Disdikbud Kota Probolinggo Gelar Seminar Nasional bersama IKA UM, Bahas Profesi Kolaboratif Guru

Alvi Warda
Alvi Warda

Sabtu, 29 Nov 2025 18:08 WIB

Disdikbud Kota Probolinggo Gelar Seminar Nasional bersama IKA UM, Bahas Profesi Kolaboratif Guru

SAMBUTAN: Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin saat memberikan sambutan.

Ruang Kolaborasi Melahirkan Inovasi

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Dinas Pendidikan dan Kebudayan (Disdikbud) Kota Probolinggo bersama Ikatan Alumni Mahasiswa (IKA) Universitas Negeri Malang se-Probolinggo, menggelar seminar nasional. Seminar yang digelar pada Sabtu (29/11/2025) pagi itu membahas profesi kolaboratif guru.

Seminar dengan tema "Recasting Teaching as a Colaborative Profession" atau membentuk kembali pengajaran sebagai profesi kolaboratif itu digelar di ruang Puri Manggala Bakti, kantor Wali Kota Probolinggo.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Guru Nasional 2025 yang digelar oleh Disdikbud Kota Probolinggo. Adapun peserta seminar adalah para IKA UM Probolinggo Raya yang berprofesi sebagai guru.

Ketua Panitia Seminar Nasional Rohman Hidayat membuka acara. Ia mengatakan tak hanya IKA UM yang ada di Probolinggo, dari Semarang, Salatiga dan Banyuwangi juga turut serta. "Seluruh peserta sekitar 500 orang. Acara ini juga terbuka untuk umum secara daring di youtube," katanya.

Rohman menyampaikan, seminar nasional ini dapat terlaksana berkat dukungan dari Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin dan Kepala Disdikbud Kota Probolinggo Dr Siti Romlah. "Keikutsertaan para hadirin sekalian juga menjadi bukti semangat juang profesi guru," katanya.

Selanjutnya, sambutan diberikan oleh Wali Kota dr Aminuddin. Ia mengatakan, dengan adanya seminar nasional kualitas guru di Kota Probolinggo ini dapat menjamin mutu pendidikan. "Acara ini sungguh bermanfaat ya. Semoga bisa mendukung generasi emas 2045 dengan kualitas pendidik yang bermutu," katanya.

BERSAMA: Wali Kota Probolinggo saat foto bersama peserta seminar nasional.

Aminuddin mengatakan, Pemkot Probolinggo sedang menarget indeks pembangunan manusia (IPM) di angka 80. "Saya melihat jika 500 guru ini memiliki visi yang sama, maka Indeks Pembangunan Manusia bisa tercapai berkat pendidikan juga," ucapnya.

Saat diwawancara, Wali Kota Aminuddin menjelaskan bahwa dengan tema yang diangkat bisa menjelaskan bagaiamaa profesi guru dalam menyampaikan ilmu pengetahuan.  "Kita bisa melihat bagaimana sebetulnya yang diajarkan dalam proses menyampaikan suatu ilmu penuh dengan kesabaran, pendekatan-pendekatan dan memang tidak semua murid itu keadaannya sama," ucapnya.

Kondisi murid harus menjadi perhatian tenaga pendidik. "Mereka (murid, red) berbeda-beda, ada yang tingkat ketajaman inteligennya tinggi, sedang dan rendah. Dengan proses itu memerlukan suatu proses yang panjang. Mudah-mudahan dengan seminar ini makin meningkat pemahaman tentang recasting suatu profesi guru dengan baik di Kota Probolinggo,"ujarnya.

Pada sesi materi, diisi oleh empat narasumber, yakni Prof. Dr. Muslihati sebagai Guru Besar Departemen Bimbingan Konseling UM; Kepala Disdikbud Kota Probolinggo Dr Siti Romlah; Dr. Haris Wibisono Setiawan sebagai Kepala Sekolah SMKN 1 Klabang Bondowoso; serta Dr. Adip Wahyudi sebagai Dosen Departemen Geografi UM.

Saat memaparkan materi, Dr Siti Romlah menyinggung soal kecerdasan intelijen artifisial (Ai), yang kini semakin marak. Hal ini menjadi perhatian orang tua serta tenaga pendidik.

"Sekarang sudah sangat mudah diakses oleh anak-anak kita. Kalau tidak diberi pendampingan, akan memberikan dampak negatif. Maka dari itu, bapak ibu, perlu sebuah kolaborasi. Kolaborasi itu tidak terbatas pada suatu peserta didik dengan peserta didik, tetapi juga termasuk di dalamnya kolaborasi antara guru-guru,"ujarnya.

Di Kota Probolinggo, perlu tercipta ruang kolaborasi untuk memaksimalkan pengajaran. "Agar mampu meningkatkan kualitas pembelajaran, kenapa tema ini diangkat, ternyata bapak ibu banyak guru-guru yang cenderung mengembangkan pengajaran secara individu. Namun setelah ada ruang kolaborasi, dampaknya tuh lebih dahsyat," kata Siti Romlah.

Ia menyebutkan jumlah guru di Kota Probolinggo sekitar 1946. Namun sampai 2025 ini, mereka telah menciptakan 2262 inovasi. "Semua inovasi itu hebat – hebat. Ini membuktikan bahwasannya menciptakan inovasi ini perlu kolaborasi. Ini tercipta setelah ada pelatihan mulai dari Kabid, Kepala Sekolah hingga guru," tuturnya.

Acara kemudian ditutup setelah penyampaian materi selesai. (*/alv/why)


Share to