Alvi Warda


Wartawan Tadatodays.com | 2022-07-20 17:26:05

Finalis Anvapro 2022; Gerpesh Jitu, Inovasi Mengolah Sampah Berbuah Berkah

BERKAH SAMPAH: Ibu-ibu RW 17 Kelurahan Kebonsari Kulon Kota Probolinggo berinovasi mengumpulkan sampah, lalu dijual. Hasil penjualan sampah digunakan untuk aktivitas sosial.

PROBOLINGGO, TADATODAYS.COM - Apa jadinya jika sampah satu RW sengaja dikumpulkan untuk dijual? Inilah yang terjadi di lingkungan RW 17 Kelurahan Kebonsari Kulon, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo. Ibu-ibu di lingkungan tersebut sengaja mengumpulkan sampah untuk kemudian dijual ke pengepul sampah. Lalu, uang hasil penjualan sampah itu disalurkan kepada yang membutuhkan.

Inovasi “Gerpesh Jitu” merupakan abreviasi dari Gerakan Peduli Sampah Siji Pitu. Sedangkan Siji Pitu merujuk ke RW Tujuh Belas. Inovator Gerpesh Jitu adalah Anggrianingsih yang sekaligus Ketua RT 3 RW 17.

Baca Juga : Bappeda Litbang Menggelar Puncak Anvapro 2022; Walikota: Yang Paling Penting dalam Berinovasi adalah Kemauan

Idenya itu berangkat dari banyaknya sampah plastik di lingkungan sekitarnya. Namun, tidak ada pemilahan sampah yang benar di setiap rumah. Kemudian Anggrianingsih berpikir untuk mengubah sampah itu menjadi sesuatu yang bernilai. Akhirnya terbentuklah gerpesh jitu. “Sampah itu disini banyak, kesadaran warga akan bahaya sampah juga minim,” katanya.

Baca Juga : Bappeda Litbang Gelar Puncak Anvapro 2022; Walikota: Yang Paling Penting dalam Berinovasi adalah Kemauan

Gerpesh Jitu berhasil masuk enam besar finalis Anvapro 2022, kategori  masyarakat umum. Tim juri Anvapro mengunjungi RW 17 pada Senin (18/7/2022). Terlihat, di salah satu rumah koordinator Gerpesh Jitu, ada setumpukan sampah yang sudah terbungkus dan siap untuk dijual pada pengepul.

Anggrianingsih menjelaskan, pengumpulan sampah ada di masing-masing RT dengan penanda banner. Atau bisa dengan jemput bola, yakni kader mengambil sampah di setiap rumah warga. Sampah yang terkumpul, kemudian dipilah sesuai dengan jenisnya. Kemudian kader akan memanggil pengepul sampah, atau datang sendiri ke lokasi pengepul. Selanjutnya, setiap RT membukukan hasil penjualan sampah. 

Uang dari hasil penjualan itu dikumpulkan. Kemudian ibu-ibu rw 17 akan mengadakan suatu acara atau kegiatan sosial, untuk menyalurkan uang dari hasil penjualan sampah. Seperti kegiatan yang sudah terealisasi adalah santunan anak yatim, sedekah pada kaum duafa dan lain sebagainya. “Alhamdulillah dampaknya bagus sekali, kami bersih dari sampah. Warga yang membutuhkan juga senang setiap kali kami mengadakan kegiatan bakti sosial,” ujarnya.

Kini, sampah justru bukan lagi menjadi permasalahan di RW17 Kebonsari Kulon. Namun menjadi berkah sebab tersalurkan dengan bermanfaat. “jadi, sedikit demi sedikit warga tidak lagi mengeluh soal sampah,” tutur Anggrianingsih. (alv/why)