisi ibu hamil risiko tinggi di kabupaten Probolinggo masih cukup tinggi, yaitu 6.970 (38 ,40 persen).

"Kalau tidak dilakukan pengawasan yang efektif oleh orang terdekat, dalam ini kader, maka akan mengalami keterlambatan dalam mendapatkan pertolongan, yang dapat menyebabkan kematian ibu dan bayi," jelasnya

Turunnya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) dapat dicapai melalui dukungan dari Lintas Program, Lintas Sektor dengan melibatkan seluruh stakeholder dan mitra terkait. Baik di lingkungan pemerintah maupun swasta. Sehingga untuk penguatan pendampingan perlu di lakukan sosialisasi kegiatan Pendampingan Ibu Hamil Risiko oleh kader di Kabupaten Probolinggo.

Maksud kegiatan ini adalah adanya koordinasi dan komunikasi yang efektif dalam melakukan pendampingan ibu hamil risiko tinggi oleh kader. Sementara tujuan umum kegiatan Sosialisai Pendampingan Bumil Resti adalah meningkatkan kualitas pendampingan ibu hamil risiko tinggi.

Sedangkan tujuan khususnya petugas mampu menyiapkan kader pendamping. Berikutnya petugas kompeten dalam menentukan sasaran ibu hamil resti. Selanjutnya kader mampu melakukan pendampingan ibu hamil resti. Terakhir adanya koordinasi antara PKK, kader dan petugas kesehatan.

Puskesmas yang akan menjadi daerah lokus pendampingan meliputi Kotaanyar, Maron, Tiris, Banyuanyar, Tongas, Leces, Tegalsiwalan, Sumberasih, Krejengan, dan Bantaran. Pelaksanaannya yaitu satu ibu hamil resti didampingi 1 kader dalam waktu enam bulan.

Tutug membeberkan sejumlah alasan Kabupaten Probolinggo menjadi lokus pendampingan bumil resti. Pasalnya Kabupaten Probolinggo memiliki jumlah kematian ibu nomor 6 dan jumlah kematian bayi nomor tiga di Tahun 2023 di Jawa Timur.

Selanjutnya pada kesempatan tersebut dilakukan penandatanganan komitmen bersama terkait pemantauan bumil oleh para peserta sosialisasi. "Menjadi tugas kita bersama menjaga dan memantau ibu hamil bersama keluarga, suami, kader, petugas kesehatan, PKK dan semua masyarakat sehingga ibu hamil selamat, bayi yang dilahirkan pun sehat," harapnya. (*/hla/why)


Share to