Zainul Rifan


Wartawan Tadatodays.com | 2020-10-10 18:07:51

Mengunjungi UMKM Udeng Batik di Kabupaten Probolinggo, Selama Pandemi Hanya Produksi Sesuai Pesanan

SEBELUM PANDEMI: UMKM Udeng Batik saat mengikuti salah satu event di Kabupaten Probolinggo sebelum pandemi.

Semua sektor usaha terdampak pandemi Covid-19. Baik skala besar maupun skala kecil. Termasuk usaha di nidang fashion di Kabupaten Probolinggo. Salah satunya UMKM produsen udeng batik. Bagaimana cara mereka bertahan?

ZAINUR RIFAN, Wartawan Tadatodays.com

Baca Juga : KPU Anggarkan Rp 4 Miliar untuk Rapid Test 33 Ribu Anggota KPPS dan Linmas

PANDEMI yang belum usai, memukul sektor perekonomian di segala lapisan. Usaha besar tak sedikit yang melakukan pemutusan hubungan kerja. Tidak terkecuali Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Salah satunya yang memproduksi Udeng Batik, asal Desa Paiton, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo.

Baca Juga : Pandemi Covid-19, Haul KH. Abdul Hamid Pasuruan Digelar Terbatas

Tadatodays.com berkesempatan mendatangi tempat produksi udeng batik asli Paiton ini. Saat bertamu, kami disambut dengan baik dan hangat oleh tiga dari sembilan orang anggota kelompok yang mendirikan UMKM Udeng Batik ini. Termasuk Lailatul Rahma, selaku ketua kelompok.

Ia mulai bercerita bahwa Udeng Batik yang diproduksi kelompoknya, sebelum masa pandemi, sering mengikuti bazar. Sejak didirikan Maret 2019 ini sudah sering mengisi pameran di wilayah Kabupaten Probolinggo. Seperti acara hari jadi Kabupaten Probolinggo. Semua udeng yang dipakai oleh pejabat atau panitia pada even tersebut adalah buatan kelompoknya.

Bahkan produksinya ini sudah dikirim ke berbagai daerah di Pulau Jawa. Ia juga pernah mengirim ke luar Jawa, seperti Sulawesi, Papua dan Kalimantan. Penjualannya pun lancar. Namun hal itu tidak berlangsung terus menerus, sejak corona mulai masuk ke Indonesia, usahanya ini mulai melemah.

"Selama pandemi ini penjualan sulit, biasanya kalau even Hari Jadi Kabupaten Probolinggo itu, mesen ke kita udengnya. Tapi sekarang sudah tidak ada kegiatan sama sekali, jadi produksi menurun. Jangankan mau kirim ke luar Jawa, di Probolinggo sendiri sudah jarang sekali mas," terangnya pada Tadatodays.com

SESUAI PESANAN: Udeng batik yang dipakai Lailatur Rohmah (pertama dari kiri) dan kawan-kawannya kini diproduksi terbatas, hanya sesuai pesanan saja selama pandemi covid-19.

Selain pada even-even besar, produksi udeng batik yang ia kelola bersama 9 orang anggotanya ini dipasarkan di tempat-tempat wisata, kuliner, dan pusat oleh-oleh khas Probolinggo. Setiap minggu ia pasarkan di bazar murah yang di laksanakan oleh pengeelola wisata Pantai Bohay, Desa Binor, kecamatan setempat. Dari sinilah pembayaran gaji tiap anggotanya didapat. Saat itu omzet per bulannya berkisar antara Rp 5 juta sampai Rp 6 juta. Tetapi saat ini, usahanya sudah tidak lagi mampu membayar para anggotanya. Karena setiap bulannya hanya bisa memproduksi 3-5 udeng saja.

"Kami juga kerjasama ke perajin batik se-Kabupaten Probolinggo. Jadi kalau ada even batik kita yang buat udengnya. Selama pandemi, kita penjualan online dan hanya memproduksi kalau ada pemesan. Kalau tidak ada pesanan tidak buat mas," jelas wanita usia 32 tahun ini.

Harga untuk satu jenis udeng bervariasi tergantung model, bahan, ukuran dan tingkat kerumitannya. Saat ini ia patokan harga mulai dari Rp 50.000 - Rp 100.000 tiap satuan udengnya. Saat ini ia berharap UMKM-nya ini bisa mendapat bantuan dari dinas terkait. Baik bantuan berupa dana maupun bantuan pemasaran agar produksi terus berjalan.

"Saat ini teman-teman ada yang usaha jual kuliner sendiri mas. Ya kami harap ada bantuan dana dan juga pemasaran terhadap produksi kami ini. Kemarin sudah kami ajukan ke Dinas Koperasi Kabupaten Probolinggo, tapi masih belum ada respon," tutupnya dengan penuh harap. (zr/hvn)